Percayalah

Kalau masih tak percaya bahwa selalu, dan selalu, ada pijar yang menunggu di ujung lorong, lebih baik percayalah.

Kalau masih tak percaya bahwa Allah tak pernah tidur, tidak pernah. Bahwa Ia, dengan kuasa-Nya berjaga, melindungi, dan mengabulkan, lebih baik percayalah.

Kalau masih tak percaya banyak hal datang, teramat banyak, limpahan berkah, justru ketika kita mulai melepaskan, mengikhlaskan, lebih baik percayalah.

Kalau masih tak percaya bahwa hidup adalah guru terbaik dari pelajaran bahwa kesadaran dan rasa syukur atas apa-apa yang kita hadapi sekarang, saat ini, jauh lebih berharga ketimbang terseret pada masa lalu atau dihisap kecemasan atas masa depan, lebih baik percayalah.

Kalau masih tak percaya bahwa hati memiliki mekanismenya tersendiri untuk melarung apa-apa yang telah lewat dan bersiap menyambut yang sudah tiba tanpa dibayangi ketakutan atas apapun, lebih baik percayalah.

Kalau masih tak percaya bahwa ajakan untuk memulai perjalanan -satu kali seumur hidup, serupa membeli hanya tiket untuk pergi saja tanpa risau akan tiket kembali-, bisa diucapkan jelang tengah malam, dan kamu dipeluk keyakinan dan keinginan untuk saling menjaga, lebih baik percayalah.

Kalau masih tak percaya yang terbaik itu bisa jadi jatuh dari langit, serupa gerimis saat petang, begitu tiba-tiba, kasih yang baru, kemudian menggenggam tangan, mengusap punggung, mengecup kening, menyayangi dengan kasih yang lembut, dan tertawa terusmenerus sambil berkata: “kamu itu lucu banget sih”, lebih baik percayalah … Ya, lebih baik percayalah, sebab saya telah menjumpainya :)

-untuk kamu; terima kasih-

[Masih] Tentang Bahagia

You should never look for someone to complete you. A relationship consists of two whole individuals – Oprah Winfrey

Stasiun Serpong, lewat tengah malam. Saya berangkat dari Palmerah dengan kereta terakhir. Ini bukan kali pertama saya sampai di Serpong selarut itu. Sedikitnya ada empat kali dalam satu bulan saya harus ikut dalam tim yang memeriksa naskah sampai seluruh halaman koran dikirim ke percetakan. Ritual ini umumnya selesai pukul 11 malam.

Yang membuat malam itu berbeda adalah hujan turun dengan deras. Sangat. Dan stasiun gelap gulita. Pekat. Listrik mati. Dan saya ketakutan. Stasiun, lewat tengah malam, adalah stasiun yang lengang. Tambahkan itu dengan gelap dan gemuruh dari hujan yang berlomba jatuh di atap seng stasiun. Saya masih harus menaiki tangga, menyentuhkan tiket ke alat pembaca di pintu dorong, lalu turun dan mencari ojek langganan.

Tapi, stasiun sepi …

Dan saya dengan sedikit panik mengambil ponsel, mencari nomor laki-laki harum hutan, dan urung menekan tombol panggil saat kesadaran itu muncul. Duh, lebih baik saya tak lagi menghubunginya. Kalau tak salah, itu beberapa pekan setelah kami tak lagi bersama.

Saya akhirnya mencoba tenang. Berusaha. “Tenang, tenang Atta. Bismillah.”

Malam itu menjadi semakin panjang karena Pak Oma, pak ojek langganan tak bertugas. Di depan stasiun, tak ada ojek satupun. Saya harus berjalan sampai mulut gang, ke jalan raya. Di sana pasti ada ojek, di dekat palang perlintasan kereta, di dekat pasar. Dan hujan masih deras.

***

Tujuh tahun bersama laki-laki harum hutan membuat saya menggantungkan banyak hal padanya. Kecemasan adalah salah satunya. Kalau malam itu, kami masih bersama, saya pasti sudah menghubunginya, menahan butiran air mata yang sudah di ujung mata, menumpahkan ketakutan saya padanya. Berbicara tanpa bisa dipotong (kebiasaan buruk saya -ampun-).

Selain itu, saya juga menjadikannya curahan dari kekesalan. Iya. Bayangkan, apa kaitannya si laki-laki harum hutan dengan jalan raya yang rusak dan macet parah, tak jauh dari kompleks perumahan saya, selama beberapa pekan beberapa bulan lalu? Tak ada kan?. Tapi saya bisa meneleponnya untuk sambat yang, kata anak muda sekarang, enggak penting banget deh kak. Puk puk laki-laki harum hutan.

Dan saya mengerjakan yang seharusnya tak saya kerjakan; ya, saya menggantungkan kebahagiaan saya padanya. DUH. Tinggal di dua kota yang berbeda kadang membuat jadwal temu kami tak teratur. Dan ada loh perempuan yang setelah menerima kabar kalau kekasihnya tak pulang ke Jakarta karena satu dan lain hal atau waktu temu yang singkat saja, kemudian manyun. Sabtu rasa kelabu. Huhuhuhu. Ada.

Atau saya menjadwal ulang banyak hal yang mestinya bisa saya kerjakan sendiri karena saya ingininginingin melakukannya bersama-samanya. (mau ke reading room/ ah nanti saja tunggu kamu ya// mau ke depo bangunan, cari pernak pernik kamar mandi/ ah nanti bareng kamu saja ya// mau nonton film terbaru/ ah manalah asik kalau sendiri, puan tunggu tuan saja// ke pantai enak nih/ tapi nanti saja ya, kita cari libur berdua)

Saya lupa bahwa urusan kebahagiaan itu harus tuntas di diri sendiri dahulu. Kita sendiri yang harus mengupayakan kebahagiaan, untuk kita. Setelah ini selesai, urusan membahagiakan sekitar pasti jadi lebih mudah. Hubungan selayaknya diisi oleh dua orang yang utuh tanpa disibukkan dengan urusan siapa menggantungkan kebahagiaan pada siapa.

Dan kalau akhirnya laki-laki harum hutan lebih memilih berlabuh ke perempuan yang sangat jelita dan 10 atau 11 tahun lebih muda dari saya dan melepaskan saya dan meruntuhkan janji kami, ini juga harus dilihat sebagai upayanya untuk menjemput kebahagiaan. Toh, tiap-tiap dari kita sejatinya bertanggung jawab atas kehidupan kita sendiri, bukan orang lain. Jadi, dia juga tidak bertanggung jawab terhadap kebahagiaan saya. Bukan begitu? -sungguh paragraf yang rumit dibaca- :p

Saat ini yang penting memang adalah bagaimana saya menjadi utuh. Bahagia dengan apa yang saya punya. Berhitung atas apa-apa yang saya miliki, saat ini, bukan atas apa-apa yang saya mau atau tuju. Kebahagiaan yang bersumber dari diri sendiri akan menuntaskan pekerjaan rumah saya untuk tidak lagi menggantungkan kebahagiaan pada orang lain.

***

Sekarang, saya membawa senter kecil, setiap hari. Ada di dalam bag in bag di tas. Belum pernah saya gunakan karena listrik di Stasiun Serpong belum mati lagi. Dan semoga ketika dibutuhkan, senter kecil itu berfungsi dengan baik :)

Bahagia

saya bahagia :)
Alhamdulillah.

terima kasih untuk semua. saya tak bisa menulis lebih banyak lagi, selain terima kasih atas doa dan perhatian, yang disampaikan atau ditulis dalam diam. saya berterima kasih untuk semua. untuk komentar, pelukan, sapaan, panggilan telepon, surat elektronik, kicauan di Twitter, atau layanan pesan instan lainnya.

sekali lagi. terima kasih.

Dikuatkan, Menguatkan

?As time goes on, you’ll understand. What lasts, lasts; what doesn’t, doesn’t. Time solves most things. And what time can’t solve, you have to solve yourself.– Haruki Murakami, Dance Dance Dance

Kelintingan bambu itu masih tersangkut di bilah besi, tak jauh dari jendela, di dekat dapur. Saya membelinya pada perjalanan singkat ke Bali dua pekan lalu, untuk meliput. Di toko oleh-oleh besar dekat bandara. Di sela ketergesaan mengejar waktu lapor penerbangan, sore itu.

Sudah sejak dulu saya ingin memiliki kelintingan macam ini. Saya bahkan bisa membayangkan suara yang dihasilkan saat bambu-bambu itu bergoyang, digerakkan angin yang melewati daun-daun pohon Bintaro di halaman depan. Menenangkan dan menyenangkan.

Tapi kelintingan itu tak jua terpasang di langit-langit beranda depan. Tak bersuara karena angin tak menggoyangkan empat bilahnya. Saya ingat betul, saya sudah menitip pesan kepada Ma’e, ibu saya, untuk meminta tolong Pak Bowo, pekerja bangunan yang merapikan rumah tetangga, untuk memasangkannya. Apa Ma’e lupa?

“Biar saja di situ. Jangan dipasang dulu sekarang,” pinta Ma’e, beberapa hari lalu, saat saya menanyakan kembali kenapa kelintingan tetap berdiam di dekat dapur.

Klenengan sapi itu juga jangan dipasang ya,” ujarnya, lagi.

Ah ya, saya ingat. Lebaran lalu, saya meminta tolong teman yang mudik ke Boyolali untuk membelikan klenengan sapi yang rencananya dilekatkan di pintu pagar depan rumah. Saat pintu pagar didorong, klenengan akan berbunyi, memberi penanda bagi orang rumah. Sebelumnya, kami memakai klenengan dari Bukittinggi, yang akhirnya rusak dan perlu diganti. Tapi, sama seperti kelintingan bambu, klenengan anyar dari kuningan itu pun urung dipasang, teronggok saja di laci.

Saya tak bertanya kenapa, tapi Ma’e tahu saya perlu jawaban. Jadi, dia mengecilkan suaranya, dan berkata: “Bunyi-bunyian dari pagar yang didorong cuma ngingetin Ma’e sama …”.

Tak diselesaikannya kalimatnya. Tapi saya tahu. Kami jarang menerima tamu. Dan orang yang selama ini sering datang adalah laki-laki harum hutan, bekas kekasih hati saya. Selama tujuh tahun hubungan kami, kunjungannya menjadi yang dinanti bagi tak hanya saya, tapi juga ibu saya. -Ampun, tujuh tahun itu lama ya? :)-

“Suara kelintingan bambu juga saat ini bikin sedih. Dibungkus lagi aja dulu ya.”

Dan hati saya remuk. Pagi itu.

Saya tak perlu mengajari Ma’e tentang bagaimana dalamnya kesedihan karena kehilangan dan ditinggalkan. Bapak pergi saat ibu saya masih mengandung saya. Pergi mengejar kebahagiaannya tanpa menyertakan kami. Ma’e kemudian melahirkan saya, si bungsu, dan membesarkan saya dan kakak saya, sendiri.

Ma’e, pada usia senjanya, tentu jauh lebih paham dari saya tentang bagaimana mengatasi kesedihan. Jadi, semula saya kira dia akan jauh lebih mudah melewati ini. Dia akan menjadi yang pertama menguatkan saya. Tanpa perlu dikuatkan. Bukankah hidup telah membekalinya sedemikian banyak?.

Jadi, saya jarang sekali bertanya, bagaimana perasaannya setelah laki-laki harum hutan itu pergi dan dia mendapati kenyataan bahwa putrinya, kini, menjalani peran yang dulu dilakoninya, ditinggalkan (meski kadarnya jauh-jauh lebih ringan, saya tidak menikah, tidak memiliki satu putra, dan tidak sedang mengandung, saya memiliki pekerjaan yang baik dan teman-teman yang mendukung).

Karena saya tahu Ma’e jauh lebih kuat, saya lalu menghindari pembicaraan tentang bagaimana kami menata hati selepas prahara ini, atau apa yang harus kami lakukan agar kami bisa mengikhlaskan dan memaafkan.

Dan, ternyata saya salah. Ma’e, ibu saya yang saya cintai sepenuh jiwa -yang darinyalah kehidupan saya bermula, yang darinyalah saya berada di titik saya sekarang-, juga mengalami masa yang sulit.

Saya dapat menangkis kesedihan dengan bertemu sahabat, bekerja lebih larut, membaca aneka buku, mendengarkan musik, membuat janji temu dengan lebih banyak teman lama, merencanakan perjalanan. Tapi ruang gerak Ma’e terbatas. Pindah ke Serpong sama artinya dengan memisahkannya dari karibnya yang sedikit di Slipi, rumah lama kami. Dia tak dapat melakukan perjalanan untuk menyambangi yang sedikit itu sendirian. Dia bergantung pada saya atau kakak saya. Dan menghindari pembicaraan seputar laki-laki harum hutan sama artinya dengan menghabiskan kesempatan satu-satunya yang Ma’e miliki untuk membagi perasaannya.

Dan hati saya makin remuk. Pagi itu.

Kenyataan harus dihadapi. Jadi, pada sejumlah malam selepas bekerja dan sesampainya di rumah, saya akan bertanya, apa ada yang ingin Ma’e sampaikan. Bagaimana perasaan Ma’e hari ini. Apa Ma’e masih kerap berharap dia datang dan mendorong pintu pagar lalu tersenyum di beranda, di depan pintu rumah. (Bagian ini, ya, bagian si laki-laki harum hutan yang berdiri di beranda dan tersenyum, menurut Ma’e, adalah kepingan yang paling membuatnya bersedih).

Kita harus percaya bahwa waktu, hanya waktu, yang akan membawa kita keluar dari badai ini, ujar saya pada Ma’e. (Sebab tampaknya hanya kami, saya dan Ma’e, yang perlu waktu untuk melepas kesedihan dan berhenti mencari jawaban atas beragam pertanyaan. Jelas laki-laki harum hutan tak memerlukan waktu karena kurang dari sepekan setelah kami memutuskan tak lagi bersama, dia sudah bertukar rindu lewat kalimat-kalimat di ruang publik pada pasangan barunya, gadis manis yang usianya terpaut jauh dari saya. Duh. Era media sosial jelas menimbulkan tantangan yang berbeda untuk mengatasi kehilangan :p).

Kita harus percaya Ma’e. Seperti kita percaya bahwa kita akan bisa menyelesaikan yang waktu tak bisa selesaikan. Seperti kita percaya bahwa kita akan terus menguatkan dan dikuatkan. Seperti kita percaya bahwa kita akan baik-baik saja.

Dan kelintingan bambu itu kini terbungkus rapi di dalam plastik. Masuk ke dalam laci. Tempatnya memang lebih baik di situ, saat ini.