Rumah

Bagi ibu saya, rumah yang kami kontrak hampir enam tahun ini adalah jantungnya. Ia suka duduk berlama-lama di bangku, bekas batang kayu bulat yang dipotong-potong beberapa bagian, di depan rumah. Ia menikmati berbincang dengan bapak tua, penjaga kebun kecil penuh singkong, hanya beberapa langkah saja dari rumah. Ia percaya betul, kali di depan rumah kami ini tak akan meluap dan akibatkan banjir besar, seperti yang dikhawatirkan orang-orang yang pertama kali datang ke rumah kami.

Untuk ibu saya, rumah yang kami kontrak ini adalah masa depannya.

“Lebih enak di sini. Semua seperti saudara. Mau apa-apa selalu ada orang. Belum lagi banyak pedagang yang lewat, dari sayur, rujak, bakso, sampai perkakas dapur. Rasanya, di sini tak pernah sepi,” ujarnya, satu ketika.

Ibu saya pada usia senjanya jatuh hati pada rumah, yang bukan milik kami, di sini, di pojok kecil di barat Jakarta.

Dan satu tekad dibulatkan; saya akan berusaha sekuat tenaga untuk menjadikan rumah ini milik kami; milik ibu saya. Agar tak kehilangan semua yang ia sukai; lingkungan yang nyaman, pedagang datang silih berganti, tetangga yang siap membantu seperti saudara dekat.

Tapi, saya kandas mewujudkan mimpinya. Pemilik rumah memang ingin menjualnya; tapi banyak dokumen yang dipersyaratkan bank untuk pengajuan kredit yang tak dimilikinya. Dan saya tak mempunyai uang sebesar yang ia minta. Beberapa sahabat yang saya mintai pendapat menyarankan saya untuk mengurungkan niat.

Dan saya memilih mundur; gagal mewujudkan mimpi tentang rumah seperti yang ibu saya inginkan.

Menuliskannya di sini menghadirkan kembali paras Ma’e, ibu saya yang sedih. Beberapa hari ini, kami sempat bersitegang. Perasaan gagal itu saya wujudkan dengan keketusan dalam takaran yang tinggi. Rasanya saya ingin menyalahkannya karena bermimpi berumah di sini. (Duh, semoga anak saya nanti, kalau saya memilikinya, tak sejahat saya kepada ibu saya belakangan ini).

Harusnya saya bisa lebih memahami perasaannya, mengerti banyak ketakutannya akan suasana baru, yang terungkap setelah saya mampu menguasai emosi dan berbicara baik-baik.

“Orang-orang bilang rumah kompleks itu belum banyak dihuni, lalu mesti ngapain sepanjang siang. Belum lagi tak ada yang dikenal. Di sini semua dekat,” ujarnya, terisak.

Hal-hal yang tampak kecil dalam ukuran saya, buatnya, adalah hal besar. Ia mengkhawatirkan tetangga seperti apa yang dijumpainya di sebelah rumah jika kami pindah, bagaimana cara pergi ke pasar, bagaimana jika ia tak memiliki teman bercakap-cakap sebaik yang ia miliki sekarang, tetangga yang seperti saudara dekat, dan betapa repotnya memindahkan isi rumah kami ke rumah lain.

Tapi ibu saya ibu yang baik. Ia bisa dengan kuat memasrahkan semua keputusannya kepada saya. Dan ini kian meremukkan hati saya. Ia ikut pada keputusan bahwa kami harus pindah dan mencari rumah lain.

Maka malam tadi, ia duduk berdua dengan saya di depan komputer; mengamati gambar rumah di beberapa situs properti, bertanya bagaimana caranya saya pergi ke kantor jika kami pindah ke kawasan itu (berapa lama naik kereta?, bagaimana jika nanti pulang dari kantor terlalu malam?), terheran-heran dengan konsep perumahan cluster (ini yakin ada yang jaga ya, kalau nggak ada pagarnya begini, orang asing gampang masuk bukan).

Saya paham betul tak mudah membuatnya pindah ke lain hati. Pencarian rumah baru ini juga akan menghabiskan energi. Semoga ujungnya adalah cerita yang baik. Saya berharap Ma’e juga akan menyukai rumah itu. Rumah kami sebenarnya, masa depannya.

Untuk Ma’e; maafkan …

Berlin, perjumpaan kedua

Hidup seperti berjalan ke sebuah kedai dengan banyak kotak yang disusun rapi dibungkus beragam kertas berwarna-warni. Beraneka corak. Atau polos.

Saya membayangkannya seperti itu.

Toko kecil di ujung jalan dengan harum kayu manis. Dengan lonceng mungil di atas pintu masuk yang berdenting setiap kali daun pintu terbuka.

Toko dengan penjaga berparas ramah. Laki-laki paruh baya yang gempal. Yang melayani pelanggannya seperti menyambut anggota keluarga. Yang tak henti bercerita laksana perjumpaan dengan teman dekat.

Dan setiap kali bertemu dengannya, kita tak pernah tahu kotak mana yang akan disodorkannya. Kotak biru dengan pita lebar berwarna perak. Atau kotak coklat. Mungkin kotak dengan kertas bergambar pemandangan alam. Kali lainnya, kotak dengan corak kotakkotak yang diberikannya.

Begitu terus setiap hari. Laki-laki paruh baya, tersenyum. Menyodorkan kotak, bercerita hal-hal kecil seputar hidupnya. Menunggu kabar terbaru tentang hidup kita. Menawarkan permen susu. Meminta kita kembali malam nanti untuk mencicipi sup jagung. Atau menghadiahi setangkai aster yang baru saja dipetik dari kebun di belakang tokonya.

Ia, di situ, setiap hari, dengan puluhan kotak. Yang diberikannya pada kita. Tanpa henti. Biru, perak, abu-abu, kotakkotak, coklat, bungabunga, putih polos, polkadot, garisgaris, abstrak.

Dan kita, setiap hari, datang ke toko yang sama, menunggu laki-laki paruh baya memberikan kotak, dan mencandu harum kayu manis di toko kecil di ujung jalan.

Saya berjalan ke toko itu akhir tahun lalu. Berlari-lari kecil di bawah hujan Desember menghindari genangan. Sesekali membetulkan cardigan.

Dan lonceng kecil berdenting ketika saya melangkah menuju toko. Menunggu penjaga yang baik hati memberikannya kotaknya pada saya, hari itu.

Lihat apa yang saya dapat. Kotak dengan motif bintang kecilkecil. Dia tersenyum. Saya tersenyum lebih lebar lagi. Ini sesuatu yang saya nantikan. Jawaban dari pertanyaan atas ketidakmampuan yang segelintir orang sematkan pada saya. Saya benar-benar memerlukannya. Lepas sejenak dari Jakarta dan pergi ke tempat yang pernah saya kunjungi dua tahun lalu.

Kali ini untuk masa yang lebih lama. Pada perjumpaan pertama, saya hanya singgah kurang dari sepekan. Saya begitu terpesona. Berlin pada musim panas waktu itu adalah Berlin yang menyenangkan. Transportasi publik yang baik, penduduk kota yang ramah, dan bangunan dengan arsitektur yang menarik.

Jadi, berangkatlah saya, pada awal Februari lalu. Saya menikmatinya. Di sini. Lepas dari penat dan pertanyaan atas pencapaian yang mendominasi hari-hari saya belakangan. Sejenak menyingkir dari keseharian. Tidak sepenuhnya terbebaskan karena di sini saya juga bergelut dengan hal-hal yang setiap hari saya hadapi di Jakarta. Bagaimana meliput yang baik, bagaimana menaruh ruh dalam berita, dan ini, dan itu.

Saya perlu kotak dengan motif bintang kecilkecil ini. Kembali ke Berlin adalah hal yang luar biasa. Saya menikmati setiap jejak yang saya buat di sini karena saya tahu pada April nanti saya harus kembali.
Kelak pada saat masa itu tiba, saya berharap laki-laki paruh baya di toko kecil di pinggir jalan, dengan banyak kotak, dan harum kayu manis akan memberikan saya kotak lain yang sama menyenangkannya.

Sekarang, saya hanya ingin menikmati Berlin. Menunggu musim dingin pergi dan musim semi menjelang.

Dalam gundah yang sangat

Saya tak pernah membayangkan kalau saya akhirnya ada di titik ini. Ketika saya lebih sering berhenti dan melihat sekeliling, membandingkan, dan menyesali banyak hal.

Berjalan-jalan dari satu tulisan ke tulisan lain di laman ini membuat saya diliputi keheranan yang sangat. Dari mana energi itu dulu berasal. Saya begitu menikmati semuanya. Menulis dengan rutin. Berjejaring. Dan mensyukuri banyak hal.

Malam ini saya merasa seperti orang yang kalah. Dilanda gundah yang sangat. Cemas atas banyak hal yang belum nyata. Saya melihat harapan saya pupus, perlahan-lahan.

Pencapaian, eksistensi, penghargaan, waktu yang terbuang…

Kepala saya penuh.

Ada saran apa yang harus saya lakukan saat ini, ketika saya kehilangan saya …

Menitip rindu

Ketika pagi pergi, perjalanan menitip rindu dimulai.

Bergerak. Rinduku.

Kutitipkan ia, rinduku, di ujung atap pasar becek di pinggir kali. Di tepian ranting pohon randu yang berdiri berjajar di sepanjang rel. Di sela-sela kerikil di jalan setapak menuju rumah berpintu kayu. Di bunga eceng gondok warna ungu yang berkumpul di rawa dekat balai desa. Di biru air laut tak jauh dari stasiun Plabuan. Di nyanyian pelajar berseragam putih merah yang meniti aspal menuju sekolah. Di senyum ramah penjaja teh. Di harum yang ditinggalkan fajar sesaat sebelum ia benar-benar menghilang. Di ujung hijau daun pakis. Di dua bangku panjang di belakang bangunan tua bercat putih. Di wajah sabar pengendara sepeda yang menunggu palang kereta api dibuka. Di pijar matahari yang mulai tinggi. Di rerumputan yang bertetangga dengan talas. Di satu, dua, tiga, empat, lima burung berbulu putih yang terbang rendah menyebrangi persawahan.

Kelak, ketika kau melintasi jalan yang sama, kau akan jumpai, rindu, yang kutitipkan itu, di sana; ujung atap pasar becek di pinggir kali, tepian ranting pohon randu yang berdiri berjajar di sepanjang rel, sela-sela kerikil di jalan setapak menuju rumah berpintu kayu…

Oktober, antara Gambir-Tawang

Tak menyerah

Saya tak pernah tahu menjadi 31 ternyata begitu menyulitkan. Pikiran saya kerap dipenuhi kecemasan yang tak penting; pencapaian, masa depan, penyesalan atas waktu yang -menurutsaya- terbuang sia-sia, bayangan-bayangan yang belum nyata.

Hidup sepertinya terlalu bergegas dan saya tak mempersiapkan bekal yang cukup untuk itu. Seperti lalai membawa kotak makan ketika piknik akhir pekan. Atau seperti mendaki bukit dan diterpa kelelahan yang sangat.

Dan saya begitu merindu menulis. Tapi saya tak menulis ketika cemas. Kalimat menguap ketika sedih berkepanjangan.

Buntu

Ini hanya benang kusut yang harus diurai, pelan-pelan.

Malam ini saya putuskan:

Saya tak hendak menyerah pada hidup. Saya berjanji untuk itu… :)

Sekarang, saya benar-benar memerlukan secangkir coklat panas …