Tentang Syukuran Pernikahan

Saya tak pernah membayangkan pesta pernikahan yang besar dan ramai dan hiruk. Jadi, saat memutuskan menikah dengan Heru, saya bersepakat untuk menggelar syukuran saja. Sebuah pertemuan yang sederhana dan kecil saja karena hanya dihadiri hanya kerabat dan teman dekat. Untunglah Heru juga segendang sepenarian.

Kami berdua hanya punya waktu yang singkat, sebulan lebih sepekan untuk menyiapkan syukuran pernikahan, termasuk mengurus administrasi di kantor urusan agama. Kami menikah dengan cara Islam. Saya bersyukur bertemu Heru, yang dalam banyak hal bersepakat dengan keinginan calon istrinya kala itu. Beberapa yang saya inginkan memang di luar kelaziman :).

Saya misalnya tak merasa perlu mencantumkan nama ayah pada undangan. Dia tak mendebat soal ini. Saya sudah lama berdamai dengan kenyataan bahwa saya tak pernah memiliki kesempatan untuk mengenal ayah saya. Bagaimana parasnya. Bagaimana perangainya. Bagaimana tindak tanduk dan perilakunya. Saya hanya mengenalnya melalui namanya saja. Itu sudah. Jadi, saya putuskan saya hanya mencantumkan nama Ma’e saja, ibu saya. Saya merasa tak perlu membentuk gambaran layaknya keluarga yang utuh dengan menyebutkan nama bapak di undangan. Bahwa tak ada yang salah dengan keluarga yang hanya memiliki ibu saja.

Soal lokasi juga demikian. Semula kami ingin menggelar syukuran di panti asuhan. Tapi sampai beberapa hari, kami tak kunjung menemukan lokasi yang tepat. Sampai saya mendapatkan informasi mengenai panti wreda, rumah dari para manula. Namanya Panti Wreda Bina Bhakti, Serpong. Heru juga bersepakat soal ini. Panti ini teduh sekali, memiliki halaman yang luas, dan pengurus panti yang sangat baik, dan ramah, dan menolong, dan bersuka cita menyambut kami berdua. Ini syukuran untuk berbagi. Separuh dari hadiah pernikahan yang masuk diserahkan untuk membantu operasional panti. Dan ini kami sebutkan di undangan syukuran pernikahan.

Kami menikah pada Jumat, 14 Februari 2014. Pemilihan tanggal yang disesuaikan dengan jadwal libur ayah mertua saya. Akad nikah dilakukan selepas salat Jumat. Setelah itu, mulai jam tiga sore, para tamu berdatangan. Syukuran pada hari kerja, pada jam yang nanggung , di tempat yang tak mudah dijangkau (belum lagi dengan tambahan ruas jalan yang rusak menuju panti), untungnya tak mengurangi kebaikan hati para kerabat dan sahabat untuk datang.

Sore itu hujan tak turun. Padahal beberapa hari sebelumnya, hujan turun terus menerus. Jadi, kembali saya bersyukur. Acaranya santai sekali. Ada balon sabun yang ditiup untuk menyambut saya dan Heru, juga pelepasan 100 balon putih ke udara -agar harapan dan doa yang ditulis para undangan ikut terbang menuju langit-.

Saya berutang pada banyak teman. Pada Firman Firdaus yang mendesain undangan, pada Tia, yang tak pernah sekalipun bertemu dan menyanggupi untuk membantu merancang dekorasi pernikahan saat saya memintanya melalui surat elektronik. Alhamdulillah. Pada qq, sahabat yang ditemukan dari dunia maya sedekade lalu yang menjadi saksi pernikahan, dan pada banyak nama yang tak tersebut. Terima kasih banyak semua.

Senang sekali bertemu dengan orang-orang yang dekat karena saya menulis dan mereka menulis. Ada alaya dan Jingga, Mbak Neenoy, serta Mbak Bril.

Ada tulisan dari LivingLoving perihal syukuran pernikahan saya dan Heru yang bisa dilihat di sini. Terima kasih LivingLoving :).

Putu, saya mengenalnya saat menjadi relawan di Kelas Inspirasi, membuatkan video untuk hari bahagia itu.

Semoga perjalanan saya dan Heru ke depan dimudahkan dan kami berdua selalu menyayangi :). Bismillah.