Tentang Doa

ILH_4784
Foto oleh: Ilham Tawakkal

Hubungan saya dengan Tuhan bisa dibilang bukan hubungan yang erat dan terus menanjak. Sebaliknya, beberapa tahun terakhir, sebagai seorang muslim saya justru meninggalkan sholat dan tidak berdoa. Kehidupan saya berantakan. Saya didera kecemasan yang terus menerus dan menahun. Saya bolak balik konseling. Kekasih saya selama tujuh tahun waktu itu akhirnya menyerah; berhenti mencintai saya, memilih melanjutkan kisah dengan yang lain. Saya juga merasa karir saya begini begini saja. Saya tak kunjung melanjutkan pendidikan master. Terakhir, wawancara beasiswa ke Amerika Serikat juga tidak berhasil (saya harus puas di peringkat kedelapan, sedangkan donor hanya memberangkatkan enam orang). Gelap. Saya merasa tua, 34 tahun, dan tanpa pencapaian.

Anehnya, meski banyak orang bilang, orang justru mencari Tuhan saat dirundung kesedihan, tampaknya tidak demikian dengan yang saya alami. Kemalasan saya untuk sholat saat itu semakin menjadi-jadi. Dan jarak saya dengan Tuhan terus bertambah lebar, dan lebar, dan … lebar.

Tapi saya bersyukur, sampai saat ini, bahwa akhirnya saya sampai ke titik balik. Saya lupa bagaimana caranya. Yang saya tahu, saya akhirnya menetapkan batas dari titik terendah di hidup saya saat itu. Untuk kemampuan ini, saya sangat berutang budi pada teman-teman baik yang terus ada, memberi terang, menemani, dan menyemangati.

Setelah itu, saya menata kembali banyak hal. Meski sulit dan didera kesedihan yang sangat, saya belajar mengikhlaskan dan memaafkan, termasuk memaafkan diri sendiri atas banyak kealpaan yang saya lakukan. Saya juga sampai pada kesadaran bahwa hidup bukan melulu soal menemukan pasangan jiwa. Yang paling penting adalah bagaimana kita terus memperbaiki diri, bersyukur, dan berbagi dengan orang lain. Perlahan, saya mulai kembali sholat. Lima waktu. Saya bangun subuh dan menutup hari dengan Isya. Saya berterima kasih atas kesehatan yang Allah berikan, atas kasih sayang ibu saya, atas perhatian dan budi baik teman-teman dekat.

Saya juga mulai kembali berdoa. Saya memohon Allah menjaga saya dari hal-hal buruk, memberikan saya kekuatan untuk menerima banyak hal, perubahan, jalan hidup yang berbelok -jauh dari apa yang saya rencanakan-, dan melimpahkan saya kesabaran. Begitu terus. Saya mohon Allah menjaga saya.

Dari sekian harapan tadi, ada doa yang saya ucapkan hanya satu kali saja. Saya ingat betul itu. Doa selepas sholat malam. Waktu itu saya berkata: Allah, setelah ini Atta enggak akan berdoa lagi soal pasangan hidup. Atta yakin dan percaya betul Allah Maha Menentukan. Kalau memang belum ada yang Allah siapkan, Atta minta Allah berikan Atta kesehatan, supaya ada banyak hal yang bisa Atta kerjakan. Tapi kalau memang Allah sudah gariskan, dekatkan hanya orang yang baik, yang bisa terus bersama-sama dalam susah dan senang, yang menyayangi dan mengasihi senantiasa. Atta ikhlas dengan ketentuan Allah. Amin.

Saya lupa apa saya menangis atau tidak saat mengucapkan itu. Tapi selesai berdoa saya lega sekali. Kepasrahan yang dalam. Saya berprasangka baik pada Sang Pemilik Hidup.

Dan, setelah itu, saya berkenalan dengan Heru, suami saya sekarang. Kami bertemu akhir Agustus dalam sebuah pelatihan jurnalistik mengenai pekerja rumah tangga, isu yang kurang banyak muncul di media. Saya mengorganisir acara, termasuk menjadi fasilitator, dan moderator untuk beberapa sesi, dan Heru salah satu pesertanya. Pelatihannya singkat saja, hanya dua hari. Kami juga tak banyak bertegur sapa selama pelatihan.

Setelah pelatihan, kami tak lagi berkomunikasi. Sampai satu hari, awal Oktober, saya melayangkan kicauan di Twitter, membalas kicauannya soal kamera miliknya yang baru saja dijual. Heru bekerja sebagai fotografer. Saya bertanya, sekarang kamera apa yang digunakannya dan bisakah saya ikut kalau dia berniat berburu foto (Lama sekali kamera saya nganggur ). Dia menjawab. Kami lalu berkomunikasi via pesan langsung. Lalu saya bertanya apakah dia bisa dihubungi via WhatsApp. Saya bahkan harus bertanya nomor telepon Heru karena saya tak meminta dan menyimpannya selepas pelatihan (duh :p).

Setelah pesan langsung itu, saya menyapanya melalui pesan instan. Dan setelahnya kami hanya bertemu muka tiga kali saja sebelum pada pertengahan Oktober (hanya 18 hari setelah percakapan pertama kali di Twitter), Heru bertanya apa saya mau menikah dengannya. Sejak awal, saya memang memberi pesan bahwa rasanya saya tak lagi punya energi untuk turun naik dalam ketidakjelasan dan menebak apa maunya pasangan. Bukan itu lagi yang saya perlukan.

Saya menjawab ajakannya dengan kesanggupan untuk menikah. Dan setelahnya, adalah perjalanan menyusun rencana pernikahan, termasuk kunjungan bapak dan ibu Heru ke rumah saya. Mereka datang pada pekan ketiga Desember. Kami menikah pada Jumat, 14 Februari di Panti Wreda Bina Bhakti, Serpong; rumah dari 74 manula dan para penjaga panti yang baik hati.

Banyak penyesuaian yang harus saya dan Heru lakukan. Tapi Heru sungguh pasangan yang sangat berbesar hati dan sabar dan tenang. Dan untuk itu, saya bersyukur, sangat. Saya percaya bahwa perjalanan ke depan mungkin tidak semuanya mudah. Tapi yang saya tahu, sekarang, seperti bunyi sebuah hadis, bahwa Allah tergantung pada prasangka hamba-Nya, saya hanya mau berpikiran baik tentang ketentuan yang Allah gariskan. Saya akan berupaya menjaga hubungan ini dan memperbaiki diri di dalamnya. Semoga saya tak pernah ada lagi di masa di mana jarak saya dengan Tuhan terentang begitu lebar.