[Masih] Tentang Bahagia

You should never look for someone to complete you. A relationship consists of two whole individuals – Oprah Winfrey

Stasiun Serpong, lewat tengah malam. Saya berangkat dari Palmerah dengan kereta terakhir. Ini bukan kali pertama saya sampai di Serpong selarut itu. Sedikitnya ada empat kali dalam satu bulan saya harus ikut dalam tim yang memeriksa naskah sampai seluruh halaman koran dikirim ke percetakan. Ritual ini umumnya selesai pukul 11 malam.

Yang membuat malam itu berbeda adalah hujan turun dengan deras. Sangat. Dan stasiun gelap gulita. Pekat. Listrik mati. Dan saya ketakutan. Stasiun, lewat tengah malam, adalah stasiun yang lengang. Tambahkan itu dengan gelap dan gemuruh dari hujan yang berlomba jatuh di atap seng stasiun. Saya masih harus menaiki tangga, menyentuhkan tiket ke alat pembaca di pintu dorong, lalu turun dan mencari ojek langganan.

Tapi, stasiun sepi …

Dan saya dengan sedikit panik mengambil ponsel, mencari nomor laki-laki harum hutan, dan urung menekan tombol panggil saat kesadaran itu muncul. Duh, lebih baik saya tak lagi menghubunginya. Kalau tak salah, itu beberapa pekan setelah kami tak lagi bersama.

Saya akhirnya mencoba tenang. Berusaha. “Tenang, tenang Atta. Bismillah.”

Malam itu menjadi semakin panjang karena Pak Oma, pak ojek langganan tak bertugas. Di depan stasiun, tak ada ojek satupun. Saya harus berjalan sampai mulut gang, ke jalan raya. Di sana pasti ada ojek, di dekat palang perlintasan kereta, di dekat pasar. Dan hujan masih deras.

***

Tujuh tahun bersama laki-laki harum hutan membuat saya menggantungkan banyak hal padanya. Kecemasan adalah salah satunya. Kalau malam itu, kami masih bersama, saya pasti sudah menghubunginya, menahan butiran air mata yang sudah di ujung mata, menumpahkan ketakutan saya padanya. Berbicara tanpa bisa dipotong (kebiasaan buruk saya -ampun-).

Selain itu, saya juga menjadikannya curahan dari kekesalan. Iya. Bayangkan, apa kaitannya si laki-laki harum hutan dengan jalan raya yang rusak dan macet parah, tak jauh dari kompleks perumahan saya, selama beberapa pekan beberapa bulan lalu? Tak ada kan?. Tapi saya bisa meneleponnya untuk sambat yang, kata anak muda sekarang, enggak penting banget deh kak. Puk puk laki-laki harum hutan.

Dan saya mengerjakan yang seharusnya tak saya kerjakan; ya, saya menggantungkan kebahagiaan saya padanya. DUH. Tinggal di dua kota yang berbeda kadang membuat jadwal temu kami tak teratur. Dan ada loh perempuan yang setelah menerima kabar kalau kekasihnya tak pulang ke Jakarta karena satu dan lain hal atau waktu temu yang singkat saja, kemudian manyun. Sabtu rasa kelabu. Huhuhuhu. Ada.

Atau saya menjadwal ulang banyak hal yang mestinya bisa saya kerjakan sendiri karena saya ingininginingin melakukannya bersama-samanya. (mau ke reading room/ ah nanti saja tunggu kamu ya// mau ke depo bangunan, cari pernak pernik kamar mandi/ ah nanti bareng kamu saja ya// mau nonton film terbaru/ ah manalah asik kalau sendiri, puan tunggu tuan saja// ke pantai enak nih/ tapi nanti saja ya, kita cari libur berdua)

Saya lupa bahwa urusan kebahagiaan itu harus tuntas di diri sendiri dahulu. Kita sendiri yang harus mengupayakan kebahagiaan, untuk kita. Setelah ini selesai, urusan membahagiakan sekitar pasti jadi lebih mudah. Hubungan selayaknya diisi oleh dua orang yang utuh tanpa disibukkan dengan urusan siapa menggantungkan kebahagiaan pada siapa.

Dan kalau akhirnya laki-laki harum hutan lebih memilih berlabuh ke perempuan yang sangat jelita dan 10 atau 11 tahun lebih muda dari saya dan melepaskan saya dan meruntuhkan janji kami, ini juga harus dilihat sebagai upayanya untuk menjemput kebahagiaan. Toh, tiap-tiap dari kita sejatinya bertanggung jawab atas kehidupan kita sendiri, bukan orang lain. Jadi, dia juga tidak bertanggung jawab terhadap kebahagiaan saya. Bukan begitu? -sungguh paragraf yang rumit dibaca- :p

Saat ini yang penting memang adalah bagaimana saya menjadi utuh. Bahagia dengan apa yang saya punya. Berhitung atas apa-apa yang saya miliki, saat ini, bukan atas apa-apa yang saya mau atau tuju. Kebahagiaan yang bersumber dari diri sendiri akan menuntaskan pekerjaan rumah saya untuk tidak lagi menggantungkan kebahagiaan pada orang lain.

***

Sekarang, saya membawa senter kecil, setiap hari. Ada di dalam bag in bag di tas. Belum pernah saya gunakan karena listrik di Stasiun Serpong belum mati lagi. Dan semoga ketika dibutuhkan, senter kecil itu berfungsi dengan baik :)

11 thoughts on “[Masih] Tentang Bahagia

  1. serem ya tta.. kalau saya mendingan nginep di kantor deh daripada pulang selarut itu. :)) ngapusi ding..

    tapi setuju soal kebahagiaan. bahwa kebahagiaan itu kita yang ciptakan, bukan kita cari dan temukan. jadi, meski sedang sendiri, kita bisa tetap bahagia. ;)

    dan semoga cepat menemukan pengganti lelaki harum hutan. tergantikan lelaki harum aspal barangkali? :)

  2. bener bangeeettt! Even when you think you already have a happy ending, life still goes on kok. dengan masalah-masalahnya yang lain yang berjuta-juta. So stick to that: that you are responsible for your own happiness. i love you atta!

  3. @asep: harusnya nggak pakai belenggu. ini apa sih? :p

    @durin: wani tenan yo aku. memang aku ini dasarnya pemberani -sombong-

    @gre: hayaaah, kamu lagi. suh suh

    @baduy: hola. wow juga :)

    @dinda: ah dinda -peluk-. terima kasih karena sudah mau menerima telepon yang panjang dan tak runut saat itu. aku juga sayang dinda :)

  4. ahh… sama banget, aku benci banget dengan kata kata “you complete me” di jerry macguire yang orang puja puja itu. adalah hal yang mengganggu jika seseorang merasa harus dilengkapi orang lain untuk bahagia. kita sendiri yang putuskan kita mau bahagia atau tidak.. :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *