Bahagia

saya bahagia :)
Alhamdulillah.

terima kasih untuk semua. saya tak bisa menulis lebih banyak lagi, selain terima kasih atas doa dan perhatian, yang disampaikan atau ditulis dalam diam. saya berterima kasih untuk semua. untuk komentar, pelukan, sapaan, panggilan telepon, surat elektronik, kicauan di Twitter, atau layanan pesan instan lainnya.

sekali lagi. terima kasih.

Dikuatkan, Menguatkan

?As time goes on, you’ll understand. What lasts, lasts; what doesn’t, doesn’t. Time solves most things. And what time can’t solve, you have to solve yourself.– Haruki Murakami, Dance Dance Dance

Kelintingan bambu itu masih tersangkut di bilah besi, tak jauh dari jendela, di dekat dapur. Saya membelinya pada perjalanan singkat ke Bali dua pekan lalu, untuk meliput. Di toko oleh-oleh besar dekat bandara. Di sela ketergesaan mengejar waktu lapor penerbangan, sore itu.

Sudah sejak dulu saya ingin memiliki kelintingan macam ini. Saya bahkan bisa membayangkan suara yang dihasilkan saat bambu-bambu itu bergoyang, digerakkan angin yang melewati daun-daun pohon Bintaro di halaman depan. Menenangkan dan menyenangkan.

Tapi kelintingan itu tak jua terpasang di langit-langit beranda depan. Tak bersuara karena angin tak menggoyangkan empat bilahnya. Saya ingat betul, saya sudah menitip pesan kepada Ma’e, ibu saya, untuk meminta tolong Pak Bowo, pekerja bangunan yang merapikan rumah tetangga, untuk memasangkannya. Apa Ma’e lupa?

“Biar saja di situ. Jangan dipasang dulu sekarang,” pinta Ma’e, beberapa hari lalu, saat saya menanyakan kembali kenapa kelintingan tetap berdiam di dekat dapur.

Klenengan sapi itu juga jangan dipasang ya,” ujarnya, lagi.

Ah ya, saya ingat. Lebaran lalu, saya meminta tolong teman yang mudik ke Boyolali untuk membelikan klenengan sapi yang rencananya dilekatkan di pintu pagar depan rumah. Saat pintu pagar didorong, klenengan akan berbunyi, memberi penanda bagi orang rumah. Sebelumnya, kami memakai klenengan dari Bukittinggi, yang akhirnya rusak dan perlu diganti. Tapi, sama seperti kelintingan bambu, klenengan anyar dari kuningan itu pun urung dipasang, teronggok saja di laci.

Saya tak bertanya kenapa, tapi Ma’e tahu saya perlu jawaban. Jadi, dia mengecilkan suaranya, dan berkata: “Bunyi-bunyian dari pagar yang didorong cuma ngingetin Ma’e sama …”.

Tak diselesaikannya kalimatnya. Tapi saya tahu. Kami jarang menerima tamu. Dan orang yang selama ini sering datang adalah laki-laki harum hutan, bekas kekasih hati saya. Selama tujuh tahun hubungan kami, kunjungannya menjadi yang dinanti bagi tak hanya saya, tapi juga ibu saya. -Ampun, tujuh tahun itu lama ya? :)-

“Suara kelintingan bambu juga saat ini bikin sedih. Dibungkus lagi aja dulu ya.”

Dan hati saya remuk. Pagi itu.

Saya tak perlu mengajari Ma’e tentang bagaimana dalamnya kesedihan karena kehilangan dan ditinggalkan. Bapak pergi saat ibu saya masih mengandung saya. Pergi mengejar kebahagiaannya tanpa menyertakan kami. Ma’e kemudian melahirkan saya, si bungsu, dan membesarkan saya dan kakak saya, sendiri.

Ma’e, pada usia senjanya, tentu jauh lebih paham dari saya tentang bagaimana mengatasi kesedihan. Jadi, semula saya kira dia akan jauh lebih mudah melewati ini. Dia akan menjadi yang pertama menguatkan saya. Tanpa perlu dikuatkan. Bukankah hidup telah membekalinya sedemikian banyak?.

Jadi, saya jarang sekali bertanya, bagaimana perasaannya setelah laki-laki harum hutan itu pergi dan dia mendapati kenyataan bahwa putrinya, kini, menjalani peran yang dulu dilakoninya, ditinggalkan (meski kadarnya jauh-jauh lebih ringan, saya tidak menikah, tidak memiliki satu putra, dan tidak sedang mengandung, saya memiliki pekerjaan yang baik dan teman-teman yang mendukung).

Karena saya tahu Ma’e jauh lebih kuat, saya lalu menghindari pembicaraan tentang bagaimana kami menata hati selepas prahara ini, atau apa yang harus kami lakukan agar kami bisa mengikhlaskan dan memaafkan.

Dan, ternyata saya salah. Ma’e, ibu saya yang saya cintai sepenuh jiwa -yang darinyalah kehidupan saya bermula, yang darinyalah saya berada di titik saya sekarang-, juga mengalami masa yang sulit.

Saya dapat menangkis kesedihan dengan bertemu sahabat, bekerja lebih larut, membaca aneka buku, mendengarkan musik, membuat janji temu dengan lebih banyak teman lama, merencanakan perjalanan. Tapi ruang gerak Ma’e terbatas. Pindah ke Serpong sama artinya dengan memisahkannya dari karibnya yang sedikit di Slipi, rumah lama kami. Dia tak dapat melakukan perjalanan untuk menyambangi yang sedikit itu sendirian. Dia bergantung pada saya atau kakak saya. Dan menghindari pembicaraan seputar laki-laki harum hutan sama artinya dengan menghabiskan kesempatan satu-satunya yang Ma’e miliki untuk membagi perasaannya.

Dan hati saya makin remuk. Pagi itu.

Kenyataan harus dihadapi. Jadi, pada sejumlah malam selepas bekerja dan sesampainya di rumah, saya akan bertanya, apa ada yang ingin Ma’e sampaikan. Bagaimana perasaan Ma’e hari ini. Apa Ma’e masih kerap berharap dia datang dan mendorong pintu pagar lalu tersenyum di beranda, di depan pintu rumah. (Bagian ini, ya, bagian si laki-laki harum hutan yang berdiri di beranda dan tersenyum, menurut Ma’e, adalah kepingan yang paling membuatnya bersedih).

Kita harus percaya bahwa waktu, hanya waktu, yang akan membawa kita keluar dari badai ini, ujar saya pada Ma’e. (Sebab tampaknya hanya kami, saya dan Ma’e, yang perlu waktu untuk melepas kesedihan dan berhenti mencari jawaban atas beragam pertanyaan. Jelas laki-laki harum hutan tak memerlukan waktu karena kurang dari sepekan setelah kami memutuskan tak lagi bersama, dia sudah bertukar rindu lewat kalimat-kalimat di ruang publik pada pasangan barunya, gadis manis yang usianya terpaut jauh dari saya. Duh. Era media sosial jelas menimbulkan tantangan yang berbeda untuk mengatasi kehilangan :p).

Kita harus percaya Ma’e. Seperti kita percaya bahwa kita akan bisa menyelesaikan yang waktu tak bisa selesaikan. Seperti kita percaya bahwa kita akan terus menguatkan dan dikuatkan. Seperti kita percaya bahwa kita akan baik-baik saja.

Dan kelintingan bambu itu kini terbungkus rapi di dalam plastik. Masuk ke dalam laci. Tempatnya memang lebih baik di situ, saat ini.