Tentang saya dan ma’e

Dalam perenungan mengenai akar dari kecemasan yang berlebihan, saya menemukan salah satu sumbernya adalah relasi saya dan Ibu, yang saya panggil sehari-hari dengan sapaan Ma’e.

Hubungan kami berdua tak bisa dibilang mulus. Saya menyayanginya. Tapi kalau mengingat bagaimana pasang surut hubungan kami beberapa tahun ke belakang ini, saya berharap Tuhan mengampuni semua kesalahan saya padanya :(.

Dalam perenungan saya menemukan, saya masih menimpakan kesalahan atas banyak hal yang terjadi pada masa lalu pada Ma’e. (Atas ketiadaan bapak sejak saya lahir -ayah saya memutuskan berpisah dengan Ma’e saat ibu saya masih mengandung saya-, atas kesulitan hidup yang sempat kami alami, atas ketiadaan orang yang dituakan dalam keluarga yang sering memaksa saya mengambil keputusan sendirian, atas kesendiriannya sehingga menjadikan kami keluarga yang “ajaib” dan hanya bertiga saja; Ma’e, saya, dan kakak saya, atas ini dan itu, atas banyak hal).

Keengganan menerima dan mengikhlaskan apa-apa yang terjadi pada masa lalu berdampak pada pilihan tindakan yang saya lakukan untuk Ma’e. Beberapa kejadian juga membuat saya kehilangan kepercayaan dan kesabaran pada ibu saya. Tak jarang kami bersitegang. Gusti, mohon saya diampuni :(.

Selain itu, saya juga dihantui kekhawatiran bahwa saya tidak dapat membahagiakannya di usia Ma’e yang makin sepuh. Saya misalnya masih belum mampu membeli kendaraan pribadi -yang berdampak pada kerepotan saat kami harus bepergian-, atau hanya bisa membeli rumah di kompleks yang jauh dan sepi sehingga ia lebih banyak sendiri saat saya bekerja, atau karena sampai seusia ini saya masih melajang (meski dia tak pernah mempersoalkannya, tapi tetap ini menjadi salah satu kecemasan saya). Kekhawatiran ini justru membuat saya menjadi lebih keras terhadap Ma’e.

Melalui masa sulit ini, Ma’e lagi-lagi menunjukkan bahwa kegetiran dan kesulitan hidup menempanya menjadi sosok yang lebih kuat, jauh lebih kuat dari saya. Dia mencintai saya tanpa syarat, benar-benar memberi tanpa mengharapkan kembali. Kasih sayangnya terus berlimpah. Kesabarannya tak bertepi.

Saya tahu saya harus berdamai dengan banyak hal. Mengikhlaskan apa-apa yang pernah kami hadapi pada masa lalu. Menemaninya menjalani hari tuanya dengan tenang dan tanpa beban. Saya menyesal menempatkannya dalam situasi seperti sekarang, dalam kesedihan yang dalam seperti saat ini. Menyesal, sangat.

Sekarang, saya mengubah interaksi saya dengan Ma’e. Saya mencoba lebih bersabar. Nada suara saya juga tak lagi tinggi. Saya meneleponnya lebih sering. Saya menemaninya menonton sinetron yang dia sukai. Dalam sepekan, saya usahakan dapat pulang lebih cepat minimal 2 hari, agar memiliki waktu lebih untuk memijat kakinya sebelum tidur. Saya juga bangun lebih pagi agar dapat menemaninya duduk di teras depan rumah. Saya berdoa semoga Allah memberikan Ma’e kesehatan.

Saya ingin Ma’e bisa lebih bahagia. Saya akan terus berupaya.

4 thoughts on “Tentang saya dan ma’e

  1. duh mbak atta, tulisan kamu jujur dan menyentuh… aku jadi terharu, aku juga punya masalah sama ibu (dulu dia yg ninggalin keluarga kita waktu aku masih kecil) makanya aku ga bisa menemukan ikatan yang pas sama ibu (untung aku punya ibu mertua yang baik hati).. smangat membahagiakan ma’e ya mbak, salam hormat untuk beliau.. :)

  2. menulis ternyata melepas sebagian dari penat :). terima kasih mbak yudhi atas komentarnya. kapan-kapan saya mau coba bikin pepes ikan juga. hehehehe

  3. bagaimanapun beliau tetaplah ibu yang penuh kasih dan kesabaran yang luas..

    atta,

    setidaknya kamu lebih beruntung dibanding saya,kamu masih bisa merawat ibu,sementara saya terpisah,..

    mari kita membahagiakan ibu kita tercinta ..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *