Tentang mencari terang

Lights will guide you home
And ignite your bones
And I will try to fix you
(Fix You — Coldplay)

Saya tak jelas mengingat bagaimana semua ini bermula. Yang pasti, secara perlahan saya kehilangan semangat.

Saya mulai mengeluh atas banyak hal. Jalanan yang macet, cuaca yang panas, antrean penumpang kereta komuter yang tidak tertib, pekerjaan yang kurang menggairahkan, rutinitas, pencapaian, eksistensi, kebendaan, dan banyak hal lain, dan banyak hal lain.

Saya gampang meledak. Hal-hal kecil bisa membuat darah saya mendidih. Saya menanggapi keberhasilan orang lain dengan sinis. Saya tak kunjung menemukan seperti apa sebenarnya tujuan yang akan saya capai. Saya membandingkan hidup saya dengan orang lain dan merasa jauh tertinggal. Seorang teman bahkan berkata, saya tak ubahnya kucing yang berputar-putar mengejar buntutnya sendiri. Ampun. Saya membiarkan diri saya dalam labirin dan menyengajakan diri berlama-lama di sana.

Saya gundah berharihari, berpekanpekan, berbulanbulan, bertahuntahun. Saya mengeluh, dan mengeluh, dan mengeluh. Saya berhitung atas banyak hal yang tak saya punya. Saya mengeluh, dan mengeluh, dan mengeluh.

Suasana hati yang muram membuat saya kehilangan banyak hal. Kehilangan minat terhadap kegiatan yang dulunya membuat saya bergembira menjalankannya. Saya tak lagi memotret. Saya berhenti menulis blog. Saya menarik diri dari kerumunan. Saya menghindari bertemu teman lama. Saya menjalankan keseharian tanpa membawa saya. Saya memudarkan harapan. Saya terus kehilangan saya. Berharihari, berpekanpekan, berbulanbulan, bertahuntahun.

Tapi kehilangan terbesar buat saya adalah kehilangan orang terdekat. Saya kehilangan cinta dari laki-laki harum hutan. Ini bukan keputusan yang dia buat dalam satu malam. Saya tahu, kondisi saya yang terus menerus didera kecemasan akhirnya menipiskan kesabaran dan kekuatannya untuk bertahan di samping saya. Saya sedikit banyak memahami apa yang membuatnya mengambil keputusan itu.

Dan saya mengubur diri dalam penyesalan. Mengapa saya tidak lekas memperbaiki diri. Terus menerus muram dan membuatnya didera kelelahan yang tak kalah besar. Menggerus energinya. Membuat saya lalai merawat cinta yang kami miliki selama ini. Saya abai menjaga kasih yang kami bangun, bersama. Sampai dia akhirnya memutuskan bahwa bukan saya lagi yang dipilih untuk memenuhi hatinya, untuk menemani langkahnya, menjemput senja. Bukan saya. Dia menambatkan jangkarnya di laut yang lain :(

Kali ini kecemasan saya makin besar. Hidup saya kosong. Separuh dari badan saya seperti dipaksa lepas. Saya kehilangan nafsu makan, lemas berkepanjangan, mual yang tiba-tiba muncul dan makin sering. Ada beberapa malam saya bahkan tak berani sendiri di kamar. Kalau sudah begini, ibu saya -yang sudah sepuh dan masih harus direpotkan itu, duh Gusti- akan menemani saya di kamar tidur sampai pagi. Saya menangis. Dan menangis. Dan menangis. Dan menangis. Dan menangis.

Perasaan ditinggalkan seperti mendorong saya ke ruangan luas, bercat putih, dan saya terduduk di sudut. Lengang yang sangat. Atau dilontarkan ke ruang hampa udara, melayang, sendiri. Atau dibiarkan di tengah kepadatan Shibuya. Saat pejalan kaki berseliweran melintas, tak beraturan. Dan saya kebingungan. Keramaian yang sepi. Sepi di tengah ramai. Saya takut.

Dan kehilangan ini akhirnya memaksa saya untuk berhenti. Saya berserah pada Tuhan -hal yang lama tak saya jalankan. saat dilanda kecemasan berlebihan, saya justru lama meninggalkan sholat- :(. Saya memohon semoga Allah dengan kuasa dan kerahiman-Nya membereskan banyak hal yang tidak bisa saya urai. Pasrah.

Perjalanan masih panjang dan saya harus punya kekuatan untuk sembuh. Kecemasan berlebihan ini membuat saya tak bisa berpikir jernih. Mengambil banyak hal baik dalam hidup saya. Memaksa saya merasakan kehilangan yang terdalam.

Saya tahu saya butuh pertolongan. Saya tak akan bisa melakukannya sendiri. Jadi saya mengontak teman-teman dekat. Saya mulai menemui psikiater. Satu kali dalam satu pekan, saya sambangi dr. Erwin. Saya memilih berkonsultasi di ruang praktek di rumahnya di daerah Menteng. Laki-laki paruh baya dengan rambut putih ini begitu sabar.

Sejak awal saya tekankan, saya tidak akan mengonsumsi obat penenang. Tidak akan. Meski kesedihan saya teramat sangat -sampai-sampai saya bisa berjalan di peron stasiun, mendengarkan derak laju kereta, dan tiba-tiba meneteskan air mata tanpa henti, ampun- saya tetap menolak untuk menggunakan obat. dr. Erwin memahami pilihan saya. Dia hanya meminta saya tidak membiarkan pikiran buruk menguasai. Teknik hipnosis dan gabungan meditasi yang diajarkan membantu mengistirahatkan pikiran saya yang penuh.

Saya masih menemuinya. Dan masih akan ada lagi pertemuan-pertemuan berikut sampai beberapa bulan mendatang.

Ini bukan kerja yang singkat, ujarnya satu malam, saat saya sibuk dengan tisu untuk menghapus sisa air mata dan menenangkan diri setelah lagi-lagi menangis di depannya. Dia berkata, saya memaksa pikiran saya untuk menampung beragam hal, membayangkan kemungkinan-kemungkinan, dan menyuburkannya dengan asumsi buruk. Alhasil, kecemasan kian menjulang, makin tinggi.

Saya yakin kamu bisa, sudah banyak yang kamu lalui untuk sampai di sini. Paham dan sadar bahwa kamu perlu pertolongan adalah jalan awal untuk memperbaiki diri, katanya.

Saya belum sepenuhnya mampu mengendalikan kesedihan. Masih banyak yang tersisa. Energi saya juga belum benar-benar positif. Tapi saya mulai berhenti mengeluh. Saya tak lagi dipusingkan oleh ruas jalan di depan Pasar Serpong yang macet setiap hari atau ketika saya terlambat mengejar kereta api. Saya setiap hari berusaha tak memusingkan hal-hal kecil.

Saya belum sepenuhnya pulih. Masih ada bagian dari diri saya yang belum sepenuhnya berhenti menyesali. Kendati demikian, saya mampu mensyukuri. Bahwa pada saat-saat muram sekali pun, saya tak melarikan diri saya ke narkoba, atau minuman keras, atau rokok :). Saya bersyukur bahwa bahkan pada saat sulit, saya masih dapat membeli rumah, menghadapi tes kenaikan karir di kantor. Saya bersyukur performa pekerjaan saya tak benar-benar anjlok. Saya bersyukur saya tak perlu dilarikan ke rumah sakit karena melakukan hal-hal buruk. Alhamdulillah.

Sekarang saya cuma ingin tenang. Itu saja. Bagian mengikhlaskan, memaafkan, dan sebagainya, akan datang secara bertahap. Perjalanan pasti masih panjang. Yang saya tahu, dari hari ke hari, meski berat, saya harus memaksa diri saya untuk terus meniti perjalanan menuju tenang. Menuju terang.

Mohon doa supaya saya dikuatkan.

29 thoughts on “Tentang mencari terang

  1. amiiin. Allah tidak menguji seseorang di luar kemampuannya, mbak. kadang, apa yg tidak kita sukai, belum tentu buruk bagi kita.

  2. gerak roda hidup memang kadang tak sesuai kemudi manusia. tapi jangan pernah menyerah…
    kalau kata dewa19… hidup ini terlalu indah untuk diburamkan…
    saya suka (meski tidak banget) lagu ini…
    luv u atta.

  3. Saya tunggu senyuman ceria Anda, tawa terbahak, panggilan melalui pengeras suara, kritik membangun melalui gtalk, dan blackforest setelah Lebaran. Semoga Tuhan segera membukakan jalan terbaik.

  4. Tta, mungkin ini kesempatan bagus buat nulis di blog ini lagi.
    Banyak yang suka nengok blog ini kan? Blon apa-apa yang komen udah 5, jauh lah dari blog gue.
    Disadari atau gak sama lo, tulisan-tulisan lo di blog ini menginspirasi yang ngebaca.
    Jadi trus nulis ya Tta.
    Karena dengan nulis, lo bisa lebih mengekspresikan semua yang lo rasa, dan somehow, itu yang ngebuat pembaca lo terinspirasi

  5. Hampir terlupa bagaimana aku suka tulisan-tulisan di blog ini.

    Nikmati rasa sedihmu. Sedih juga bagian dari kehidupan. Tanpa kesedihan, tak ada kebahagiaan. Tapi jangan biarkan ia memakan dirimu pelan-pelan sampai tak tersisa. Aku tahu kamu kuat.

    Rasa kekosongan memang paling menyayat di malam hari, saat kelam datang dan udara pun sunyi. Bila rasa itu sangat tak tertahankan lagi, jangan menyendiri, isi dengan orang-orang yang menyayangimu, agar tak kosong lagi.

  6. Atta sayang,

    Atta yang dulu mungkin gak akan kembali lagi. Tapi Atta yang baru nanti adalah Atta yang lebih kuat, lebih bijak, lebih mampu bersyukur.

    Ujian itu ada, agar kita bisa naik kelas :) – dan agar kita bisa lebih siap untuk ikut ujian berikutnya dan berikutnya yang mungkin lebih berat lagi #duh.

    Rasa syukur itu salah satu syarat utama untuk bisa selamat melalui ujian-ujian itu.

    Peluk erat buat Atta…

  7. Setuju mbak, bagian mengikhlaskan, memaafkan itu tidak bisa dipaksa. Biarlah waktu yang menyembuhkan, termasuk memaafkan diri sendiri ketika memiliki perasaan bersalah.

    Lelaki sejati itu lelaki yang membantu menghadapi masalah ceweknya, bukan menghindari dengan mencari cewek lain. Allah sungguh baik, memberi pesan bahwa dia tak baik untukmu, karena kamu layak mendapatkan yang lebih baik.

    Begitu banyak alasan untuk tersenyum dan bersyukur. Begitu banyak hal-hal yang perlu dilakukan. Begitu banyak yang menyayangimu. Semua percaya, Mbak Atta pasti bisa melewati masa-masa ini. Mengirim doa, cinta dan peluk untukmu. Love you dear!

  8. Atta dear, dari kmrn udah ke sini, tapi belum ketemu kata2 yg tepat untuk berkomentar. Sampai skarang pun belum. Inginnya memberi kata2 yg menguatkan, yg bikin sabar dan ikhlas. Tapi waktu gw ingat bgmn sakitnya patah hati dulu2, rasanya ngga ada 1 kata pun yg tepat.
    So i will just pray for you. Mmg klise seklise2nya, but time will heal. Mkn skrg mmg musimnya biru. Tapi musim pasti berganti kan Ta. Learn new things, surround yourself with friends, some retail therapy will help too :)
    Luv u attaaa :*

  9. dear atta..

    Atta yang baik,
    Penantian sayah berakhir.. senangnya menjadi saksi blog ini hidup kembali, saya selalu ingat masa-masa kost dulu memaksakan diri ke warnet tengah malam (sewa lebih hemat soalnya) untuk tenggelam di dalam tulisan tulisan mu…

    Jangan larut lagi dalam sedih ya atta, sayah selalu ingat saat saya masih rajin “piknik” dulu, dan terjebak hujan badai di gn loser saya selalu menguatkan diri saya dengan menguatkan hati dan berkata.. “Jangan khawatir dengan hujan dan badai ini, jika semuanya reda langit akan kembali biru, matahari bersinar, dan kita bisa lihat pemandangan yang indah lagi” :)

    aniway demikian juga dengan problem hidup sayah kira :)

    so keep smiling, keep blogging dan sayah akan menati semua cerita2 kamu..:)

    peluk besar..(“,)

  10. Mbaaaakk…berjuang ya!
    Seminggu lagi pitulasan..

    Baca tulisan mbak Atta, jd inget..klo sy juga pernah nyaris gila sendiri di perantauan karna putus cinta.
    Tapi smua lewat..berhasil terlewati.
    Cewek mellow kyk sy aja bisa..mbak Atta pasti bisa juga kok lewatin smua!

    Mbak, jgn biarin hanyut sepi sndiri ya..smua nemenin mbak Atta walo dalam doa. Percaya!
    Kami menanti warna cerah mbak Atta lagi :D

    Luv u, mbaak..*peluk erat*

  11. Sekarang pastinya dah ga sedih lagi kan Mba. Bener kata yg di atas, waktu akan menyembuhkan. Karena setelah beberapa langkah ke depan kita baru ngeh jika apa yg ada di belakang ternyata ngga penting-penting amat. So, terus melangkah ya Mba. Masih terlalu banyak hal indah di depan sana yang teramat sayang jika dilalui dengan wajah muram. Hidup memang cuma sekali, tapi kita selalu punya pilihan untuk menjalaninya dengan senyum terkembang atau merutuki nasib sepanjang hari. Kepada anak-anak kurang beruntung yang nyanyi que sera-sera itu kita bercermin: yang terjadi, terjadilah. Karena semua akan indah pada waktunya. *HUG

  12. Sahabatku,
    Sometimes when things are falling apart, they are actually falling into place. Sudah ada yang mengatur. Kalau masih ada di sana sini yg belum terlalu teratur, giliran kita yang mengatur. Melihatnya dari perspektif yang baru, dengan pikiran tenang dan terang yang sedang kau perjuangkan. The answers you seek never come when the mind is busy, they come when the mind is still.

    Don’t get mad, get new shoes. :)

    Disclaimer: semua kalimat berbahasa asing bukan asli dari sayah. :D

  13. kuaaaat atta pasti kuat melalui itu smua…!!

    terlebih ada ibu dan doanya yang begitu tulus untuk atta tersayang.. :)

    smua itu fase yang harus dilalui seperti daun yang reras akan berganti dengan semi yang indah…

    matahari selalu terbitkan ta? :)

  14. hi atta. sudah berabad-abad rasanya gak berkunjung ke negeri senja ini.

    this too shall pass.

    dan kalau boleh menambahkan sedikit: i feel you. been there, done that, and i’m still alive at this very moment :)

  15. Ada 7 titik dalam diri kita.jika kita mampu menguasainya maka tentramlah kehidupan. 7 titik nafsu yg hanya bisa dilawan dengan 7 obat yg ditanamkan setiap saat,setiap bernafas,setiap denyut jantung. Satu detik adalah usia,dan setiap usia ada hisabnya

  16. Hallo Mbak Atta, mungkin kita belum pernah kenal sebelumnya. Tapi hari ini ketika blogwalking saya membaca tulisan Mbak atta yang begitu mengena ke diri saya. Membaca posting-posting Mbak Atta membuat saya seperti berkaca kepada diri sendiri karena saya merasa kita punya issue yang sama. Mulai dari masalah keluarga, saya dan adik saya ditinggalkan oleh ibu saya sejak dari saya SD, sehingga mengharuskan saya hanya ‘rela’ diasuh oleh Bapak saya saja, kondisi ekonomi keluarga yang kesulitan, ditinggalkan oleh kekasih yang sudah hampir lima tahun bersama, mengalami masa-masa gelap dan berjarak dengan Tuhan (mungkin sampai sekarang masih, tapi saya terus berusaha untuk lebih mendekatkan diri), merasa stuck dengan pekerjaan dan karir yang sekarang saya jalani. I feel you mbak, really. Dan terkadang saya merasa saya juga membutuhkan bantuan psikiater, tapi saya terus denial dan takut dianggap ‘tidak waras’ oleh orang-orang di sekeliling saya. Padahal saya merasa seperti sudah di ujung tanduk menghadapi diri saya sendiri. Kalau boleh Mbak atta bisa sharing emailnya ke email saya untuk sekedar sharing dan saling membantu menguatkan : lanuni2012@gmail.com. Salam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *