Tentang Keuangan

Saya benar-benar harus membenahi hidup setelah apa yang terjadi belakangan ini. Saya masih menemui dr. Erwin satu kali dalam sepekan. Berdua kami membicarakan apa-apa saja yang menjadi sumber kecemasan saya. Selain itu, dr. Erwin juga membantu saya mengistirahatkan pikiran dengan cara meditasi, yang saya rasakan manfaatnya.

Selain hubungan saya dengan ibu, ketegangan dalam hidup saya salah satunya dipicu oleh kecemasan saya akan keuangan. Yap. Lahir dan dibesarkan di keluarga yang sangat sangat sederhana, saya seperti dipaksa untuk selalu berjaga agar tidak lagi berada di dalam kondisi kekurangan.

Tapi ini justru membuat saya terus menerus berhitung. Saya meniadakan anggaran untuk perjalanan, saya berupaya mengurangi penggunaan taksi, saya membatasi pertemuan di kafe, saya mengurangi jadwal makan-makan di luar, saya mengkalkulasikan dengan cermat setiap pengeluaran, saya semakin berhitung bahkan pada diri saya sendiri. Ampun.

Sejak membeli rumah, kecemasan saya kian menjadi karena saya harus menyisakan sebagian dari penghasilan untuk membayar cicilan selama puluhan tahun. Ampun (lagi:p). Dulu, kepala saya mudah pening saat memikirkan ini :). Dan saya semakin terpicu untuk mencari pekerjaan yang lain, yang menjanjikan penghasilan lebih, sesuatu yang bahkan mungkin tidak akan saya senangi. Ketika pekerjaan lain itu tidak kunjung datang, ketegangan saya semakin meningkat. Dan ketika teman-teman saya satu per satu beralih profesi dengan gaji yang lebih tinggi, saya semakin terpuruk.

Sejatinya tak ada yang salah dengan penghasilan yang saya terima. Bahkan ketika dikurangi cicilan rumah pun, saya masih dapat menabung. Yang saya perlukan hanya pengaturan yang lebih baik. Jadi, sekarang saya mulai merombak pengaturan keuangan. Menyisihkan gaji untuk investasi misalnya harus dilakukan pada awal bulan, saat gaji baru masuk ke rekening. Dana darurat juga sudah disiapkan dan tidak diutak-atik. Sekarang saya juga menyisihkan lebih banyak untuk diri saya, melonggarkan banyak hal yang dulu saya ketatkan, memberikan hadiah untuk diri sendiri, mencoba banyak menu baru di tempat-tempat yang berbeda dan menabung untuk mempersiapkan perjalanan -saya ingin sekali berangkat umrah- :)

Yang salah dari saya pada masa kegelapan itu adalah saya lupa bersyukur. Saya lupa bahwa banyak hal di dalam perjalanan hidup saya yang tak bisa dikalkulasi dengan perhitungan matematika dasar. Dapat menyelesaikan kuliah tanpa harus cuti atau berhenti di tengah jalan adalah salah satunya. Padahal saat itu kondisi keuangan keluarga morat-marit. Namun, alhamdulillah, saya lolos dari cobaan krisis ekonomi yang terjadi pada tahun kedua perkuliahan. Waktu itu, 1998, kakak saya, yang menopang sebagian besar biaya hidup saya selama saya belajar di Solo, kehilangan pekerjaan. Tapi untungnya kami baik-baik saja. Rezeki datang dan meski harus sedikit berhemat, kuliah saya tak terganggu.

Saat mencari rumah pun begitu. Rasanya nominal-nominal harga rumah dengan angka nolnya yang berderet panjang itu begitu menakutkan. Tapi itu juga bisa dilewati :). Saya menemukan rumah yang sesuai dengan anggaran. Harusnya saya yakin, Allah yang Maha Memberi tak akan pernah tidur dan melihat upaya kita. Yang perlu dilakukan sebagai hamba hanya bekerja dengan sangat baik dan jujur, serta tidak mengambil yang bukan hak kita.

Yang diperlukan memang bukan harta yang berlimpah, tetapi penghasilan yang mencukupi dan berkah :).

10 thoughts on “Tentang Keuangan

  1. Hihi, pernah nulis soal gaji-gajian. Dan iya, (kadang) untuk kelas menengah ngehek kayak kita (kita? Lo aja kali, Kke :D), yang kurang bukan penghasilannya, tapi kemampuan memanajemen. :D

    Good luck Atta.
    Good luck gue :D

  2. Mbaak udah baca notesku di FB soal menjadi menteri keuangan? Setuju, pada dasarnya bukan soal gaji, tetapi soal bagaimana cara mengatur uang. Mengenai disiplin, memasukkan pos2 investasi, tabungan di awal bulan, dll. Mengalokasikan biaya hidup, termasuk pos pergi ke salon dan makan enak :)
    Bukan kemampuan, tetapi kemauan :)
    Aku juga baru bisa bener dan bisa nabung setelah nikah kok. Kamu lebih hebat, sebelum nikah dah punya banyak hal, harus disyukuri :)

  3. Knock..knock…

    Hi Atta, suatu keistimewaan bisa nulis comment di posting blog ini lagi. Dan masih seperti dulu, membaca negeri senja ibarat pengalaman melarutkan pikiran dan perasaan ke dalam suatu narasi. Dalam dan menyentuh. Juga selalu menginspirasi.

    Banyak banget ya babak-babak hidupmu yang gw lewatin. Tiba-tiba lompat di bab baru ini.

    Always enjoy your work, alwas look for meeting you soonest!

  4. Salam kenal…bersyukur dan ikhlas.kadang sudah bersyukur tapi kurang ikhlas.tiba tiba timbul penyesalan sepersemilyar detik setelah memasukan uang k kotak amal. Bersyukur dan ikhlas seperti telur dan ayam.susah untuk menentukan mana yg lebih duluan.

  5. Ataaaaaaaaaaaaaa ta ta ta ta ta ta ta ta kangen ngen ngen ngen ngen…. Ini bukan eho ho ho ho ho ….. Ini as li li li li
    Cayyo bu… Kamu pasti bisa melewati semuanya!!!!!!!! Amin….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *