Kembali Padamu

“Jangan berkeluh-kesah. Apapun yang hilang darimu, kembali juga padamu dalam wujud yang lain.” – Rumi

Untuk …
rasa kosong yang tiba-tiba hadir.
nyeri yang sesekali masih dapat diraba di hati.
luka yang belum kering.
bisikan harap dalam sujud pada sepertiga malam.
bulir-bulir air mata yang tumpah.
doa yang terucap selepas salam.
pertanyaan dengan awalan: mengapa?, kenapa mesti saya?. mengapa mesti kita?.
upaya meyakinkan diri, tanpa henti, setiap hari.
ikhtiar menghalau rindu.
usaha meminggirkan kemarahan.
perjuangan menghadirkan akal sehat.
beragam cara yang dilakukan guna mengusir kesedihan.

Semoga Allah,
mengganti semuanya dengan ketabahan, kekuatan, kesabaran, kecintaan dari teman, sahabat, dan keluarga, serta kesehatan.
mengangkat kesedihan.
menghujani dengan kasih dan berkah-Nya.
menjaga dan melindungi, senantiasa.
menyiapkan yang terbaik, hanya yang terbaik.

Tentang Keuangan

Saya benar-benar harus membenahi hidup setelah apa yang terjadi belakangan ini. Saya masih menemui dr. Erwin satu kali dalam sepekan. Berdua kami membicarakan apa-apa saja yang menjadi sumber kecemasan saya. Selain itu, dr. Erwin juga membantu saya mengistirahatkan pikiran dengan cara meditasi, yang saya rasakan manfaatnya.

Selain hubungan saya dengan ibu, ketegangan dalam hidup saya salah satunya dipicu oleh kecemasan saya akan keuangan. Yap. Lahir dan dibesarkan di keluarga yang sangat sangat sederhana, saya seperti dipaksa untuk selalu berjaga agar tidak lagi berada di dalam kondisi kekurangan.

Tapi ini justru membuat saya terus menerus berhitung. Saya meniadakan anggaran untuk perjalanan, saya berupaya mengurangi penggunaan taksi, saya membatasi pertemuan di kafe, saya mengurangi jadwal makan-makan di luar, saya mengkalkulasikan dengan cermat setiap pengeluaran, saya semakin berhitung bahkan pada diri saya sendiri. Ampun.

Sejak membeli rumah, kecemasan saya kian menjadi karena saya harus menyisakan sebagian dari penghasilan untuk membayar cicilan selama puluhan tahun. Ampun (lagi:p). Dulu, kepala saya mudah pening saat memikirkan ini :). Dan saya semakin terpicu untuk mencari pekerjaan yang lain, yang menjanjikan penghasilan lebih, sesuatu yang bahkan mungkin tidak akan saya senangi. Ketika pekerjaan lain itu tidak kunjung datang, ketegangan saya semakin meningkat. Dan ketika teman-teman saya satu per satu beralih profesi dengan gaji yang lebih tinggi, saya semakin terpuruk.

Sejatinya tak ada yang salah dengan penghasilan yang saya terima. Bahkan ketika dikurangi cicilan rumah pun, saya masih dapat menabung. Yang saya perlukan hanya pengaturan yang lebih baik. Jadi, sekarang saya mulai merombak pengaturan keuangan. Menyisihkan gaji untuk investasi misalnya harus dilakukan pada awal bulan, saat gaji baru masuk ke rekening. Dana darurat juga sudah disiapkan dan tidak diutak-atik. Sekarang saya juga menyisihkan lebih banyak untuk diri saya, melonggarkan banyak hal yang dulu saya ketatkan, memberikan hadiah untuk diri sendiri, mencoba banyak menu baru di tempat-tempat yang berbeda dan menabung untuk mempersiapkan perjalanan -saya ingin sekali berangkat umrah- :)

Yang salah dari saya pada masa kegelapan itu adalah saya lupa bersyukur. Saya lupa bahwa banyak hal di dalam perjalanan hidup saya yang tak bisa dikalkulasi dengan perhitungan matematika dasar. Dapat menyelesaikan kuliah tanpa harus cuti atau berhenti di tengah jalan adalah salah satunya. Padahal saat itu kondisi keuangan keluarga morat-marit. Namun, alhamdulillah, saya lolos dari cobaan krisis ekonomi yang terjadi pada tahun kedua perkuliahan. Waktu itu, 1998, kakak saya, yang menopang sebagian besar biaya hidup saya selama saya belajar di Solo, kehilangan pekerjaan. Tapi untungnya kami baik-baik saja. Rezeki datang dan meski harus sedikit berhemat, kuliah saya tak terganggu.

Saat mencari rumah pun begitu. Rasanya nominal-nominal harga rumah dengan angka nolnya yang berderet panjang itu begitu menakutkan. Tapi itu juga bisa dilewati :). Saya menemukan rumah yang sesuai dengan anggaran. Harusnya saya yakin, Allah yang Maha Memberi tak akan pernah tidur dan melihat upaya kita. Yang perlu dilakukan sebagai hamba hanya bekerja dengan sangat baik dan jujur, serta tidak mengambil yang bukan hak kita.

Yang diperlukan memang bukan harta yang berlimpah, tetapi penghasilan yang mencukupi dan berkah :).

Tentang saya dan ma’e

Dalam perenungan mengenai akar dari kecemasan yang berlebihan, saya menemukan salah satu sumbernya adalah relasi saya dan Ibu, yang saya panggil sehari-hari dengan sapaan Ma’e.

Hubungan kami berdua tak bisa dibilang mulus. Saya menyayanginya. Tapi kalau mengingat bagaimana pasang surut hubungan kami beberapa tahun ke belakang ini, saya berharap Tuhan mengampuni semua kesalahan saya padanya :(.

Dalam perenungan saya menemukan, saya masih menimpakan kesalahan atas banyak hal yang terjadi pada masa lalu pada Ma’e. (Atas ketiadaan bapak sejak saya lahir -ayah saya memutuskan berpisah dengan Ma’e saat ibu saya masih mengandung saya-, atas kesulitan hidup yang sempat kami alami, atas ketiadaan orang yang dituakan dalam keluarga yang sering memaksa saya mengambil keputusan sendirian, atas kesendiriannya sehingga menjadikan kami keluarga yang “ajaib” dan hanya bertiga saja; Ma’e, saya, dan kakak saya, atas ini dan itu, atas banyak hal).

Keengganan menerima dan mengikhlaskan apa-apa yang terjadi pada masa lalu berdampak pada pilihan tindakan yang saya lakukan untuk Ma’e. Beberapa kejadian juga membuat saya kehilangan kepercayaan dan kesabaran pada ibu saya. Tak jarang kami bersitegang. Gusti, mohon saya diampuni :(.

Selain itu, saya juga dihantui kekhawatiran bahwa saya tidak dapat membahagiakannya di usia Ma’e yang makin sepuh. Saya misalnya masih belum mampu membeli kendaraan pribadi -yang berdampak pada kerepotan saat kami harus bepergian-, atau hanya bisa membeli rumah di kompleks yang jauh dan sepi sehingga ia lebih banyak sendiri saat saya bekerja, atau karena sampai seusia ini saya masih melajang (meski dia tak pernah mempersoalkannya, tapi tetap ini menjadi salah satu kecemasan saya). Kekhawatiran ini justru membuat saya menjadi lebih keras terhadap Ma’e.

Melalui masa sulit ini, Ma’e lagi-lagi menunjukkan bahwa kegetiran dan kesulitan hidup menempanya menjadi sosok yang lebih kuat, jauh lebih kuat dari saya. Dia mencintai saya tanpa syarat, benar-benar memberi tanpa mengharapkan kembali. Kasih sayangnya terus berlimpah. Kesabarannya tak bertepi.

Saya tahu saya harus berdamai dengan banyak hal. Mengikhlaskan apa-apa yang pernah kami hadapi pada masa lalu. Menemaninya menjalani hari tuanya dengan tenang dan tanpa beban. Saya menyesal menempatkannya dalam situasi seperti sekarang, dalam kesedihan yang dalam seperti saat ini. Menyesal, sangat.

Sekarang, saya mengubah interaksi saya dengan Ma’e. Saya mencoba lebih bersabar. Nada suara saya juga tak lagi tinggi. Saya meneleponnya lebih sering. Saya menemaninya menonton sinetron yang dia sukai. Dalam sepekan, saya usahakan dapat pulang lebih cepat minimal 2 hari, agar memiliki waktu lebih untuk memijat kakinya sebelum tidur. Saya juga bangun lebih pagi agar dapat menemaninya duduk di teras depan rumah. Saya berdoa semoga Allah memberikan Ma’e kesehatan.

Saya ingin Ma’e bisa lebih bahagia. Saya akan terus berupaya.

Tentang mencari terang

Lights will guide you home
And ignite your bones
And I will try to fix you
(Fix You — Coldplay)

Saya tak jelas mengingat bagaimana semua ini bermula. Yang pasti, secara perlahan saya kehilangan semangat.

Saya mulai mengeluh atas banyak hal. Jalanan yang macet, cuaca yang panas, antrean penumpang kereta komuter yang tidak tertib, pekerjaan yang kurang menggairahkan, rutinitas, pencapaian, eksistensi, kebendaan, dan banyak hal lain, dan banyak hal lain.

Saya gampang meledak. Hal-hal kecil bisa membuat darah saya mendidih. Saya menanggapi keberhasilan orang lain dengan sinis. Saya tak kunjung menemukan seperti apa sebenarnya tujuan yang akan saya capai. Saya membandingkan hidup saya dengan orang lain dan merasa jauh tertinggal. Seorang teman bahkan berkata, saya tak ubahnya kucing yang berputar-putar mengejar buntutnya sendiri. Ampun. Saya membiarkan diri saya dalam labirin dan menyengajakan diri berlama-lama di sana.

Saya gundah berharihari, berpekanpekan, berbulanbulan, bertahuntahun. Saya mengeluh, dan mengeluh, dan mengeluh. Saya berhitung atas banyak hal yang tak saya punya. Saya mengeluh, dan mengeluh, dan mengeluh.

Suasana hati yang muram membuat saya kehilangan banyak hal. Kehilangan minat terhadap kegiatan yang dulunya membuat saya bergembira menjalankannya. Saya tak lagi memotret. Saya berhenti menulis blog. Saya menarik diri dari kerumunan. Saya menghindari bertemu teman lama. Saya menjalankan keseharian tanpa membawa saya. Saya memudarkan harapan. Saya terus kehilangan saya. Berharihari, berpekanpekan, berbulanbulan, bertahuntahun.

Tapi kehilangan terbesar buat saya adalah kehilangan orang terdekat. Saya kehilangan cinta dari laki-laki harum hutan. Ini bukan keputusan yang dia buat dalam satu malam. Saya tahu, kondisi saya yang terus menerus didera kecemasan akhirnya menipiskan kesabaran dan kekuatannya untuk bertahan di samping saya. Saya sedikit banyak memahami apa yang membuatnya mengambil keputusan itu.

Dan saya mengubur diri dalam penyesalan. Mengapa saya tidak lekas memperbaiki diri. Terus menerus muram dan membuatnya didera kelelahan yang tak kalah besar. Menggerus energinya. Membuat saya lalai merawat cinta yang kami miliki selama ini. Saya abai menjaga kasih yang kami bangun, bersama. Sampai dia akhirnya memutuskan bahwa bukan saya lagi yang dipilih untuk memenuhi hatinya, untuk menemani langkahnya, menjemput senja. Bukan saya. Dia menambatkan jangkarnya di laut yang lain :(

Kali ini kecemasan saya makin besar. Hidup saya kosong. Separuh dari badan saya seperti dipaksa lepas. Saya kehilangan nafsu makan, lemas berkepanjangan, mual yang tiba-tiba muncul dan makin sering. Ada beberapa malam saya bahkan tak berani sendiri di kamar. Kalau sudah begini, ibu saya -yang sudah sepuh dan masih harus direpotkan itu, duh Gusti- akan menemani saya di kamar tidur sampai pagi. Saya menangis. Dan menangis. Dan menangis. Dan menangis. Dan menangis.

Perasaan ditinggalkan seperti mendorong saya ke ruangan luas, bercat putih, dan saya terduduk di sudut. Lengang yang sangat. Atau dilontarkan ke ruang hampa udara, melayang, sendiri. Atau dibiarkan di tengah kepadatan Shibuya. Saat pejalan kaki berseliweran melintas, tak beraturan. Dan saya kebingungan. Keramaian yang sepi. Sepi di tengah ramai. Saya takut.

Dan kehilangan ini akhirnya memaksa saya untuk berhenti. Saya berserah pada Tuhan -hal yang lama tak saya jalankan. saat dilanda kecemasan berlebihan, saya justru lama meninggalkan sholat- :(. Saya memohon semoga Allah dengan kuasa dan kerahiman-Nya membereskan banyak hal yang tidak bisa saya urai. Pasrah.

Perjalanan masih panjang dan saya harus punya kekuatan untuk sembuh. Kecemasan berlebihan ini membuat saya tak bisa berpikir jernih. Mengambil banyak hal baik dalam hidup saya. Memaksa saya merasakan kehilangan yang terdalam.

Saya tahu saya butuh pertolongan. Saya tak akan bisa melakukannya sendiri. Jadi saya mengontak teman-teman dekat. Saya mulai menemui psikiater. Satu kali dalam satu pekan, saya sambangi dr. Erwin. Saya memilih berkonsultasi di ruang praktek di rumahnya di daerah Menteng. Laki-laki paruh baya dengan rambut putih ini begitu sabar.

Sejak awal saya tekankan, saya tidak akan mengonsumsi obat penenang. Tidak akan. Meski kesedihan saya teramat sangat -sampai-sampai saya bisa berjalan di peron stasiun, mendengarkan derak laju kereta, dan tiba-tiba meneteskan air mata tanpa henti, ampun- saya tetap menolak untuk menggunakan obat. dr. Erwin memahami pilihan saya. Dia hanya meminta saya tidak membiarkan pikiran buruk menguasai. Teknik hipnosis dan gabungan meditasi yang diajarkan membantu mengistirahatkan pikiran saya yang penuh.

Saya masih menemuinya. Dan masih akan ada lagi pertemuan-pertemuan berikut sampai beberapa bulan mendatang.

Ini bukan kerja yang singkat, ujarnya satu malam, saat saya sibuk dengan tisu untuk menghapus sisa air mata dan menenangkan diri setelah lagi-lagi menangis di depannya. Dia berkata, saya memaksa pikiran saya untuk menampung beragam hal, membayangkan kemungkinan-kemungkinan, dan menyuburkannya dengan asumsi buruk. Alhasil, kecemasan kian menjulang, makin tinggi.

Saya yakin kamu bisa, sudah banyak yang kamu lalui untuk sampai di sini. Paham dan sadar bahwa kamu perlu pertolongan adalah jalan awal untuk memperbaiki diri, katanya.

Saya belum sepenuhnya mampu mengendalikan kesedihan. Masih banyak yang tersisa. Energi saya juga belum benar-benar positif. Tapi saya mulai berhenti mengeluh. Saya tak lagi dipusingkan oleh ruas jalan di depan Pasar Serpong yang macet setiap hari atau ketika saya terlambat mengejar kereta api. Saya setiap hari berusaha tak memusingkan hal-hal kecil.

Saya belum sepenuhnya pulih. Masih ada bagian dari diri saya yang belum sepenuhnya berhenti menyesali. Kendati demikian, saya mampu mensyukuri. Bahwa pada saat-saat muram sekali pun, saya tak melarikan diri saya ke narkoba, atau minuman keras, atau rokok :). Saya bersyukur bahwa bahkan pada saat sulit, saya masih dapat membeli rumah, menghadapi tes kenaikan karir di kantor. Saya bersyukur performa pekerjaan saya tak benar-benar anjlok. Saya bersyukur saya tak perlu dilarikan ke rumah sakit karena melakukan hal-hal buruk. Alhamdulillah.

Sekarang saya cuma ingin tenang. Itu saja. Bagian mengikhlaskan, memaafkan, dan sebagainya, akan datang secara bertahap. Perjalanan pasti masih panjang. Yang saya tahu, dari hari ke hari, meski berat, saya harus memaksa diri saya untuk terus meniti perjalanan menuju tenang. Menuju terang.

Mohon doa supaya saya dikuatkan.