Berlin, perjumpaan kedua

Hidup seperti berjalan ke sebuah kedai dengan banyak kotak yang disusun rapi dibungkus beragam kertas berwarna-warni. Beraneka corak. Atau polos.

Saya membayangkannya seperti itu.

Toko kecil di ujung jalan dengan harum kayu manis. Dengan lonceng mungil di atas pintu masuk yang berdenting setiap kali daun pintu terbuka.

Toko dengan penjaga berparas ramah. Laki-laki paruh baya yang gempal. Yang melayani pelanggannya seperti menyambut anggota keluarga. Yang tak henti bercerita laksana perjumpaan dengan teman dekat.

Dan setiap kali bertemu dengannya, kita tak pernah tahu kotak mana yang akan disodorkannya. Kotak biru dengan pita lebar berwarna perak. Atau kotak coklat. Mungkin kotak dengan kertas bergambar pemandangan alam. Kali lainnya, kotak dengan corak kotakkotak yang diberikannya.

Begitu terus setiap hari. Laki-laki paruh baya, tersenyum. Menyodorkan kotak, bercerita hal-hal kecil seputar hidupnya. Menunggu kabar terbaru tentang hidup kita. Menawarkan permen susu. Meminta kita kembali malam nanti untuk mencicipi sup jagung. Atau menghadiahi setangkai aster yang baru saja dipetik dari kebun di belakang tokonya.

Ia, di situ, setiap hari, dengan puluhan kotak. Yang diberikannya pada kita. Tanpa henti. Biru, perak, abu-abu, kotakkotak, coklat, bungabunga, putih polos, polkadot, garisgaris, abstrak.

Dan kita, setiap hari, datang ke toko yang sama, menunggu laki-laki paruh baya memberikan kotak, dan mencandu harum kayu manis di toko kecil di ujung jalan.

Saya berjalan ke toko itu akhir tahun lalu. Berlari-lari kecil di bawah hujan Desember menghindari genangan. Sesekali membetulkan cardigan.

Dan lonceng kecil berdenting ketika saya melangkah menuju toko. Menunggu penjaga yang baik hati memberikannya kotaknya pada saya, hari itu.

Lihat apa yang saya dapat. Kotak dengan motif bintang kecilkecil. Dia tersenyum. Saya tersenyum lebih lebar lagi. Ini sesuatu yang saya nantikan. Jawaban dari pertanyaan atas ketidakmampuan yang segelintir orang sematkan pada saya. Saya benar-benar memerlukannya. Lepas sejenak dari Jakarta dan pergi ke tempat yang pernah saya kunjungi dua tahun lalu.

Kali ini untuk masa yang lebih lama. Pada perjumpaan pertama, saya hanya singgah kurang dari sepekan. Saya begitu terpesona. Berlin pada musim panas waktu itu adalah Berlin yang menyenangkan. Transportasi publik yang baik, penduduk kota yang ramah, dan bangunan dengan arsitektur yang menarik.

Jadi, berangkatlah saya, pada awal Februari lalu. Saya menikmatinya. Di sini. Lepas dari penat dan pertanyaan atas pencapaian yang mendominasi hari-hari saya belakangan. Sejenak menyingkir dari keseharian. Tidak sepenuhnya terbebaskan karena di sini saya juga bergelut dengan hal-hal yang setiap hari saya hadapi di Jakarta. Bagaimana meliput yang baik, bagaimana menaruh ruh dalam berita, dan ini, dan itu.

Saya perlu kotak dengan motif bintang kecilkecil ini. Kembali ke Berlin adalah hal yang luar biasa. Saya menikmati setiap jejak yang saya buat di sini karena saya tahu pada April nanti saya harus kembali.
Kelak pada saat masa itu tiba, saya berharap laki-laki paruh baya di toko kecil di pinggir jalan, dengan banyak kotak, dan harum kayu manis akan memberikan saya kotak lain yang sama menyenangkannya.

Sekarang, saya hanya ingin menikmati Berlin. Menunggu musim dingin pergi dan musim semi menjelang.

10 thoughts on “Berlin, perjumpaan kedua

  1. heh? Desember tahun lalu? April balik lagi? lanjuI think I’m missing something here ….
    Anyway, kapan ke Thüringen? Chat yuk!

  2. Negeri Senja, lama sekali aku tak berkunjung ke negeri ini. Ketika mencoba mengingat beberapa teman karibku dulu, Atta, nama itu muncul begitu saja di kepala.

    Hmm, Negeri Senja, pikirku. Sengaja kutengok melalui jalan setapak “google”. Kutemukan juga coretan ini, di bulan Pebruari.

    Atta, jujur aku berkata, tulisanmu nyaman dibaca. setiap jengkal kalimat yang disusun nikmat dicerna. Barangali, ini karena perjalanan panjangmu di dunia “coret-mencoret”.

    Atta, karibku, terus berkarya.

  3. It is always nice to read through your lines.. hope this renew our touch base and making us back in active communication again after all these years.. hugs from Iraq.. yes, that Iraq that still blowing…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *