Menitip rindu

Ketika pagi pergi, perjalanan menitip rindu dimulai.

Bergerak. Rinduku.

Kutitipkan ia, rinduku, di ujung atap pasar becek di pinggir kali. Di tepian ranting pohon randu yang berdiri berjajar di sepanjang rel. Di sela-sela kerikil di jalan setapak menuju rumah berpintu kayu. Di bunga eceng gondok warna ungu yang berkumpul di rawa dekat balai desa. Di biru air laut tak jauh dari stasiun Plabuan. Di nyanyian pelajar berseragam putih merah yang meniti aspal menuju sekolah. Di senyum ramah penjaja teh. Di harum yang ditinggalkan fajar sesaat sebelum ia benar-benar menghilang. Di ujung hijau daun pakis. Di dua bangku panjang di belakang bangunan tua bercat putih. Di wajah sabar pengendara sepeda yang menunggu palang kereta api dibuka. Di pijar matahari yang mulai tinggi. Di rerumputan yang bertetangga dengan talas. Di satu, dua, tiga, empat, lima burung berbulu putih yang terbang rendah menyebrangi persawahan.

Kelak, ketika kau melintasi jalan yang sama, kau akan jumpai, rindu, yang kutitipkan itu, di sana; ujung atap pasar becek di pinggir kali, tepian ranting pohon randu yang berdiri berjajar di sepanjang rel, sela-sela kerikil di jalan setapak menuju rumah berpintu kayu…

Oktober, antara Gambir-Tawang

4 thoughts on “Menitip rindu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *