Tak menyerah

Saya tak pernah tahu menjadi 31 ternyata begitu menyulitkan. Pikiran saya kerap dipenuhi kecemasan yang tak penting; pencapaian, masa depan, penyesalan atas waktu yang -menurutsaya- terbuang sia-sia, bayangan-bayangan yang belum nyata.

Hidup sepertinya terlalu bergegas dan saya tak mempersiapkan bekal yang cukup untuk itu. Seperti lalai membawa kotak makan ketika piknik akhir pekan. Atau seperti mendaki bukit dan diterpa kelelahan yang sangat.

Dan saya begitu merindu menulis. Tapi saya tak menulis ketika cemas. Kalimat menguap ketika sedih berkepanjangan.

Buntu

Ini hanya benang kusut yang harus diurai, pelan-pelan.

Malam ini saya putuskan:

Saya tak hendak menyerah pada hidup. Saya berjanji untuk itu… :)

Sekarang, saya benar-benar memerlukan secangkir coklat panas …