Untuk Indonesia

Saya masih ingat betul larik percakapan antara saya dengan Fabien. Pekan lalu di bawah gerimis, saya berjalan beriringan dengan pria asal Perancis itu menuju titik awal bermain kano. Ia berada di Utrecht untuk mengambil kelas bahasa Belanda.

Sepanjang jalan, kami berbicara banyak hal; tentang mimpinya untuk bekerja di Belanda dan berada dekat dengan pujaan hatinya yang warga negara Belanda, tentang Paris, tentang betapa sulitnya mempelajari bahasa Perancis, tentang sistem pemerintahan di negaranya, tentang krisis ekonomi global, tentang Indonesia, Tanah Air tercinta.

“Maaf. Tapi yang saya ingat tentang Indonesia adalah peristiwa kerusuhan beberapa tahun lalu dan kerusakan di mana-mana,” ujarnya, dalam perbincangan.

Ia tak salah. Serangkaian peristiwa kelam yang sempat terjadi di negara kita menempel dan menempati ruangan dalam ingatan Fabien.

Saya kemudian berupaya untuk menjelaskan bahwa kondisi keamanan di Indonesia berangsur-angsur membaik pada beberapa tahun belakangan ini dan memintanya untuk memasukkan Bali, juga sejumlah titik menarik lainnya, dalam rencana perjalanan Fabien ke Asia.

Ia mengangguk. “Saya belum pernah ke Asia. Baiklah, nanti saya akan pertimbangkan,” tuturnya.

Ingatan tentang Indonesia yang suram juga menetap di pikiran Jane, mahasiswa asal Amerika Serikat.

“Bom,” jawabnya singkat, ketika saya bertanya apa hal yang terlintas pertama kali di benaknya ketika ia mendengar nama “Indonesia”. Kala itu kami berdua tengah berjalan mengitari jalan-jalan berbatu di Antwerp, Belgia.

Sama seperti yang saya katakan dengan Fabien, saya ingin Jane melihat Indonesia dari perspektif yang lain.

Tapi hari ini, saya khawatir keduanya tak segera membangun bayangan tentang Indonesia yang ramah dan jelita.

Pagi tadi, siaran berita di CNN terus menerus menayangkan potongan gambar mengenai ledakan di Hotel JW Marriott dan Ritz Carlon, Jakarta. Di sana asap membumbung, wajah-wajah panik, raungan sirine, petugas keamanan yang berseliweran, korban yang dilarikan ke rumah sakit, air mata, duka.

Dan kesedihan memeluk saya.

Ini tentu bukan wajah Indonesia -Tanah Air yang saya banggakan, rumah tempat saya pulang- yang ingin kita kabarkan ke dunia.

Dan kini kita kembali menolak tunduk untuk takut, melawan pada setiap tindakan yang menghentikan upaya untuk membawa Indonesia ke arah yang lebih baik, untuk kita, keluarga, anak cucu kita nantinya. Saya percaya kita akan sampai pada kehidupan yang jauh jauh lebih menjanjikan kelak.

-teriring doa untuk seluruh korban yang berpulang-

5 thoughts on “Untuk Indonesia

  1. aku juga jadi nelongso, teroris itu memancingku untuk ngomong kasar.

    *atta… aku baru ngeh klo kamu lagi di belanda. what a wonderful journey u have dear, u just 30 but u’ve visited many places. congrats……!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *