Tentang Jane

kelas-di-utrecht

Kali ini tentang Jane. Saya lupa menanyakan nama lengkapnya. Usianya mungkin sekitar 50-an. Ia datang dari Florida, Amerika Serikat. Awalnya saya mengira ia adalah dosen pendamping untuk mahasiswa dari Universitas Florida. Sejumlah kampus memang mengirimkan dosen yang turut mengikuti perkuliahan dan mendampingi mahasiswa selama kelas musim panas berlangsung.

Tapi dugaan saya salah. Saya baru mengetahuinya saat kami berjalan bersisian di trotoar dari hotel tempat rombongan menginap menuju Universitas Antwerp, Belgia, pada pekan lalu. Tiga materi, yang menjadi bagian dari program sekolah musim panas, memang dijadwalkan untuk disampaikan di Universitas Antwerp.

Dan Jane, yang saat itu mengenankan kaos biru, tertawa renyah saat saya mengatakan bahwa saya mengira ia adalah staf pengajar.

“Hahaha, kamu salah tebak kalau begitu. Banyak juga yang mengira bahwa saya dosen, bisa jadi karena saya lebih tua di antara siswa lainnya ya,” ujarnya.

kelas-antwerp

Jane kini tercatat sebagai mahasiswa S1 untuk program Studi Wanita di Universitas Florida. Ia kembali sekolah setelah putra semata wayangnya berusia 23 tahun. Usia lanjut tak menghalangi niatnya untuk meraih gelar S1. Ia terlihat tetap bersemangat. Selama di kelas, ia rajin mencatat dan bertanya.

“Dulu saya tak punya waktu dan uang untuk sekolah. Jadi saya fokuskan saja untuk mengurus keluarga. Tapi saya tahu, satu hari nanti waktu saya akan datang. Dan begitu anak saya besar, saya punya lebih banyak waktu untuk diri saya sendiri. Dengan uang tabungan yang ada, saya kembali belajar,” katanya.

Jane benar-benar memberi inspirasi bagi saya. Hikmah hidup bisa datang kapan saja di mana saja. Di jalanan berbatu pada pagi yang sejuk, saat kami berdua menyusuri lorong-lorong dengan bangunan tua di kanan dan kirinya, Jane membaginya untuk saya.

Kendati saya tahu, bahwa belajar tak hanya identik dengan kembali ke kampus, mempelajari buku teks, dan segala detil lainnya, tapi juga didapatkan dari banyak hal di luar gedung sekolah; dari relasi dengan sekitar, aktivitas di dalam komunitas, dan membaca banyak literatur, misalnya; pada satu saat nanti saya harus kembali sekolah. Memutus rantai kemalasan yang selama ini melilit saya. Menyisihkan waktu untuk merealisasikan mimpi saya di tengah rutinitas yang setiap hari dijalani di Jakarta.

“Ah ya, kelak waktumu akan datang juga. Percayalah, kembali ke kampus itu menyenangkan,” tutur Jane.

Kalau nanti saya akhirnya melanjutkan kuliah, disibukkan dengan tugas-tugas yang membuat saya tak bisa berleha-leha di akhir pekan, menenggalamkan diri dalam bahan bacaan, mencari teman diskusi, dan berharap bisa lulus ujian, Jane pasti akan menjadi orang pertama yang saya ingat :)

Ya, Jane, pagi yang sejuk, dan jalanan berbatu dengan gedung-gedung kuno di kanan dan kirinya, di Antwerp…

7 thoughts on “Tentang Jane

  1. Saya jadi semangat utk kembali ke kampus next year dan peran sebagai bundanya Onith and Anggara tidak boleh ditinggalkan …. Fighting.

  2. tulisan ini bikin saya kembali bersemangat untuk sekolah lagi melanjutkan impians aya jadi dokter spesialis thanks atas tulisan yang sangat menggugah ini

  3. jadi teringat teman saya mbak..
    penderita thalasemia dg vonis umur yg tdk panjang. Namun tetap semangat menjalani kuliah magister, nyelesein penelitian, tetap buka praktek dokter, serta selalu ceria dan tak mengeluh.. Walopun wajahnya sering pucat krn Hb darah rendah..
    Jadi malu dg kemalasanku sendiri *sigh*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *