Mencontreng di Negeri Tulip

Pengalaman meliput pemilihan umum legislatif pada 9 April 2009 menjadi catatan tersendiri dalam karir jurnalistik saya. Maklum, sebagai jurnalis yang ditempatkan di halaman politik. perhelatan pesta demokrasi merupakan puncak dari rangkaian persiapan pemilihan umum yang sudah dilakukan sejak jauh-jauh hari. Alhasil, pada hari pencontrengan, saya meliput mulai pagi hari hingga lepas maghrib.

Saya masih ingat betul momen itu. Melihat proses pemungutan suara, menghubungi pengamat politik, menelepon lembaga riset yang melakukan penghitungan cepat, sampai menunggu pernyataan dari para peserta pemilihan umum. Bisa dibilang itu adalah hari tersibuk sepanjang tahun ini.

Semula saya kira saya juga akan kembali mengalami hari yang heboh pada pemilihan presiden. Tapi ternyata takdir berkata lain :D

Saat ini saya berada jauh dari rumah, jauh dari kantor, jauh dari rutinitas yang saya lakoni selama di Jakarta. Tapi saya tetap bersemangat untuk memberikan suara. Kian semangat sejak saya mendengar kabar bahwa Mahkamah Konstitusi mengeluarkan putusan yang membolehkan pemilih menggunakan hak pilihnya dengan berbekal Kartu Tanda Penduduk dan paspor. Kalau peraturan ini belum keluar, bisa jadi saya akan kesulitan menggunakan hak pilih, karena nama saya jelas-jelas tak ada di dalam daftar pemilih tetap di Belanda.

Jadi, sore tadi, setelah kelas usai, saya, Ina, qq, dan Mbak Wangge berangkat dari Utrecht menuju Kedutaan Besar RI (KBRI) di Den Haag. Kami bertolak dengan menumpang kereta api. Perjalanan menuju Den Haag memakan waktu sekitar 40 menit. Dari Stasiun Den Haag Central, kami melanjutkan perjalanan dengan bis dan berjalan kaki menuju KBRI.

pemilu-011
Prosesnya sangat mudah. Sesampainya di KBRI, kami hanya perlu menunjukkan paspor. Pendaftarannya juga sangat cepat. Setelah mendapatkan kartu suara, masing-masing dari kami, kecuali Mbak Wangge karena ia telah mendapatkan surat suara yang dikirimkan lewat pos, menuju bilik suara dan memilih. Mudah dan cepat.

pemilu-03
Ketua Panitia Pemilihan Pemilu Luar Negeri (PPLN) Pak Moeljo Wijono menuturkan bahwa animo masyarakat Belanda untuk mengikuti pemilihan presiden terlihat tinggi. Sejak pagi, pemilih datang ke KBRI dan mengantri untuk mencontreng. Suasana KBRI juga terlihat kian semarak karena pemilih umumnya datang bersama keluarga. Ia juga optimistis, jumlah surat suara yang kembali juga akan tinggi.

Meski sibuk mengurusi ini dan itu, Pak Moeljo mengatakan ia senang melakukan ini. “Ini sudah pemilu ketiga loh saya jadi Ketua,” ujarnya, tersenyum.

Berbeda dengan Pak Moeljo yang telah berkali-kali menggunakan hak pilihnya di Negeri Tulip, ini pengalaman pertama untuk saya. Senang melihat bahwa kendati dipisahkan oleh jarak yang teramat jauh, ikatan sebagai bangsa tidak lantas pupus.

Bagi saya, siapapun presiden yang terpilih, semoga keadaan di Tanah Air ke depannya jauh lebih baik. Saya ingin sekali sistem transportasi kita jauh lebih baik, seperti yang saya lihat di sini. Saya juga ingin perekonomian kian meningkat; tidak hanya besaran pertumbuhan ekonominya saja tapi juga pertumbuhan yang menggenjot kualitas hidup masyarakat. Saya juga berharap makin banyak orang Indonesia yang dapat mengenyam pendidikan tinggi dan ikut terlibat dalam komunitas global. Saya percaya kita sebenarnya mampu :) Bukan begitu?

2 thoughts on “Mencontreng di Negeri Tulip

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *