Tentang Kemudahan Bepergian

pelangi2

“Bepergian itu bagaikan candu. Jika sudah mengunjungi satu tempat, kamu akan memiliki keinginan untuk mengunjungi yang lainnya, terus begitu. Dan perjalanan itu menyenangkan, karena tiap-tiap tempat menawarkan sesuatu yang berbeda” – Ray dalam perjalanan setengah hari di Paris.

Di kaki Menara Eiffel, akhir pekan lalu, saya -dan tiga orang teman lain yang bepergian dalam satu grup dari Utrecht, Belanda- bersua dengan Ray. Laki-laki usia 32 tahun asal Filipina itu bekerja untuk kapal pengangkut barang. Saat kapalnya sandar di Antwerp, Belgia, ia menyempatkan diri untuk mengunjungi Paris dalam satu hari, tanpa bermalam. Tiba di Paris pada pagi hari, Ray kembali lagi ke Antwerp pada petang harinya. Ia kemudian ikut dalam rombongan kami.

Bepergian antarnegara di benua Eropa, seperti yang Ray lakukan, bukan sesuatu hal yang pelik. Lupakan pemeriksaan di tiap-tiap perbatasan negara. Perjalanan dari negara yang satu ke negara yang lain tak ubahnya meloncati kota demi kota di dalam satu negara saja.

Hal ini dimungkinkan setelah ditekennya perjanjian Schengen pada 1985. Sejumlah negara di Eropa melalui kesepahaman yang dibuat di Schengen, sebuah desa di Luxemburg, sepakat untuk menghapus pengawasan perbatasan di antara mereka. Perjanjian ini juga mencakup regulasi bersama untuk izin masuk jangka pendek, penyelarasan kontrol perbatasan eksternal, dan kerjasama polisi lintas batas.

Pemegang paspor atau visa dari salah satu negara, yang menerapkan perjanjian Schengen, dapat leluasa melakukan perjalanan dari dan ke negara-negara tersebut.

katedral2

Saya mengurus visa Schengen di Kedutaan Besar Belanda. Visa yang menempel pada paspor saya itu menjadi bekal untuk singgah ke negara yang bertetangga dengan Negara Kincir Angin. Pada saat sekolah musim panas berlangsung, saya sempat mengunjungi Belgia. Peserta sekolah musim panas dibawa ke Brussels dan Antwerp di Belgia untuk mengunjungi Gedung Parlemen Uni Eropa dan miniatur negara-negara anggota Uni Eropa di Mini Europe. Di Antwerp, peserta mendapatkan kuliah tentang sejarah kora-kota urban di dunia, bahasa, dan kebudayaan di Eropa yang disampaikan di Universitas Antwerp. Tur singkat dengan berjalan kaki di sejumlah gedung-gedung bersejarah di Antwerp diberikan sebelum peserta bertolak kembali ke Utrecht.

antwerp2

Setelah kelas usai, saya berkesempatan untuk mengunjungi Paris.

eiffel2

Kemudahan bepergian ini membuat banyak mahasiswa di Belanda memanfaatkan waktu libur mereka untuk melakukan perjalanan ke negara-negara di Eropa. Bayangkan jika itu kalian. Setelah berpeluh mengerjakan serangkaian tugas kuliah, kalian dapat memanjakan diri dengan melihat bangunan cantik, makam penyanyi idola, mengelilingi museum, atau bersenang-senang melihat banyak pemandangan yang selama ini hanya didapati dari kartu pos atau jelajah Internet.

Seperti saya ;)

Melihat Paris dari dekat rasanya benar-benar seperti mimpi. Hahahaha.

notre-dame

Rasanya menyenangkan ;)

arc-de-triomphe

Benar apa yang dikatakan Ray; kalau perjalanan itu ibarat candu. Terus menerus mengonsumsinya dalam jumlah yang tepat akan memperkaya batin kita. Visa Schengen memudahkan kalian yang ingin mengunjungi banyak kota di Eropa.

Dunia tak selebar daun kelor. Ada banyak hal menakjubkan yang menanti kalian di sini ;)

Tentang Jane

kelas-di-utrecht

Kali ini tentang Jane. Saya lupa menanyakan nama lengkapnya. Usianya mungkin sekitar 50-an. Ia datang dari Florida, Amerika Serikat. Awalnya saya mengira ia adalah dosen pendamping untuk mahasiswa dari Universitas Florida. Sejumlah kampus memang mengirimkan dosen yang turut mengikuti perkuliahan dan mendampingi mahasiswa selama kelas musim panas berlangsung.

Tapi dugaan saya salah. Saya baru mengetahuinya saat kami berjalan bersisian di trotoar dari hotel tempat rombongan menginap menuju Universitas Antwerp, Belgia, pada pekan lalu. Tiga materi, yang menjadi bagian dari program sekolah musim panas, memang dijadwalkan untuk disampaikan di Universitas Antwerp.

Dan Jane, yang saat itu mengenankan kaos biru, tertawa renyah saat saya mengatakan bahwa saya mengira ia adalah staf pengajar.

“Hahaha, kamu salah tebak kalau begitu. Banyak juga yang mengira bahwa saya dosen, bisa jadi karena saya lebih tua di antara siswa lainnya ya,” ujarnya.

kelas-antwerp

Jane kini tercatat sebagai mahasiswa S1 untuk program Studi Wanita di Universitas Florida. Ia kembali sekolah setelah putra semata wayangnya berusia 23 tahun. Usia lanjut tak menghalangi niatnya untuk meraih gelar S1. Ia terlihat tetap bersemangat. Selama di kelas, ia rajin mencatat dan bertanya.

“Dulu saya tak punya waktu dan uang untuk sekolah. Jadi saya fokuskan saja untuk mengurus keluarga. Tapi saya tahu, satu hari nanti waktu saya akan datang. Dan begitu anak saya besar, saya punya lebih banyak waktu untuk diri saya sendiri. Dengan uang tabungan yang ada, saya kembali belajar,” katanya.

Jane benar-benar memberi inspirasi bagi saya. Hikmah hidup bisa datang kapan saja di mana saja. Di jalanan berbatu pada pagi yang sejuk, saat kami berdua menyusuri lorong-lorong dengan bangunan tua di kanan dan kirinya, Jane membaginya untuk saya.

Kendati saya tahu, bahwa belajar tak hanya identik dengan kembali ke kampus, mempelajari buku teks, dan segala detil lainnya, tapi juga didapatkan dari banyak hal di luar gedung sekolah; dari relasi dengan sekitar, aktivitas di dalam komunitas, dan membaca banyak literatur, misalnya; pada satu saat nanti saya harus kembali sekolah. Memutus rantai kemalasan yang selama ini melilit saya. Menyisihkan waktu untuk merealisasikan mimpi saya di tengah rutinitas yang setiap hari dijalani di Jakarta.

“Ah ya, kelak waktumu akan datang juga. Percayalah, kembali ke kampus itu menyenangkan,” tutur Jane.

Kalau nanti saya akhirnya melanjutkan kuliah, disibukkan dengan tugas-tugas yang membuat saya tak bisa berleha-leha di akhir pekan, menenggalamkan diri dalam bahan bacaan, mencari teman diskusi, dan berharap bisa lulus ujian, Jane pasti akan menjadi orang pertama yang saya ingat :)

Ya, Jane, pagi yang sejuk, dan jalanan berbatu dengan gedung-gedung kuno di kanan dan kirinya, di Antwerp…

Untuk Indonesia

Saya masih ingat betul larik percakapan antara saya dengan Fabien. Pekan lalu di bawah gerimis, saya berjalan beriringan dengan pria asal Perancis itu menuju titik awal bermain kano. Ia berada di Utrecht untuk mengambil kelas bahasa Belanda.

Sepanjang jalan, kami berbicara banyak hal; tentang mimpinya untuk bekerja di Belanda dan berada dekat dengan pujaan hatinya yang warga negara Belanda, tentang Paris, tentang betapa sulitnya mempelajari bahasa Perancis, tentang sistem pemerintahan di negaranya, tentang krisis ekonomi global, tentang Indonesia, Tanah Air tercinta.

“Maaf. Tapi yang saya ingat tentang Indonesia adalah peristiwa kerusuhan beberapa tahun lalu dan kerusakan di mana-mana,” ujarnya, dalam perbincangan.

Ia tak salah. Serangkaian peristiwa kelam yang sempat terjadi di negara kita menempel dan menempati ruangan dalam ingatan Fabien.

Saya kemudian berupaya untuk menjelaskan bahwa kondisi keamanan di Indonesia berangsur-angsur membaik pada beberapa tahun belakangan ini dan memintanya untuk memasukkan Bali, juga sejumlah titik menarik lainnya, dalam rencana perjalanan Fabien ke Asia.

Ia mengangguk. “Saya belum pernah ke Asia. Baiklah, nanti saya akan pertimbangkan,” tuturnya.

Ingatan tentang Indonesia yang suram juga menetap di pikiran Jane, mahasiswa asal Amerika Serikat.

“Bom,” jawabnya singkat, ketika saya bertanya apa hal yang terlintas pertama kali di benaknya ketika ia mendengar nama “Indonesia”. Kala itu kami berdua tengah berjalan mengitari jalan-jalan berbatu di Antwerp, Belgia.

Sama seperti yang saya katakan dengan Fabien, saya ingin Jane melihat Indonesia dari perspektif yang lain.

Tapi hari ini, saya khawatir keduanya tak segera membangun bayangan tentang Indonesia yang ramah dan jelita.

Pagi tadi, siaran berita di CNN terus menerus menayangkan potongan gambar mengenai ledakan di Hotel JW Marriott dan Ritz Carlon, Jakarta. Di sana asap membumbung, wajah-wajah panik, raungan sirine, petugas keamanan yang berseliweran, korban yang dilarikan ke rumah sakit, air mata, duka.

Dan kesedihan memeluk saya.

Ini tentu bukan wajah Indonesia -Tanah Air yang saya banggakan, rumah tempat saya pulang- yang ingin kita kabarkan ke dunia.

Dan kini kita kembali menolak tunduk untuk takut, melawan pada setiap tindakan yang menghentikan upaya untuk membawa Indonesia ke arah yang lebih baik, untuk kita, keluarga, anak cucu kita nantinya. Saya percaya kita akan sampai pada kehidupan yang jauh jauh lebih menjanjikan kelak.

-teriring doa untuk seluruh korban yang berpulang-

Tentang Antwerp

antwrep

Bagus ya?
Bagus kan?
Bagus dong … :D

Ini diambil di Antwerp, Belgia. Kotanya cantik sekali. Cantik. Cantik. Cantik.

Peserta summer course singgah di Antwrep dan bermalam di sana. Berangkat dari Utrecht pada Senin pagi dan tiba di Antwerp pada Senin petang. Sebelumnya kami singgah dulu di Brussels, Belgia, untuk mengunjungi gedung Parlemen Uni Eropa. Lalu pada Selasa sore, setelah siangnya mendengarkan kuliah di Universitas Antwerp dan tur keliling pusat kota, kami bertolak kembali ke Utrecht.

Si Antwerp ini membuat saya berdecak kagum

kuda

Huhuhu, terharu saya bisa menjejakkan kaki di tempat ini. Nanti saya sambung lagi ya, saya hendak mengantri tiket “Harry Potter and the Half-Blood Prince” dulu ;)

Tapi sebentar, sebelum pergi hendak pamer pose dulu di depan gereja dulu ah. Gambar ini hasil bidikan mahasiswa dari Hong Kong.

mejeng

Keren kan?

Oke, tunggu cerita dan foto-foto selanjutnya. Dijamin kalian juga akan jatuh hati pada paras Antwerp yang menawan :)

Jangan kemana-mana.

Menyusuri Sungai

Kemarin gerimis turun sejak pagi hari. Semula saya berharap matahari akan menyembul dari peraduannya. Sayang yang ditunggu tak kunjung nampak bahkan hingga kami, saya, ina, Hee Rim dan Yoo -dua teman dari Korea Selatan, dan Ida -gadis pemberani dari Denmark-, berangkat dari asrama menuju Kromme Rijn dengan berjalan kaki.

Kemarin kelas diliburkan. Peserta sekolah musim panas dapat mengikuti program sosial yang tersedia pada hari itu, seperti Discovery Holland dan menyusuri sungai dengan kano. Kami memilih program sosial.

Beruntung kami bertemu dengan Ida. Ia telah mempelajari rute berjalan kaki dari asrama menuju tempat pertemuan. Dan percayalah, jika berjalan dengan ahlinya, kalian akan sampai ke lokasi yang dituju dan tepat waktu :) -untuk saya yang bukan ahli pembaca peta, keahlian Ida membuat saya kagum, ia bahkan tidak pernah membuka petanya selama perjalanan-

Sepertinya perhatian peserta lebih banyak tersedot ke program Discovery Holland, karena tak banyak peserta yang kami temui di program menyusuri sungai dengan kano ini. Acara juga nyaris dibatalkan karena hujan tak juga berhenti.

Untunglah semua akhirnya bisa bersenang-senang dan melatih otot lengan dengan mengayuh dayung ;)

Dan perjalanan menuju titik awal mendayung diisi dengan mengunjungi Fort of Rhijnauwen. Benteng yang dibangun pada abad ke 18 ini masih berdiri tegak. Peruntukkannya kini berubah, selain sebagai tujuan wisata dan sejarah, benteng ini juga menjadi tempat penyelenggaraan pertunjukan kesenian. Saat ini misalnya tengah digelar opera bertajuk “King Arthur”.

benteng2

Seorang pemandu pria paruh baya yang ramah menemani rombongan memasuki ruang-ruangan di dalam benteng. Mulai dari tempat interogasi tawanan, lubang pengintai musuh, hingga ruang istirahat para prajurit. Sebagian ruangan di dalam benteng sangat minim cahaya. Alhasil tak jarang peserta berjalan dalam gelap.

benteng

Puas memutari ruangan benteng, dengan ditemani seorang pemandu yang ramah, rombongan kemudian bergerak menuju titik awal bermain kano. Ini acara yang dinanti para peserta. Wajah-wajah pun terlihat kian bersemangat.

Satu kano diisi dua peserta. Saya berpasangan dengan seorang mahasiswa dari Inggris yang sangat mahir mendayung. Tahu bahwa mitra kanonya hari itu tak menguasai teknik mendayung, ia langsung membagi pengetahuannya.

“Jadi begini ya, pegang dayungnya begini, terus kayuh bergantian. Ini caranya kalau arah dayung lurus ke depan, kalau mau belok ke kanan, pegang dayung di sini, terus kalau ingin belok ke kiri, begini caranya. Nah, kalau mau mundur lain lagi,” ujarnya, panjang lebar.

Sebenarnya ini bukan kali pertama saya mendayung. Beberapa tahun lalu saya pernah melakukan olahraga sejenis di Lombok dan Ujung Kulon. Tapi karena bukan aktivitas yang sering dilakukan, tetap saja saya jauh dari mahir.

dayung2

Untungnya cuaca jauh lebih bersahabat. Gerimis yang sempat turun pada awal perjalanan telah mereda. Tapi sepanjang perjalanan kami tak mandi cahaya matahari. Meski Belanda telah memasuki musim panas, di beberapa tempat di dalam perjalanan menyusuri sungai, udara tetap terasa dingin.

Kami menemui banyak pemandangan yang menarik. Rumah-rumah dengan arsitektur yang manis lengkap dengan kerimbungan pohon bunga, sekawanan bebek yang berenang di tepi sungai, gerombolan sapi yang tengah merumput, seorang kakek yang sibuk melepas pakaian dan menyisakan celana pendeknya lalu terjun ke sungai … dan berenang ;), dan hijau pohon di sepanjang perjalanan.

Lebih dari itu, suasana mendayung juga dipenuhi gelak. Sesekali kano sengaja dibenturkan ke kano tetangga. Empat orang peserta juga terlihat bertukar sapa dan sibuk memberi nama kano yang mereka tumpangi. Suasana terkesan cair dan sangat akrab. Kalau sudah begini kehangatan senyuman mengalahkan udara dingin.

Membayangkan tiap-tiap orang berdatangan dari tempat asal yang berbeda-beda, menempuh perjalanan dengan beragam moda transportasi dan waktu perjalanan yang beragam, dan tiba di satu titik, kemudian tertawa bersama terasa begitu menyenangkan.

Dan percayalah, Jumat itu adalah hari yang manis untuk saya ;)