Menjadi Tua

Waktu menggelinding. Memakan usia kita. Berpuluh-puluh senja telah kita sambangi.

Dan, kita tiba di satu masa, di mana aku akan menjadi tua. Begitu juga kau.

Pada masa itu, fisik kita tak lagi sama. Aku akan lebih kesulitan menguruskan badan (aha) dan kau mungkin akan lebih tak tahan berlama-lama di udara dingin. Kita bisa jadi akan mudah lelah melakukan banyak aktivitas yang dulu bisa dengan leluasa kita jalani saat kita muda.

Warna rambutmu, dan rambutku tentunya, akan berubah menjadi abu-abu.

Ya, abu-abu. Seperti warna rambut dua bapak dan dua ibu, yang duduk di barisan di depan kita saat GM menyampaikan kuliah umum tentang humanisme di Salihara, pekan lalu. Dan warna rambut seorang bapak berbaju batik lengan panjang yang sore itu bertanya dan tahu banyak tentang Pram.

Rambutku dan rambutmu akan menjadi abu-abu. Kita mungkin akan tetap melaksanakan ritual memutari kota, memandangi lampu jalan, berbincang-bincang tentang apa saja, melewati rute yang sama, melihat tempat-tempat yang memiliki arti dalam perjalanan kisah kita, kemudian berhenti sebentar untuk minum air jahe yang dihidangkan di gelas kaleng di angkringan langganan di pinggir jalan.

Aku bayangkan satu sore kau akan duduk di kursi kayu ditemani teh tawar panas di halaman belakang rumah kita, memeriksa tulisan mahasiswamu. Atau bersandar, meluruskan kaki, di kursi malas di ruang tengah, tak jauh dari jendela lebar yang daun jendelanya dibiarkan terbuka, membaca buku atau jurnal, sesekali membetulkan letak kacamata, menggosok-gosok hidung, membiarkan angin memainkan anak rambutmu.

Aku mungkin akan mengedit atau menjelajah dunia maya, satu hal yang aku gemari sejak muda, melihat kabar teman-teman lama atau membaca cerita pendek di koran edisi akhir pekan atau bermalas-malasan bersama anjing berbulu coklat muda peliharaan kita

Berdua, kita akan saling menjaga.

Dan ya, kendati usia kita tua, kita akan tetap melakukan perjalanan, sayang. Tak berhenti bahkan ketika rambut kita berubah menjadi abu-abu.

Kita … mengantungi begitu banyak bahagia.

Satu hal yang aku tahu dengan pasti; saat itu, ketika helai-helai rambut hitammu berjejalan dengan helai-helai putih rambutmu, kau akan terlihat jauh lebih tampan dibandingkan hari pertama aku melihatmu puluhan tahun lampau.

Percayalah, akan ada banyak kasih di kisah kita; saat kita menjadi tua, bersama…

-aku menyayangimu, selalu-