Bergerak Menuju Holland


Jakarta terlihat lebih molek dari ketinggian. Apalagi saat malam datang. Saya menikmati wajah Ibu Kota dari sebuah restoran di lantai sepuluh di sebuah pusat perbelanjaan. Alfian, teman yang ingin saya temui, belum nampak.

Tapi jurnalis muda, dari harian berbahasa Inggris The Jakarta Post itu tak membuat saya menunggu lama. Perjumpaan pertama saya dengan laki-laki kelahiran Desa Krueng Seunong, Aceh Utara, terjadi pada awal Februari tahun lalu. Kala itu kami meliput perayaan akbar hari lahir sebuah organisasi keagamaan yang digelar di Gelora Bung Karno, Jakarta. Setelahnya, saya juga kerap bersua dengan Alfian dalam beragam liputan. Dalam beberapa kali perjumpaan dan percakapan, saya akhirnya tahu ia pernah mengecap studi Master of Arts in Media Culture, Faculty of Arts and Social Sciences, Maastricht University, Belanda.

Malam itu, saya khusus memintanya menyisihkan waktu untuk berbagi pengalaman selama ia menempuh pendidikan di Negeri Kincir Angin pada Juli 2006 hingga Juli 2007. Ia menyambut permintaan saya dengan bersemangat. Berdua kami melewati mesin waktu miliknya.

Alfian mengantarkan saya pada September 2005, saat perwakilan dari Netherlands Education Centre (NEC) -pada 2007 berganti nama menjadi Netherlands Education Support Office (NESO)– memberikan presentasi mengenai pendidikan di Belanda. “Pemaparannya memicu untuk mulai lagi mempersiapkan diri dan berusaha mendapatkan beasiswa,” ujarnya.

Dan cerita setelahnya adalah serangkaian upaya persiapan yang dijalani lulusan S1 Agribisnis dari Institut Pertanian Bogor itu, termasuk upaya menggenjot skor Test of English as a Foreign Language (Toefl).

Maastricht nan cantik
Maastricht nan cantik

Saat itu, Alfian masih bekerja di sebuah majalah mingguan berbahasa Indonesia di Jakarta. “Mulainya dari skor 500. Ikut kursus, terus naik 530. Tapi udah itu mandek, susah naik lagi. Hahaha,” ia tergelak. Tidak berhenti sampai di situ, Alfian kemudian mengubah cara belajarnya. Selama satu jam setiap hari ia bergulat dengan contoh soal-soal Toefl. Begitu terus selama sekitar sebulan. Hasilnya? “Skor naik jadi 580.” Ia juga berhasil diterima di Maastricht University dan pergi meneruskan sekolah dengan mengantungi beasiswa Studeren in Nederland (StuNed).

Cerita sebenarnya pasti jauh lebih panjang dari rangkuman kisah yang dituturkannya malam itu. Di sana berbaur ketekunan, kesabaran, keteguhan, dan keyakinan akan keberhasilan menggapai mimpi. Anak keenam dari enam bersaudara itu mengaku beruntung dikelilingi sahabat dan teman, yang disebutnya kelompok pendukung, dan keluarga yang berperan dalam memompa semangatnya.

Masih dengan mesin waktunya, Alfian kemudian membawa saya ke kesibukan menjelang keberangkatan, mempersiapkan barang-barang yang harus dibawa, saat pertama kali tiba di Bandar Udara Internasional Schiphol, Amsterdam, sambutan hangat dari teman mahasiswa Indonesia di sana, adaptasi awal, rindu rumah, kesulitan memahami buku teks, mendengarkan aneka aksen dari orang-orang berbagai bangsa, interaksi dengan teman dari beragam latar belakang budaya, hingga kegagalan presentasi pertama.

Ah ya, ia juga bertutur tentang betapa ia dengan mudah jatuh hati pada Maastricht, pada lalu lintasnya yang teratur, pada perpustakaan yang nyaman, pada udara yang bersih -sangat bersih-, pada suasana kelas kecil yang mengasyikkan -tempat di mana mahasiswa berdiskusi dan bebas mengeluarkan pendapat-, pada kemudahan menjelajah kota-kota lain di Eropa.

Alfian belajar banyak hal dari Belanda. “Dari kebingungan bikin paper pada awal-awal kuliah sampai akhirnya diminta untuk presentasi tesis di konferensi bersama dari tiga universitas dari Belanda, Kanada, dan Amerika Serikat. Benar-benar peningkatan,” tuturnya.

Suasana kota Amsterdam
Suasana kota Amsterdam

Ia tak sendiri. Belanda juga adalah jalinan kisah milik Rizki Pandu Permana, lulusan program Master di bidang Forest and Nature Conservation, Wageningen University dan tengah menempuh studi S3 Human Geography, Utrecht University dan Farid F. Nasution, peraih gelar LL.M dalam International Business Law di Vrije Universiteit Amsterdam, yang kini menjabat sebagai Kepala Subdirektorat Pemberkasan Direktorat Penegakan Hukum Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU).

Apa yang dipetik dari pengalaman bersekolah di Belanda? “Etos kerja yang jauh lebih baik, juga kemampuan berbahasa yang jauh lebih pede dibanding dulu,” ujar qq, sapaan akrab Rizki. Untuk Farid, pengalaman terbesar dari tinggal di Belanda pada 2005 sampai 2006 adalah bagaimana ia merasakan pergaulan antarbangsa. “Bahwa after all we all are human, enggak ada bedanya satu sama lain. Dan we belong to the great nation of Indonesia. Saya merasakan betul bangga berbangsa Indonesia di tengah-tengah pergaulan global,” urai Farid.

Magnet Penarik Mahasiswa

Belanda laksana magnet yang setiap tahunnya menyedot mahasiswa dari berbagai penjuru dunia. Pada tahun akademik 2007-2008, jumlah mahasiswa internasional mencapai 70.000 orang. Jerman menjadi negara asal terbesar dengan 16.750 mahasiswa, lalu China 4.750 mahasiwa, Belgia 2.450 mahasiswa, Spanyol 2.000 mahasiswa, dan Perancis 1.650 mahasiswa.

Pemerintah Belanda berupaya keras untuk membuat pendidikan tinggi bisa dengan mudah diakses oleh tidak hanya mahasiswa tapi juga kalangan profesional dari negara lain, misalnya dengan pemberian subsidi. Alhasil biaya kuliah dapat jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan Inggris dan Amerika.

Di sini tersedia dua jenis pendidikan tinggi reguler yang utama, yaitu universitas riset, yang melatih para mahasiswa untuk menggunakan ilmu secara mandiri, dan university of applied sciences, yang lebih berorientasi ke praktek. Ada 1.391 program studi internasional, yang menggunakan bahasa Inggris sebagai pengantar, terdiri dari 1.006 program dengan gelar dan 385 program short course dan preparatory course. Sejumlah disiplin ilmu telah menggondol pengakuan internasional, antara lain manajemen dan bisnis, pertanian, kedokteran, teknik sipil, dan seni serta arsitektur.

Menghargai pendapat dan keyakinan individu, yang menjadi landasan negara Belanda, termanifestasi dalam metode pengajaran. Hasilnya, para siswa memiliki kebebasan dalam mengembangkan pendapat dan kreativitas.

Banyak Jalan Menuju Holland

Utrecht, salah satu kota tertua di Belanda
Utrecht, salah satu kota tertua di Belanda

Kalau ada banyak jalan menuju Roma, pasti hal senada juga berlaku untuk kalian yang ingin melanjutkan studi di Holland. Ada beragam jalur untuk dapat menjejakkan kaki di sana. Pilihan pertama adalah pergi dengan biaya sendiri. Biaya untuk mahasiswa dari luar negara-negara Uni Eropa umumnya berkisar antara 2.000 euro hingga 15.000 euro.

Persiapan sebelum studi dapat dilakukan dengan mengontak universitas yang dituju secara langsung atau dapat juga melalui agen pendidikan di Indonesia, seperti Atlas Education Services (AES), Consultancy Dutch Universities (CDU), Dua Bangsa Education Service, Groningen, dan StudyLINE. Hubungi agen-agen ini untuk mengetahui apakah mereka memiliki kerja sama dengan universitas yang kalian tuju.

Kalian juga dapat mengambil program bersama antara universitas di Indonesia dengan universitas di Belanda. Program dual degree misalnya. Melalui program ini, selama tiga tahun mahasiswa belajar di kampus di Indonesia kemudian sisanya selama satu tahun dihabiskan di Belanda.

Data dari Biro Perencanaan dan Kerja sama Luar Negeri Departemen Pendidikan Nasional menunjukkan pada periode 2006-2007 terdapat 16 peserta program yang belajar di sejumlah daerah di Belanda. Jumlah ini meningkat menjadi 40 orang pada periode tahun 2007-2008.

Cara lain yang tak kalah menarik, dan juga menantang, adalah mengajukan aplikasi beasiswa. Tren pelamar beasiswa terus menunjukkan peningkatan. Informasi dari NESO menunjukkan pada 2006, jumlah pelamar mencapai 731 dengan penerima beasiswa sebanyak 183 dan meningkat menjadi 877 pelamar dengan 187 penerima beasiswa pada 2007. Pada tahun lalu, aplikasi beasiswa yang masuk tumbuh menjadi 1.000 dengan total penerima beasiswa sebanyak 214. Selama kurun waktu 2000 sampai 2008, aplikasi beasiswa mencapai 5.283 dan penerima beasiswa sebanyak 1.269.

Melihat deretan angka ini, tolong jangan dulu ambil langkah seribu. Ada beragam beasiswa yang menanti kalian untuk direbut, sebut saja HSP Huygens Programme, Netherlands Fellowship Programme (NFP), StuNed, The Indonesian Young Leaders Scholarship Programme, Amsterdam Merit Scholarships, Berlage Institute Scholarship, CHN-SGS Scholarship, Erasmus Mundus Scholarship programme, Eric Bleumink Fund Ph.D. researchers, Eric Bleumink Fund Students, dan Japan/World Bank Graduate Scholarship Program.

Daftar ini dapat lebih panjang lagi dengan LUF Scholarship, NWO Rubicon Scholarship, Rembrandt Scholarship for new students, RSM Scholarships, TU/E Scholarships, Ubbo Emmius programme University Groningen, University of Groningen Phd Fellowship, juga Utrecht University Excellence scholarship.

Masih ada Utrecht University TNO Scholarship, VU Fellowshiship Programme, Webster University “Gateway” Graduate Studies, dan WOTRO Integrated.

Informasi mengenai beasiswa di Belanda dapat diperoleh dari NESO. Pintu menuju Belanda ini menyediakan segudang informasi mengenai universitas dan program studi di sana. Para staf yang ramah akan dengan senang hati membantu kalian.

Dari dalam negeri juga tersedia beasiswa Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) dan Departemen Komunikasi dan Informatika.

Jadi percayalah banyak sarana untuk bisa turut menikmati suasana pendidikan di Belanda, mereguk pergaulan internasional, meraup begitu banyak pengalaman berharga.

Untuk Alfian, Negeri Tulip tetap menariknya untuk kembali. Mulai tahun depan, Alfian -yang kini meliput di desk pertambangan dan energi- akan kembali mengajukan aplikasi beasiswa. “Wartawan kan mesti banyak tahu. Sesuai dengan desk yang sekarang, jurusan yang akan dipilih kemungkinan public policy atau business administration,” ujarnya, mantap.

Jalannya mungkin akan sama berlikunya seperti sebelumnya. Tapi langkahnya tak surut. “Setelah kuliah S2 selesai, rasa percaya diri saya meningkat. Saya tak lagi takut meraih mimpi.”

Jadi tunggu apalagi? Jangan hanya menggantang asa, kini saatnya bergerak, menuju Holland ;)

Keterangan: foto-foto milik Rizki Pandu Permana. Dipasang atas seizinnya

48 thoughts on “Bergerak Menuju Holland

  1. Hebat kamu! Selamat ya! Jadi kedatanganmu kesini nanti, akan melenggenapi pola: dimana aku pindah, kamu pasti akan datang berkunjung. HAHAHA. Cepat datang ya, miss u!

  2. aatttaaaa!!!
    horeeeee!!… see… i told u ;)

    semoga pulang dari sana bisa jadi penjahit yang handal ya..

    pelampung yg kemaren gak usah dibawa2 ya nanti di pesawat juga disediain..

  3. Astaga…ternyata kamu pemenang pertama kompetiblog toh. Selamat ya, sayang. OK, berarti ittinerarynya bisa segera disusun. He he he. Aku tunggu di sini ya.

  4. selamat ya tta, saya ikut bangga. jangan lupa oleh2nya. he he.. eh, kalo ada info beasiswa pertekstilan mbok saya diberitai, hi hi, tapi saya wis ketuaan kali ya.

  5. Decorating with a different gem accessory, shimmer, no minus than the form.To assemble the recent female’s liking, this reduction and coldn thomas sabo jewellery ess, largely to clothes and more to show the women’s boundary of the charm. In detail, many international brands of rage designers have i thomas sabo price ncisive out that the objects on each shape studs sequence.

  6. dik atta….

    salut dengan anda sangat tertata dalam menulis..anda layak jadi pemenang.. aku sangat ingin seperti anda, sayang saya tidak pernah sekolah.. belanda memang menarik aku selalu ingin mengulangnya…kesana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *