Tentang Mereka yang Lebih Dulu Pergi

Siang tadi. Pemuda itu memegang pengeras suara. Sepatu bot yang dikenakannya penuh lumpur. Peluh menetes di keningnya.

Matahari di Cirendeu, Tangerang Selatan, tepat di atas kepala.

Tak jauh darinya, orang nomor dua di Republik ini tengah memantau perkembangan terakhir. Ini satu lokasi pengungsian dari empat titik yang ada.

Pemuda tadi kemudian lantang berteriak. Mengingatkan agar kunjungan petinggi tidak hanya menjadi ajang kampanye. Penanganan pascamusibah memang dituntut untuk cepat dan sigap.

Siang tadi, kali kedua saya berada di Cirendeu. Saya datang pertama kali pada Jumat pekan lalu. Meliput di tengah derasnya wisatawan bencana merupakan hal yang merepotkan untuk saya yang mudah panik dan pusing di tengah keramaian.

Ah ya, saya juga mudah iba. Jadi mencari tahu momen sebelum bendungan Situ Gintung jebol dari para korban adalah tantangan yang lainnya.

Berkali-kali saya menahan air mata, mengeraskan hati untuk tidak ikut terisak ketika kisah pilu itu dituturkan dari seorang ibu yang saya temui di tenda darurat.

Saya juga berupaya untuk tetap tenang ketika perempuan yang tengah mengandung, yang duduk tak jauh dari tempat saya menulis berita, tiba-tiba menangis sekencang-kencangnya. Ia mungkin mengingat kembali rasa kehilangannya. Saya bantu memegang tangannya. Kepalannya erat. Ia terlihat pias. Beruntung ambulans diparkir tak jauh dari tempat kami berada sehingga pertolongan dapat segera datang.

Saya tak tahu bagaimana pola kerja malaikat pencabut nyawa. Tapi ia pasti sibuk sekali pada Jumat selepas subuh, saat dentuman itu memecah pagi, dan humbalang mengguyur kampung. Dan bendungan kering, licin, tandas.

Ratusan rumah rusak. Sebagian bahkan tak berbentuk dan rata dengan tanah. Puluhan nyawa pergi. Kesedihan di mana-mana.
Bencana menyelinap di dini hari. Air menunjukkan otoritasnya.

Saya yakin bencana tak berdiri sendiri. Di belakangnya ada kelalaian banyak pihak. Tata ruang yang dilanggar misalnya. Dekatnya permukiman warga dengan bendungan, yang dibangun pada 1932 saat Belanda masih menjajah negeri ini, membuat mereka berkawan dengan bahaya.

Ada banyak kehilangan pada subuh Jumat pekan lalu. Benar bahwa sekarang semua harus memikirkan apa yang akan dilakukan untuk wilayah itu ke depannya.

Tapi bergerak ke depan tanpa menyelesaikan pekerjaan rumah yang tertinggal jelas akan berakibat fatal. Carut marut tata ruang misalnya harus dibenahi. Pengawasan terhadap bendungan menjadi isu lain yang juga penting.

Tidak memetik pelajaran dari musibah itu sama saja dengan mengabaikan mereka yang lebih dulu pergi, menemui ajal di tengah derasnya air Situ Gintung.

Tentang Rindu Kepada Teman

Saya tak pernah mengantuk saat hati saya sedang kesal. Ya, meski seharian beraktivitas dan lelah, saya bisa tetap terjaga.

Dan yang lebih membuat kesal, dan tentu saja karena kesal maka saya semakin tidak dapat segera terlelap, biasanya saya lalu memikirkan banyak hal.

Seperti malam ini. Karena tak kunjung tidur, akibat kesal atas satu hal, alih-alih tertidur pikiran saya malah berputar-putar dan sampai pada satu hal; saya sangat merindukan teman-teman.

Saya tak banyak memiliki teman dekat. Malam ini saya begitu merindukan kelompok kecil, teman-teman dekat, semasa kuliah. Saya ingat Anti, Hana, Lila, Indi, dan Sari. Saya mengingat mereka hingga dada saya sesak dan entah kenapa saya diliputi kesedihan. Rindu yang mendatangkan sedih; satu bentuk kerinduan yang aneh, bukan begitu?

Saya merindukan mereka.

Hana meneruskan sekolah di Bandung. Keempat nama lainnya berada di Solo.

Saya juga merindukan Wahyu. Teman kuliah, sahabat terbaik yang setia. Saya ingat ia ikut bermalam, menemani saya di ruang perawatan selepas saya menjalani operasi dua tahun lalu.

Saya merindukan mereka.

Saya tak banyak memiliki teman dekat. Kadangkala saya iri pada teman yang masih terhubung dengan teman-teman lama mereka. Melihat bagaimana waktu menempa jalinan perkawanan menjadi semakin erat.

Saya misalnya mulai kehilangan kontak dengan teman-teman dekat semasa sekolah menengah dulu. Orang yang pernah lekat perlahan-lahan menjadi sosok yang asing. Dia banyak mempertanyakan pilihan hidup yang saya ambil; sebaliknya saya kian tak mengerti landasan berpikir yang dianutnya.

Dan malam ini saya teramat sangat merindukan teman-teman lama. Orang-orang yang hidup di lain kota. Betapa teknologi kurang dapat menggantikan nikmatnya pertemuan.

Saya merindukan kelimanya, ah ya merindukan Wahyu juga tentu. Merindukan masa-masa di mana ketakutan bersembunyi di satu tempat yang jauh, ketika hidup begitu ringan, saat tak ada pertanyaan: apakah pilihan ini benar? Bagaimana jika pilihan itu yang jauh lebih benar?.

Saya merindukan masa itu dan keenamnya, malam ini.

Tampaknya ini akan menjadi satu malam yang panjang. Karena jika sedang kesal saya tak dapat segera tidur, lalu saya akan berpikir, tentang ini, tentang itu; kali ini tentang rindu kepada teman-teman lama.