Saat banjir datang

Banjir menggenangi rumah saya. Pada Minggu malam lalu. Pintu air, yang dibangun tak jauh dari rumah, kini mulai membuat ulah. Sebelumnya tak pernah ada air sederas malam itu masuk ke rumah, lewat sela-sela pintu depan, dan terus menggenangi seluruh ruangan. Datang selepas tengah malam. Air baru surut selepas subuh. Hanya kakak saya yang melihat air pergi karena hanya ia seorang diri di rumah. Saya dan Ma’e sudah mengungsi saat melihat ketinggian air terus bertambah.

Dan cerita sesudahnya berujung pada kelelahan. Sampai saat ini rumah masih belum kembali rapi. Buku-buku saya turut menjadi korban. Beragam CD musik juga. Kaset peninggalan masa silam juga. Aneka kepingan DVD juga. Hard disk eksternal juga. CPU juga. Hahaha. Daftarnya bisa lebih panjang lagi jika hendak dirunut.

Kami memang tak sempat membereskan barang-barang karena air datang teramat cepat.

Awalnya saya kesal sekali. Saya membereskan rumah sebelum liputan. Libur di hari Rabu juga saya gunakan untuk membersihkan beragam barang yang kotor karena terendam air banjir.

Kekasih hati, iya, si harum hutan yang baik hati dan rupawan itu ;), datang untuk menenangkan. Mengambil peran dengan membantu mengeluarkan air dari ruang tengah dan ruang depan.

Untung bukan kebakaran ya, ujarnya, saat kami berdua duduk melepas lelah setelah berhasil membersihkan lumpur. Dahinya dipenuhi bulir-bulir keringat.

Kalau kebakaran, barang-barang habis, sedih, tuturnya lagi.

Dan saya lupa. Musibah sekecil ini sudah membuat saya lalai melihat nikmat lain yang jauh lebih besar. Ramadhan memang selalu punya cara untuk memberikan hikmah.

Kemarin ia datang lagi. Bukan untuk mengepel lantai rumah tapi untuk mengajak saya memutari kota. Ia, yang tiba setelah saat berbuka puasa, membawa dua kuntum lili putih dan dua kue enakenakenak dari pabrik keju dan kue di bilangan Tebet. Tanggal 13 memang layak untuk dirayakan. Bukan begitu beib? :)

Kekasih saya adalah jeda terbaik dari rentetan aktivitas membersihkan rumah hampir sepekan ini.

Mudah-mudahan pekan depan rumah sudah kembali seperti sedia kala. Seperti sebelum air datang lewat tengah malam pada Minggu pekan lalu.

Mmm, rasanya setelah ini saya harus meluangkan waktu untuk menulis dengan rutin. Bukan begitu? :)