Berpulang

Saya banyak menyimpan pertanyaan tentang kehidupan setelah mati.

Apa yang akan dikerjakan manusia saat hidupnya berakhir? Apakah di sana nanti ada musik? Bagaimana cara orang-orang menghabiskan hari? Bermain pingpong, membaca komik di perpustakaan -kalimat ini menelurkan pertanyaan, apakah di sana ada komik dan perpustakaan-. Apa hujan kecil-kecil sore hari, satu hal yang saya sukai di dunia ini, juga tetap akan turun, di sana?

Meski tak mendapatkan jawaban yang pasti, seorang teman menceritakan gambaran tentang ujung hidup yang nyaris disongsongnya beberapa tahun lalu.

Ia, perempuan, selepas jam-jam penuh peluh melahirkan putra pertamanya, tak sadarkan diri.

Jangan bayangkan ujung hidup seperti sesuatu yang menyakitkan, katanya, saat saya menemuinya di rumah sakit. Kondisinya sudah stabil saat ia membagi pengalamannya:

“Rasanya seperti berada di sebuah padang rumput yang luas. Langit begitu dekat. Hanya ada hijau dari warna rumput dan biru langit dan putih dari gaun yang kukenakan. Aku duduk di kursi di tengah padang rumput itu sambil menimang bayiku. Tak ada pohon besar tapi teduh sekali waktu itu,” ucapnya.

Suasana tenang yang tiba-tiba terhenti. Berganti dengan suara yang dikenalnya, suara suami dan keluarga. Orang-orang terdekat yang dicintainya.

“Dan di sinilah aku, masih meneruskan hidup,” tersenyum ia.

Seorang perawat di rumah sakit tempatnya bersalin melakukan kesalahan prosedur. Akibatnya ia mencecap pengalaman, atau perjalanan, menuju ujung hidup.

Tak ada gugatan hukum yang dilayangkan. Ia dan suami bersepakat untuk menyelesaikannya dengan cara kekeluargaan. Putra pertamanya kini kian besar. Teman saya tetap sehat. Begitu pula suaminya. Keluarga kecil yang bahagia.

Apa yang diceritakan teman saya itu memberikan saya satu gambaran. Meski tetap saja tidak menjawab beragam pertanyaan yang saya miliki.

Apakah di sana ada bunyi-bunyian, musik? Suara angin ada, jawabnya, tapi pelan sekali.

Lalu apa saja yang dikerjakan orang-orang untuk menghabiskan hari? Bermain pingpong, membaca komik di perpustakaan. Apa hujan kecil-kecil sore hari, satu hal yang saya sukai di dunia ini, juga tetap akan turun, di sana?

Masih banyak pertanyaan yang belum terjawab. Tapi yang pasti gambaran yang disodorkan teman saya, perempuan baik hati dengan suara yang lembut, membantu saya untuk mempercayai bahwa ujung hidup bisa jadi adalah perjalanan menyongsong tempat tetirah yang tenang, keteduhan, kebahagiaan yang kekal. Kesejatian.

(Tulisan ini untuk Tiur Santi Oktavia. Perempuan pejuang yang awal pekan ini berpulang. Saya tak sepakat dengan pilihan kalimat: “menyerah” pada penyakit yang kamu derita. Buat saya kamu tak pernah kalah. Bahagia di sana ya, di kehidupan tanpa tenggat)

Sepotong Kenangan

Perempuan itu, pada sore yang tenang, menemui penjaga kenangan.

“Tolong keluarkan potongan kenangan yang itu,” ujar perempuan, menunjuk kepada potongan di dalam kotak berwarna coklat teduh.

Penjaga kenangan dengan sigap mengambilnya, kemudian menyerahkannya pada perempuan.

Kotak belum dibuka, tapi perempuan itu telah tersenyum. Senyum yang bersumber dari kotak yang kini dipegangnya.

Perempuan menyentuh bagian atas tutup kotak berwarna coklat teduh perlahan-lahan. Meraba potongan kenangan.Dan membuka kotak dengan tetap tersenyum.

Penjaga kenangan telah menjaga potongan kenangan dengan baik, sangat baik.

Dan perempuan itu, pada sore yang tenang, merasakan dirinya menyatu dalam potongan kenangan yang semula tersimpan rapi di kotak.

Ia, berjalan di pinggir aspal, sesekali melihat langit, menuju jalan yang lebih besar, menemui lampu merah, perempatan yang sibuk, menyebrangi jalan, terus berjalan, melewati rumah duka, berhenti di sebuah warung, menu-menu ditulis berurutan di spanduk kuning yang kian kusam.

Perempuan itu duduk, tersenyum pada laki-laki (yang sore itu sepertinya tetap tidak bertambah tua), memesan cap cay tanpa nasi dengan jeruk panas, menikmati cara laki-laki itu mengolah sayuran segar, menyenangi suara bising dari kompor gas dan lalu lalang kendaraan.

Ia menikmatinya, begitu menikmati potongan kenangan itu dan tidak membaginya dengan siapapun. Ia menikmatinya sendiri. (Ia bahkan tidak mengirimkan pesan pendek pada siapapaun)

Tak semua persis sama memang. Dulu, perempuan itu jauh lebih muda. Selepas maghrib, ia kerap menuju tempat yang sama bersama beberapa karib. Perburuan makan malam yang umumnya berakhir di warung tempat di mana menu-menu tersaji di spanduk kuning kusam. Dulu juga ada tawa yang riuh.

Tak semua persis sama memang. Tapi tak mengapa. Perempuan itu tetap bahagia. Menghabiskan cap cay, meneguk jeruk panas, mencecap kembali sepotong kenangan.

-solo. Di sela-sela cuti yang panjang. oh senangnya :)-