Orang Baik

Sejak pertama kali Ma’e, ibu saya, tahu saya akan hidup jauh darinya, di lain kota, sembilan tahun lalu, saya mencoba mencari kecemasan di wajahnya. Kata orang-orang, seorang ibu kerap kali cemas begitu akan melepas putrinya. Tapi saya gagal. Saya tak menemukan rasa cemas. Tidak sedikitpun. Hingga saya lulus kuliah dan kembali lagi hidup seatap dengannya, tidak sekalipun ibu saya cemas akan keselamatan saya. Ia selalu tenang.

Pun ketika saya bepergian, sesuatu yang dulu sering saya lakukan karena pekerjaan atau kesenangan. Ma’e akan melepas saya di hari keberangkatan dengan wajah yang tenang, bukan cemas.

Satu kali, saya pernah menanyakan hal ini padanya. Kalau kecemasan selalu berdiam di hati orang tua yang begitu mencintai buah hatinya, mengapa cemas itu tak kunjung muncul dari ibu saya?

Ia menjawab: “Itu karena Ma’e percaya kebaikan selalu berbuah dengan kebaikan. Kalau kita menjaga sikap dan berusaha untuk berbuat baik, kebaikan mungkin akan kembali ke Ma’e atau ke Atta, atau ke Mas Andi, atau ke orang yang lain. Jadi di manapun, saat Atta jauh dari rumah, Ma’e yakin akan ada orang baik yang membantu Atta.”

Tak butuh waktu lama untuk meyakini apa yang Ma’e katakan itu benar adanya.

Saya, berbeda 180 derajat dengan Ma’e yang tabah dan tenang, cenderung mudah panik dan khawatir akan sesuatu yang belum jelas gambarannya. Pindah desk misalnya. Redaktur yang membawahi desk saya sampai perlu menenangkan saya karena saat itu, saat saya membaca surat penugasan, wajah saya terlihat sangat gugup. Beragam pertanyaan yang diawali dengan kata bagaimana memenuhi kepala saya. Bagaimana kalau begini, begitu.

Dan benar saja. Hari pertama penugasan, saya sudah disambut dengan kematian tokoh besar. Alih-alih menyenangkan, liputan pertama justru menegangkan. Nomor kantor menghubungi saya terus menerus. Saya juga harus melaporkan informasi terkini untuk program berita di radio, yang masih tergabung dalam satu grup dengan media tempat saya bekerja sekarang, sesuatu yang belum pernah saya lakukan sebelumnya.

Apesnya, saya tak membawa charger ponsel. Padahal pada saat-saat seperti itu, ponsel -bukan ponsel dengan baterai yang sekarat tentunya- adalah satu hal wajib yang harus ada. Ide saya semula adalah kantor mengutus seseorang ke tempat kejadian dan membawa charger atau ponsel dengan baterai penuh. Tapi ide tersebut akhirnya batal. Saya sendiri loh yang membatalkannya :)

Iya, karena setelah saya berpikir dengan tenang, saya ingat, seseorang yang saya kenal -mmm … tidak terlalu baik, bukan teman sepermainan, hanya kenal sebatas kenal- yang tinggal di dekat situ. Hebatnya lagi, rumahnya -rumah mertua kenalan saya itu tepatnya- hanya berjarak beberapa rumah saja dari rumah mendiang. Begitu saya coba kontak, dia ternyata memang tengah berada di rumah itu.

Bahagia rasanya saat dewi penolong itu membukakan pintu pagar rumahnya, mempersilahkan saya masuk, meminjamkan charger ponsel yang mereknya sama dengan ponsel yang saya punya, dan memberikan saya segelas air putih dingin.

Kenalan saya itu sangat hangat. Suaminya juga. Saya meninggalkan ponsel saya di sana dan kembali lagi berjibaku di ruas jalan depan rumah tokoh yang telah berpulang itu. Saya kembali lagi ke rumah itu untuk mengambil baterai ponsel yang kembali terisi.

Dia … ya, kenalan saya itu, orang baik pertama yang saya temui di desk saya yang baru.

Dia seperti orang terdepan di sebuah rangkaian orang baik-orang baik yang akan saya temui di hari-hari selanjutnya, di penugasan saya yang baru.

Teman-teman liputan saya yang sekarang menjadi orang baik kedua, orang baik ketiga, orang baik keempat, dan seterusnya, dan seterusnya. Siapa menyangka liputan di tempat dengan serangkaian aturan formal yang harus dipatuhi ternyata bisa berubah menjadi liputan yang menyenangkan.

Teman-teman baru saya begitu baik. Padahal satu, dua orang di antara mereka adalah orang-orang yang telah lama menekuni profesi sebagai jurnalis. Pengetahuan mereka terhadap beragam masalah jauh lebih dalam dibandingkan apa yang saya tahu. Jejaring mereka juga sangat luas. Tapi lihat, di sini tak ada orang pongah. Mereka riang. Ramai. Ramah. Lucu. Tak pelit isu. Saling membantu Dan rajin bekerja. Saya sangat bersyukur atas ini.

Saya percaya apa yang Ma’e katakan benar. Jadi jangan berhenti menabur kebaikan ya, sebab percayalah, dengan cara yang tidak terduga, pertolongan akan datang dari beragam cara, beragam pintu, dari orang baik-orang baik :)

47 thoughts on “Orang Baik

  1. wow….
    benar-benar wartawan ya?
    hehehe, berarti mulai sekarang saya adalah penggemar baru blog anda. saya akan selalu membaca postingan anda…
    dan mungkin mencoba punya blog seperti anda…
    menawan…..
    assalamu’alaikum…
    salam kenal mba.
    nama saya fai dari manado.

  2. Aku mau jadi orang baik

    Sama seperti jawaban Johnny Depp dalam film What’s Eating Gilbert Grape:
    Becky: Tell me what you want as fast as it comes to you.
    Gilbert: I wanna be a good person.

    So, aku juga mau jadi a good person ajah.

  3. inget dulu ada pembawa acara TVRI yang selalu ngomong gini di akhir acaranya..
    “Baik Jadi Orang Penting.. tapi lebih Penting Lagi Jadi Orang Baik..”.. (“,) Salam sama orang-orang Penting Yang kamu Temui yah tta.. Apalagi yang baik.. hehehe

  4. yup, seperti tabungan enerji (istilah siapa ya? saya lupa). Tabungan kebaikan berniat ikhlas yang bisa kita ‘ambil’ sewaktu2, jika kita memerlukannya

  5. Akhir2 ini saya juga sedang menuai kebaikan yang tak pernah terduga.. ;-) Senang sekali mengetahui bahwa apa yang pernah ditaburkan di masa lalu kini telah berbuah, justru pada saat saya tak mengharapkan buah-buah itu ;-)

    Senang sekali baca tulisan2 Atta.. sering2 posting ya *wink* :-)

  6. Iya, setuju saya mbak. Itu sudah diajarin sama saya dari kecil, dan sampe sekarang saya masih percaya, dan sering membuktikannya :)

    Haduh, sudah lama sekali saya nggak baca tulisannya mbak atta, dan sekarang jadi makin keren saja :)

  7. tta,
    lama nda mampir ke negerisenja blog yang bikin sayah teduh sdh banyak postingan rupana:)
    tta,aku link yakh blogna….yiuuk mari berbuat baik,and be positive thinkin9..

  8. terkadang kebaikan tidak bsa drasakan seketika. sya mrasakan kebaikan org yang dlu sya anggap galak, jutek stlah berbaur dlm hitungan bulan.

    stlah itu dan smpai klak sya akan mengenang Atta sbgai slah stu mbak yang baik…sangat baik.

  9. Iya..ya, Banyak sekali orang baik di sekitar kita. Maka akan menjadi tidak adil, kalau kita selalu berburuk sangka terhadap orang lain. Hehehe. Salam kenal mbak Atta.

  10. senang ya selalu bertemu orang baik, atau setidaknya selalu berpikir bahwa orang yang kita temui adalah orang baik. btw… sibuk kayaknya di istana, sampai ga update2 nih…

  11. mengingatkan kita pada karma yak? dan emang gak ruginya berbuat baik…meski kadang perbuatan baik juga dicurigai hehehe… tapi ngemeng2 (ato nulis2?)…saya udah buktikeun bahwa berbuat baik itu Insya Allah kitah juga diberkahi kebaikan… justru bukan oleh orang yang pernah kita baikin hehehe :D

  12. Keren. Saya malah sering takut dgn kemungkinan jelek berhadapan dengan orang lain. Itu mungkin yang bikin kurang enak berhadapan dengan orang. Thanks buat postingannya, Ta! ;)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *