Seru

Dulu, saya sering kali disodori pertanyaan semacam ini?

Oh, wartawan? Kok nggak ke RSPP (Rumah Sakit Pertamina Pusat)? -ini sewaktu berita seputar mantan Presiden almarhum Soeharto tengah menjalani perawatan di rumah sakit tersebut-

Atau ini

Wah, sering ketemu artis dong? -hihihihi, mereka pikir saya bagian dari pekerja jurnalisme infotainment-

Atau ini?
Sering wawancara koruptor, pencuri, kayak di televisi itu?

Wartawan, dalam gambaran sebagian orang, adalah pekerja media yang beredar di segala tempat, di banyak bidang. Tak salah memang. Beberapa media, seperti televisi, situs berita, dan media cetak, menempatkan wartawannya di beragam bidang, pada saat yang bersamaan. Ya, beredar. Sangat beredar. Wartawan tadi bisa memulai hari dengan liputan kebakaran di utara Jakarta, lalu bergeser meliput diskusi politik seputar penyelesaian kasus yang tengah panas, dan mengakhiri liputan hari itu dengan menghadiri peluncuran produk ponsel terbaru.

Saya selalu salut dengan wartawan jenis ini. Perlu kemampuan tinggi untuk berpindah angle berita dengan cepat dan tidak dibuat bingung karenanya.

Tidak semua wartawan masuk ke dalam barisan ini. Dulu saya setia pada desk teknologi. Liputan saya sehari-hari hanya berkisar di seputar teknologi. Lain tidak. Dengan begitu saya bisa fokus. Tentu saya tidak perlu ke RSPP, atau mewawancarai koruptor hingga pelaku kejahatan dan menunggu berjam-jam di depan rumah artis yang kabarnya akan segera bercerai, tapi tak kunjung mengajukan gugatan. Saya hanya beredar di lingkungan yang berkaitan dengan teknologi.

Menyenangkan? Pasti. Saya punya banyak waktu untuk memotret, pergi ke sana dan ke situ, melakukan ini dan itu.

Tapi itu dulu … :)

Sudah hampir sebulan ini saya meninggalkan desk, tempat yang saya geluti dari awal saya masuk ke dunia jurnalisme. Sekarang saya tak ubahnya wartawan yang harus beredar dari satu isu ke isu lain. Meski kadang tak harus berpindah tempat dan tetap di lokasi yang sama. Semua harus dikerjakan dengan cepat. Orang yang saya temui tiap hari berganti-ganti.

Di teknologi dulu saya nyaris tak pernah menemui liputan pada malam hari. Tapi sekarang? ;) Kemarin, misalnya, saya mesti menunggu sebuah pertemuan yang belum juga usai hingga malam hari. Oh ya, belum lagi jika lokasi liputan harus bergeser ke timur Jakarta, sebuah tempat yang kerap disebut-sebut dalam pemberitaan.

Selain mengubah ritme kerja, saya juga dipaksa untuk merombak penampilan. Ha-ha-ha. Lupakan celana denim (saya juga jarang menggunakan celana denim saat liputan di teknologi, tapi jangan coba-coba menggunakannya di liputan yang sekarang).

Perlu waktu untuk mensyukuri desk baru ini. Sampai sekarang saya masih tergopoh-gopoh. Tapi untungnya saya tak sendiri. Sekumpulan teman baru yang juga meliput di desk ini benar-benar menyenangkan. Hari-hari saya tak lagi seburam seperti saat pertama kali saya dipindahkan.

Seru. Sekarang kata ini yang menempel di pikiran saya.

Tahun ini bisa jadi tak banyak tempat yang akan saya kunjungi. Tak banyak perjalanan dan hari libur. Tapi insya Allah itu sepadan dengan pengalaman yang akan saya temui di tempat baru ini ;)

Saya akan terus berusaha dengan baik. Hidup saya tak akan berakhir di sini. Saya tahu itu. Dan bukankah sesuatu yang tidak dapat membunuhmu akan membuatmu jauh lebih kuat? Saya akan bertahan dan tetap bersemangat. Pasti ;)