Tanggal 13

Angka 13 dikenal berteman dekat dengan kesialan. Tertarik untuk mengetahui lebih lanjut penyebab mengapa angka ini identik dengan bad number, saya kemudian menyambangi Paman Google. Paman yang baik hati ini bekerja sangat cepat. Di layar terpampang beragam temuan. Salah satu yang terlihat di layar, siapa lagi kalau bukan, adalah Wikipedia.

Satu alasan, yang saya jumpai di sana, adalah kala satu kelompok obyek atau orang terdiri dari 13, upaya membagi kelompok itu ke dalam kelompok kecil yang masing-masing beranggotakan dua, tiga, empat, atau enam, akan sia-sia. Selalu ada satu orang yang tertinggal. Itu sebabnya angka 13 identik dengan ketidakberuntungan. Masih banyak penjelasan, latar belakang, yang memberikan gambaran mengapa cap buruk menempel pada angka 13.

Tapi ternyata di beberapa tempat, angka 13 ini tidak dianggap sebagai angka yang buruk. Di Italia misalnya si 13 dipercaya membawa keberuntungan. Saya sendiri mempercayai setiap angka adalah baik. Sama seperti saya mempercayai setiap hari adalah hari baik.

Angka atau penanggalan dalam kalender, untuk saya, memiliki fungsi penanda. Kira-kira serupa patok saat berupaya temukan satu rumah di daerah yang masih asing. “Nanti kalau sudah ketemu pohon waru terus belok kiri. Nah dari sana kira-kira sepuluh meter lagi sudah terlihat kok rumahnya.” Pohon Waru merupakan penanda yang memudahkan proses pencarian, memudahkan perjalanan.

Itu mungkin sebabnya banyak orang perlu merenung di malam pergantian tahun. Awal satu Januari menjadi patok, saat di mana orang melihat kembali perjalanan, memanggil kembali kenangan akan peristiwa yang sudah lewat, dan merancang apa yang akan dilakukannya pada 365 hari mendatang. Angka dalam kalender menautkan ingatan dengan masa lalu dan masa depan.

Buat kami, saya dan laki-laki harum hutan, tanggal 13 juga mengemban fungsi yang sama; sebagai patok, penanda. Tak pernah ada momen khusus atau perayaan pada tanggal itu. Dia biasanya lebih dulu mengirimkan pesan pendek. Isinya lebih kepada harapan dan doa untuk relasi kami ke depannya. Seingat saya, hanya satu kali dia alpa. Kala itu tanggal 13 Oktober tahun lalu bertepatan dengan Hari Raya Idulfitri. Dia datang ke rumah. Dan saya menunggu ucapan khas tanggal 13. Tapi hingga pertemuan usai, dia tak kunjung mengucapkannya. Ha-ha-ha.

Tanggal 13 di bulan-bulan pertama relasi kami dijalin merupakan representasi dari masa penyesuaian yang kala itu terasa menguras energi. Hati harus terus menerus dikuatkan. Penerimaan atas beragam perbedaan tak henti dilakukan.

Sekarang langkah saya dalam menapaki perjalanan ini jauh lebih ringan. Sumbernya bisa jadi dari keyakinan saya yang semakin menguat, terus menguat. Kami menyelaraskan banyak hal. Saya terus menghargai pilihan-pilihannya, sebaliknya ia juga selalu mendukung langkah yang saya ambil.

Saya bersyukur atas kehadirannya dalam hidup. Dia mendengarkan, memahami, menyayangi. Saya merasakan bahagia yang menetap. Menyenangkan. Tentu masih ada ketidaksesuaian yang sesekali saya jumpai dalam hubungan ini. Tapi hingga saat ini, 13 Januari, berdua kami berhasil melaluinya. Perjalanan menuju tanggal 13 tanggal 13 lainnya semoga kian mengekalkan apa yang sudah kami rintis.

selepas hari jadi …
untuk kamu; yakin usaha sampai yah :)