Rumah

Wamena

Selasa sore pekan lalu, saya kembali ke Jakarta. Setelah sempat tertunda sehari akibat maskapai yang “ajaib” -memberikan kursi pada penumpang lain, padahal tiket sudah dikonfirmasi-, saya tiba di rumah, selepas perjalanan dari timur yang sangat-sangat menyenangkan.

Wamena dan Jayapura menawarkan banyak. Saya bisa dengan mudahnya jatuh cinta dengan Wamena. Pada bonggol-bonggol awan putih, langit biru, hijau pohon, terik matahari, pebukitan. Wamena, hanya bagian kecil dari Papua, yang begitu cantik.

Selasa sore pekan lalu, saya kembali ke Jakarta. Selalu saja perasaan itu datang setiap kali saya kembali ke sini, ke Jakarta. Kota tempat saya berumah. Aneh, meski dijejali dengan banyak hal yang kurang saya senangi -termasuk kemacetan dan perilaku tergesa-gesa yang ditunjukkan banyak warga kota-, selalu ada perasaan senang yang menyusup di hati. Tiba di rumah selalu menentramkan :)

Kelak saya akan temukan perasaan tenteram itu di satu kota lain. Di manakah? Saya juga belum tahu. Tapi saya memetakannya dengan jelas di pikiran. Tempat di mana pantai berpasir putih tak terlalu jauh dari pusat kota, udara masih bersih, penduduk kota yang ramah dan hidup berdampingan dengan rukun, barisan pohon flamboyan, sambungan Internet yang baik -aha!-, dan laki-laki yang harumnya bisa dicuri kapan saja. Satu hari nanti … saya akan temukan rumah itu :)

33 thoughts on “Rumah

  1. saya juga ingin punya rumah baru. rumah yang sama menentramkannya dengan yang ada sekarang. dan tentu saja, harus ada sebaris senyum itu. senyum yang selalu memberikan alasan untuk tetap berlari dan terus berlari.

  2. Cobalah ke sini. Di sini tidak ada pantai yang dekat pusat kota, tapi ada danau yang menenangkan. Tidak ada pohon flamboyan, tapi banyak cemara dan pinus yang baunya makin segar tercium bahkan saat tertutup salju putih. Ada udara yang masih bersih, penduduk kota yang ramah dan hidup berdampingan dengan rukun, dan sambungan Internet yang tak membuat kita tertidur. Oh ya, ada laki-laki yang harumnya bisa dicuri kapan saja. But he is taken…he he he…

  3. atta, kota tempat tinggalku sekarang kota yang indah, ada banyak taman yang luas tempat anak2 bebas bermain dan trotoar yang nyaman untuk pejalan kaki. udaranya bersih, enak untuk menghirup napas dalam2. penduduknya juga ramah. tapi tetap saja, ini hanya rumah kedua. tetap kangen indonesia :)

  4. sebelum mendarat di Sentani, keren banget lho bukit2nya dari udara. hijau. apakah masih begitu? sudah lama sekali gue terakhir kali ke sana.

    oya. semoga rumahnya cepat ketemu, atta!

  5. Jauh sudah aq berjalan,tolonglah tunjukkan jalan ke rumahku..[oppie-rumah]dimana ada seseorg yang memeluk saya ditiap mlm saya,dan anak2 bandel buah cinta kami berlarian ditaman mungil kami,dimana ada 2 cangkir kopi dan sejuta celotehan kecil dimeja sarapan kami setiap pagi dan secangkir susu jahe untuk sang lelaki,dongeng nina bobo untuk sang kecil di setiap akhir hari kami..hemmm..wamena bagus ya sis?saya pengen ke samalona malah..

  6. dan saya sudah temukan sebuah rumah
    di sebuah tempat di pinggir kota solo
    dengan pandangan hijau menghampar di tepi sawah
    dan kicau burung di pagi hari
    kapan2 mampirlah dan kita akan nikmati secangkir teh hangat di senja hari… :)

  7. ada satu pepatah bilang
    “jadikan hidupmu seperti termostat yang bisa mengubah keadaan, jangan seperti termometer yg selalu ikut keadaan”

    dimanapun selalu menunggu rumah itu. bila hidup kita seperti termostat.
    salam kenal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *