Rumah

Wamena

Selasa sore pekan lalu, saya kembali ke Jakarta. Setelah sempat tertunda sehari akibat maskapai yang “ajaib” -memberikan kursi pada penumpang lain, padahal tiket sudah dikonfirmasi-, saya tiba di rumah, selepas perjalanan dari timur yang sangat-sangat menyenangkan.

Wamena dan Jayapura menawarkan banyak. Saya bisa dengan mudahnya jatuh cinta dengan Wamena. Pada bonggol-bonggol awan putih, langit biru, hijau pohon, terik matahari, pebukitan. Wamena, hanya bagian kecil dari Papua, yang begitu cantik.

Selasa sore pekan lalu, saya kembali ke Jakarta. Selalu saja perasaan itu datang setiap kali saya kembali ke sini, ke Jakarta. Kota tempat saya berumah. Aneh, meski dijejali dengan banyak hal yang kurang saya senangi -termasuk kemacetan dan perilaku tergesa-gesa yang ditunjukkan banyak warga kota-, selalu ada perasaan senang yang menyusup di hati. Tiba di rumah selalu menentramkan :)

Kelak saya akan temukan perasaan tenteram itu di satu kota lain. Di manakah? Saya juga belum tahu. Tapi saya memetakannya dengan jelas di pikiran. Tempat di mana pantai berpasir putih tak terlalu jauh dari pusat kota, udara masih bersih, penduduk kota yang ramah dan hidup berdampingan dengan rukun, barisan pohon flamboyan, sambungan Internet yang baik -aha!-, dan laki-laki yang harumnya bisa dicuri kapan saja. Satu hari nanti … saya akan temukan rumah itu :)