Pasti lebih baik

“Saya sangat prihatin dengan banyaknya bencana yang saat ini menimpa rakyat Indonesia, tapi saya yakin bangsa Indonesia akan bisa bertahan dari semua itu. Sama ketika bangsa Indonesia bertahan sejak tahun 1955 …”
(Kutipan dari Boyd R. Compton pada artikel Sebuah Indonesia Idaman Mereka, Majalah Tempo Edisi Khusus Kemerdekaan, Halaman 110-114)

Saya terharu membaca kalimat tadi. Majalah Tempo berhasil menggugah sisi terdalam saya, mengingatkan saya kembali akan kecintaan saya pada negeri ini; Indonesia. Agustus dengan merah putih di sana-sini memang pemantik yang ampuh.

Dan kenyataan yang saya dapatkan akhir-akhir ini membuat saya yakin -mungkin sama seperti keyakinan yang dimiliki Compton- kalau negeri ini, tanah tempat saya berpijak setiap harinya, menjalin jejaring, tumbuh, menghirup udaranya dalam-dalam, begitu mencintai setiap incinya, Indonesia, akan lebih baik.

Saya yakin itu.

Keyakinan yang tidak muncul begitu saja, tapi ada karena beragam temuan

Seorang murid kelas enam sekolah dasar, anggota dari tim pembuat film yang berhasil menang di festival berskala internasional -saya lupa nama ajangnya- bisa dengan fasih bertutur tentang pilihan hidupnya kelak.

Lalu tulisan tentang sosok orang-orang hebat di sebuah harian yang saya langgani. Dari penjaga lingkungan, pejuang Hak Asasi Manusia, guru di daerah terpencil, pelestari budaya, beragam profesi yang membuat saya tahu negeri ini tak pernah kehilangan orang-orang yang berjuang untuk perbaikan

Beberapa hari lalu saya juga sempat mengunjungi sebuah pameran. Beragam aplikasi buatan anak negeri, dari film animasi -dengan dukungan animator lokal berusia muda yang karyanya apik- hingga perangkat lunak untuk mendukung kegiatan belajar. Hebat.

Ya, saya tahu, ada banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan oleh negeri ini. Segudang peraturan dan sistem yang “ajaib”. Tata kelola yang belum baik. Korupsi yang belum ditumpas hingga ke akar. Dan masih banyak lagi.

Tapi sebuah masukan dari seorang teman berbincang -narasumber berkacamata yang pintar tapi begitu rendah hati- mungkin bisa jadi renungan. Begini katanya:

“Bangsa ini terbiasa mengeluh. Dari supir taksi yang saya naiki, hingga pelayan warung tempat saya makan. Dari pejabat negara hingga kalangan profesional. Kondisi hidup saat ini memang pantas membuat mereka mengeluh, mungkin. Tapi kerja tak akan selesai kalau kita hanya mengeluh. Saya membayangkan sebuah negeri yang mayoritas penduduknya mengerjakan sesuatu dengan gembira, bahagia, semua mengejar tujuan yang sama, kebaikan untuk semua, dari semua segi, ekonomi hingga politik. Mungkin agak sulit untuk mengubah orang-orang seumuran saya atau Anda, tapi saya ingin cucu-cucu saya juga anak-anak Anda nanti bisa sampai sampai ke kondisi yang saya idam-idamkan itu, hidup di negeri yang minim keluhan.”

Saya yakin, bangsa yang elok ini pasti akan jauh lebih baik dari sekarang…

selamat ulang tahun Indonesia :)

33 thoughts on “Pasti lebih baik

  1. Aku sendiri sedih liat negeri ini terpuruk, tapi yang namanya badai pasti akan sirna. Cuma bagaimana kita bertahan dalam badai itu dan memperbaiki kerusakan yg harus jadi perhatian.

  2. narasumber berkacamata itu perlu tahu adagium umum: bahwa berbicara selalu lebih mudah.

    Mengeluh, misuh, adalah salah satu saluran pembebasan dari kepenatan yang menumpuk-numpuk.

    Hanya satu cara untuk membuat keluhan itu “bermakna”: kita dengarkan. Jadilah pendengar yang baik.

    Kisah “Keluarga Cemara” itu hanya ada dalam dongeng ta. Miskin tapi bahagia itu utopis. Bagaimana bisa tidur kalau perut lapar?

  3. mba atta..udah sebulan ini aku sering ke negeri senja, berharap2 cemas ketika browser mulai bekera, “ada tulisan apa lg y dr mba atta?”akhirnya..aku mndptkan 1 buah pikiran dr mba atta… ya indonesia bagaimanapun keadaanya sekarang, aku juga punya keyakinan seperti mba atta.kita pasti bisa menjadi sangat baik :) (bukan sekedar lebih baik)

  4. Busuknya Indonesia di tingkat makro dibangun dari kebusukan2 di level mikro. Dan, kitalah di level mikro itu. Atta, aku sepakat: berhenti mengeluh, saatnya bekerja, berkarya! Jangan dulu utk tujuan2 besar, cukup untuk diri sendiri saja, bangun kapasitas diri dulu

  5. Setuju untuk tidak lagi mengeluh. Bersyukur karena bangsa ini tidak dalam kondisi perang.

    Lapar? Masih ada kesempatan untuk cari makan, dengan berhenti mengeluh saja sudah berarti mengurangi sepersekian energi untuk melakukan hal yang tidak berguna.

    Saya jadi ingat kata seorang motivator di televisi: “Life is great!”

  6. yup atta….rite or wrong is my country. sampe nanti sampe mati. pasti ada yang bisa dikerjakan. pasti ada untuk meminimkan keluhan. yang pesimis ama negeri sendiri, sana jalan-jalan ke negeri orang. isi otak, kerjain sesuatu, busungkan dada, tegakkan kepala. aku pikir orang indonesia undah “terpilih” jadi orang indonesia. so what the heck?? mari-mari jangan dulu memandang sulit yang belum dikerjakan. dan ini pasti bukan cuma keinginan segelintir orang. merdeka…!!!

  7. Pasti lebih baik! Yakinkan diri sendiri, buat bukti, biarkan orang melihat. Keinginan negeri idaman itu bukan semata-mata mimpi. At least untuk diri sendiri. Mari buat hidup memiliki makna…..

  8. sebagai manusia gak sempurna, kita pun sering gak luput dari penyakit mengeluh dan menuduh.

    eling, saling mengingatkan, saling menguatkan, akan mengembalikan jiwa ini ke alur yg baik.

    jabat tangan erat-erat, merdeka!!!

  9. Mungkin udah saatnya kedepan ini nada postif dan menyemangatkan sedianya lebih banyak dimunculkanke permukaan – ibarat lagu: gantilah memutar lagu2 seriosa bak jeritan orang sakit-gigi itu.. dan mulailah memasang musik yang berirama fast beat dan menggelorakan semangat..

    Kita bisa bangkit, berlari mensejajarkan diri dengan anak bangsa lainya, HANYA pada saat kita berhenti menangis dan meretap, mengambil keputusan untuk bangun dan terus mengejar ketinggalan :D

    Each individual has ‘a shared-responsibility’ to cheer up the whole grass-root..

    Salam merah putih selalu, dari kita-kita yang juga sedang berjuang di negeri orang mengharumkan nama bangsa..

  10. hallo mbak ,senang kenal dengan mbak ,mbak jika diam bukanlah jawaban ,mengapa kita tersenyum dalam keheningan .teman saya dari singapore bilang indonseia kaya tapi mengapa”miskin”suatu pertanyaan yang sangat susah untuk di jawab

  11. bicara tentang ‘mengeluh’ bangsa di benua sini juga gemar mengeluh kok, Ta. Tiap tiga kata misuh. A part of sentence :D
    Tapi mengeluh kadang juga perlu kok, karena ada banyak orang yg suka memanfaatkan sikap ‘nrimo’ orang.

    oot: aku sering melihat namamu tercetak tebal di list itu. Tapi ada tanda ‘dilarang masuk’ di sebelahnya. Pasti sedang dikejar deadline. Jadi aku tak menyapa meskipun ingin :(

  12. … saya curiga, narasumber berkacamata yang bicara soal keluh-keluhan itu jangan-jangan Aa Gym? atau, setidaknya dia pernah dengar dari Aa Gym? hehe… Tapi saya setuju. Merdekaaa..!

  13. Saya juga cinta Indonesia, tapi (ada tapi-nya…) seperti bentuk2 cinta yang lainnya, ada gradasi antara benci dan rindu. Benci kalau melihat saudara sendiri mau menang sendiri, rindu kalau melihat sesama saudara bisa gotong royong. Cinta tanpa mengeluh itu sama dengan cinta buta, tapi cinta dengan pikiran rasional (dan kritis) bisa memacu usaha. Weleh kok jadi ceramah… jadikan saya narasumber saja ya :P

  14. saya bayangkan negeri itu akan seperti negeri senja :) indah, atta! saya masih menantikan saat perjumpaan kita hahaha … tidak apa-apalah, toh saya masih bisa mengunjungimu di negeri senja ;p *peluk atta*

  15. To Atta and/or pembaca setia atta @ negeri-senja;

    Taqabbalallaahu minnaa wa minkum, shiyaamana wa shiyaamakum,
    kulu ‘aamin wa antum bi khoirin,

    minal ‘aidin wal faidzin

  16. Mencerahkan sekali membaca tulisan ini,… yaah malu juga karena aku salah satu makhluk di Indonesia yang juga suka mengeluh,.. mencintai tapi juga mengeluh,.. … tapi yakin Indonesia akan lebih baik…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *