Ayo Maju …

Saya ingat betul pertama kali ia, mitra strategis saya; si harum hutan yang baik hati ;) , menuturkan rencananya untuk meneruskan pendidikan.

Waktu itu kami tengah melintas di seputaran Mampang, selatan Jakarta, di satu ritual putar-putar kota yang biasa kami lakukan. Seraya mengemudi ia bercerita tentang rencananya itu.

Reaksi pertama saya? Tentu senang. Benar, saya senang sekali mendengar ia memikirkan itu.

Ia lalu menyiapkan semuanya. Pergi ke kota di mana universitas tempatnya akan meneruskan pendidikan untuk mendaftar, kemudian pergi lagi ke sana untuk mengikuti ujian. Saya juga ikut cemas menunggu hasil ujian. Dan ikut gembira saat satu sore pesan pendeknya datang mengabarkan namanya ada di dalam barisan nama dalam pengumuman.

Kemarin ia juga kembali ke kota itu lagi; melakukan pendaftaran ulang dan berputar-putar mencari tempat tinggal yang akan dihuninya selama ia menjalani kehidupan di sana.

Rasanya baru kemarin, kami melintasi Mampang.

dan sekarang

Satu jejak akan dimulainya. Saya tahu ada nyala dalam hatinya saat ini. Dari percakapan telepon yang kami lakukan semalam, saya bisa menangkap semangat di dalam hatinya. Syukurlah. Saya memang ingin ia memulai tahapan baru ini dengan semangat, dengan sebongkah harap, dengan berpikir positif.

Setelah dia pergi, saya pasti mudah rindu. Tapi bukankah teknologi bisa memangkas jarak dan membuat yang jauh menjadi terasa dekat?

Jadi, sama seperti dia, saya juga akan bersemangat melepasnya.
Ayo maju Hon.
Saat ini giliranmu, lain kali giliran saya yang akan meneruskan pendidikan ;)

Tentang Bedah

Ah, akhirnya bisa juga kembali ke sini. Menulis hal-hal remeh dan tak penting.

Oke.

Sekarang apa yang ingin ditulis?

Ini saja
atau itu saja
lebih baik ini
atau itu?

Terlalu lama meninggalkan halaman putih ini ternyata punya efek buruk. Saya bingung menentukan angle *blah*

Baiklah saya akan menulis tentang bedah. Iya bedah, operasi, atau carilah kata lain yang mampu mewakilinya.

Ini kali ketiga (ya, kali ketiga, tiga kali operasi *sigh*) dalam tahun ini saya harus berhubungan dengan dokter bedah. Dua kasus sebelumnya berkenaan dengan organ dalam, pencernaan tepatnya. Untung tidak terjadi sesuatu apa. Luka bekas operasi kedua masih tampak dan sedikit bermasalah saat saya memaksakan diri untuk snorkeling di Pulau Oar.

Iya, saya sempat ke Pulau Oar. Pulau kecil ini letaknya di dekat Pulau Umang. Cerita tentang Pulau Oar ini disimpan saja dulu (Lihat saya mulai bingung menentukan arah cerita)

Jadi, Sabtu pekan lalu saya kembali menghadapi pisau bedah. Kali ini giliran mulut. Saya pikir rahang saya sudah cukup besar untuk menampung semua gigi-gigi. Tapi ternyata, o .. o, tidak ada tempat untuk gigi-gigi bungsu. Alhasil geraham-geraham yang letaknya di sudut itu harus dibedah. Dari empat geraham, dokter gigi memutuskan untuk mengambil satu geraham atas dan satu geraham bawah bagian kanan dulu.

Sakit?

Jangan ditanya.

Saat operasi berlangsung, dokter bedah sempat pundung, setengah mengancam ia berkata: “Mbak, kalau mbak tak juga tenang, saya hentikan di sini loh,” ujarnya.

Duh. Saya berusaha keras mengatur kembali nafas saya. Tenang tenang, ucap saya dalam hati, bayangkan yang indah-indah.

Dokter gigi -yang biasa saya kunjungi- dan membantu dokter bedah saat operasi ikut menenangkan: “Begini aja deh, biar kita tahu, kalau terasa sakit kamu angkat tangan kiri kamu ya.”

Dan kalian tahu, sejak dokter gigi menyelesaikan kalimat tadi hingga operasi hampir selesai, tangan kiri saya terus terangkat. Hahaha

Sekarang pipi kanan saya masih bengkak. Nyeri. Dua minggu lagi jahitan di sudut mulut bagian kanan ini baru bisa dilepas. Mudah-mudahan segera pulih.

Jadi, lebih baik sekarang saya beristirahat. Mandi. Mengganti pakaian bersih. Mematikan lampu kamar. Dan terlelap.

Jaga kesehatan dan selamat berakhir pekan ;)

informasi mengenai gigi bungsu bisa disimak di Wikipedia