Wajah Kota

Saya lahir di kota ini, puluhan tahun lalu. Saya besar di kota yang ramai ini. Meski setiap hari beraktivitas di sini, sampai sekarang saya masih tak hafal setiap sudutnya.

Ajak saya ke daerah Tebet. Buat saya kawasan itu bak labirin. Saya bisa terheran-heran melihat Warteg Warmo tiba-tiba ada di perempatan jalan di depan sana. Loh, bukannya masih satu perempatan jalan lagi? Tebet tak sendiri. Wilayah utara kota ini dan masih banyak daerah lain yang juga tak saya kuasai.

Bukan hanya sudut kota saja yang tak saya hafal. Puluhan tahun tinggal di sini, saya juga masih mereka-reka wajah kota sebenarnya. Hingga satu waktu, awal Februari lalu, saya dihadapkan pada wajah kota ini, kota yang puluhan tahun saya diami.

Wajah itu hadir di layar kaca, bersamaan dengan rangkaian gambar yang hadir silih berganti. Saya melihat wajah kota sambil terbaring. Menahan perih paska operasi (dan teman-teman dekat yang datang ke kamar saya waktu itu bertanya setengah tidak percaya -elo beneran sakit?- ketika saya bahkan tak mampu menyuap makan siang saya sendiri)

Wajah kota itu adalah wajah warga kota yang tetap bertahan di atap rumah mereka sementara air bergerak semakin tinggi. Mengepung. Menerjang. Mengurung.

Wajah kota itu adalah wajah perempuan yang tidur di tenda. Mengipasi anaknya. Dan bingung memikirkan air yang tak kunjung surut.

Wajah kota adalah deretan pasien yang datang terus menerus. Dan kabar nyawa-nyawa yang pergi karena terlambat ditangani.

Wajah kota itu saya jumpai dari barisan laki-laki bercelana pendek dan kaos yang basah kuyup, berdiri di muka gang, yang saya lihat dalam perjalanan pulang dari rumah sakit.

Wajah kota itu juga saya dapati saat saya menatap wajah-wajah mereka secara langsung, ketika saya kembali beraktivitas setelah enam hari dirawat di rumah sakit dan melanjutkan istirahat selama beberapa hari lagi di rumah.

Wajah-wajah kota itu adalah barisan yang mengular. Mereka mengantri. Berdiri. Karena kursi yang tersedia sangat sedikit dan tak menampung semua yang hadir.

saya batuk mbak. ini ketusuk beling. mau ganti kasa, kaki saya kena seng. anak saya demam, ini kakaknya panas tinggi. saya gatal-gatal . kepala pusing terus. lumpur sepinggang, nggak kuat bersihinnya. sudah seminggu ini kurang tidur.

Saya tak punya pengetahuan medis. Tapi untunglah, masih ada yang bisa dikerjakan. Kantor, tempat saya bekerja, menggandeng sebuah perusahaan swasta. Bahu membahu kami membuka posko pengobatan.

Apa yang keluar dari mulut ratusan orang yang hadir setiap harinya adalah gambaran dari wajah kota. Di Mampang, di Kampung Melayu, di Cipinang, di Karet, di Kali Malang, di Pengadegan, di Kalibata. Dan tempat-tempat lain yang tak sempat didatangi.

Wajah kota ini adalah genggaman lemah seorang ibu, yang menitikkan air mata sambil mengucapkan terima kasih saat tangan kanannya menerima obat dalam plastik putih.

Wajah kota ini adalah muka pucat seorang bocah laki-laki, memakai sepatu boot dari bahan karet warna hitam yang kotor terkena lumpur, duduk sambil menyandarkan kepalanya di kursi plastik warna merah, menunggu antrian bertemu dokter, siang itu.

Wajah kota ini adalah rasa cemas yang hinggap setiap kali hujan datang. “Semalem aer udah naik lagi neng, wah, ribet deh, deg-degan terus,” ucap seorang bapak. Di kota ini, hujan tak lagi romantis.

Jadi, teruslah membangun tuan-tuan. Apa yang kalian kerjakan turut membawa andil bagi pembentukan wajah kota sebenarnya; baskom raksasa yang mulai renta dan tak kunjung berbenah.