tenang atta

tenang atta
pikirkan saja hal hal yang menyenangkan
seperti semangkuk es kacang merah
atau bangun pagi di Ubud dan langsung disambut padi menghijau
atau pergi berdua saja dengan ija-sahabat yang gemar sekali bergurau- dan tertawa-tawa sepanjang hari dan tertawa-tawa sepanjang hari dan tertawa-tawa sepanjang hari
atau membawa Teddy -kamera tercinta- dengan beberapa rol film hitam putih masuk pasar keluar pasar, memberi senyum pada perempuan tak dikenal berwajah ramah
atau menikmati rintik hujan, hujan kecil kecil yang turun sore hari
atau makan jenang pinggir jalan
atau melihat bintang meski samar
atau berjumpa kawan lama dan bersyukur atas apa yang telah dilewati bersama
atau bertemu Obin -Obin pasti sudah besar, saya kangen Obin-
atau menengok Eyi dan mengecup Pendar, bayi perempuan cantik
atau meneguk secangkir teh manis panas buatan Ma’e
atau melihat sekumpulan bunga matahari kuning
atau berbagi kisah dengan Adri dan Ghilman, dua laki-laki kecil yang tak pernah kehabisan bahan cerita, dan memanggil saya dengan sebutan “tante asyik”
atau

saya cuma lelah, sedikit ;)

tenang atta
semua pasti akan baikbaik saja
pikirkan saja hal hal yang menyenangkan

Temukan Telaga

Akhirnya ia datang . Seorang wanita yang hatinya baik dan suka berbaik hati. Ia pintar dan juga senang berbicara. Ia banyak belajar dari Universitas Kehidupan. Dosennya adalah Bapak Pengalaman dan Ibu Persahabatan. Ia menawan. Banyak memberikan hikmah. Aku bahagia… (Laki-laki harum hutan, akhir Oktober)

Kalimat di atas saya temukan di halaman yang ditulisnya, mitra strategis, si harum hutan yang baik dan jenaka. Barisan kata itu dijalinnya untuk saya. Bahagianya :)

Pertama kali saya jatuh cinta padanya, saya tak tahu ia pandai menulis. Saya tak pernah tahu kalau ia sesekali menuangkan pikirannya dalam tulisan. Kunjungan pertama ke rumah kata yang dibangunnya sempat membuat saya terkejut bercampur senang. Sejak dulu, sesuatu di dalam diri saya berkata saya akan menganyam kisah bersama laki-laki yang menulis.

Membaca jalinan kata di atas membuat saya bahagia. Bahagia yang menetap dan tak kunjung tanggal, dari hari di mana saya jumpai tulisan itu sampai saat ini.

Rasanya
Seperti

Bersampan di pagi hari, saat matahari masih hangat. Dan saya membiarkan kulit saya tertimpa sinarnya. Saya kayuh dayung, susuri telaga. Pandangi gumpalan awan di langit. Dengarkan kecipak air saat dayung sentuh permukaan telaga.

Saya terus susuri telaga.

Begitu sampai di seberang. Saya turun dari sampan. Bertelanjang kaki. Dengan langkah kecil lalui setapak, jalan dengan rerumputan yang tersibak. Ciumi wewangian bunga liar.

Saya tinggalkan sampan
tanpa rasa khawatir
tenang
sebab telah saya temukan
telaga
yang akan menjaga
selalu
:)

-tulisan ini terinspirasi oleh puisi Akulah Si Telaga karya Sapardi Djoko Damono-

Pesta Itu Datang Lagi

Desember datang. Desember yang cantik dan bersolek. Udara tak lagi panas. Hujan sesekali datang. Ujung tahun selalu membawa bahagia.

Dan pesta itu datang lagi. Di Desember yang cantik dan bersolek, keriangan di ujung tahun ini layak disambut dengan suka cita. Perhelatan itu seperti perjumpaan dengan kawan lama yang datang di senja yang jingga. Ia datang membawa keranjang penuh nutrisi jiwa, dengan senyum yang merekah, membuka pintu pagar rumah. Selamat datang, senang sekali bisa berjumpa dengan mu lagi, saya menyongsongnya di depan pintu -dekat kerimbunan suplir-suplir- dan memberinya pelukan serta kecupan di pipi kanan dan kirinya.

Pekerjaan rumah pertama adalah membuat jadwal. Hanya berbekal situs, pekerjaan rumah ini tidak saya selesaikan dengan baik. Untunglah, sekarang saya sudah memegang buku panduan dan jadwal pemutaran (saya suka desain buku panduan tahun ini. ceria. lolipop rol film menghiasi halaman sampulnya)

Tahun ini, saya tak lagi bersusah payah menyusun jadwal sendiri. Ada mitra strategis -yang rupawan kala dipandang- yang menemani. Tapi referensi dan minat yang berbeda membuat kami menemukan persimpangan di awal penyusunan jadwal.

Saya sangatinginsekali menonton Babel. Ia menggeleng. Nanti nonton di DVD aja, begitu katanya. Tapi ini Brad Pitt, saya berkilah. Ciptaan Tuhan yang satu itu lebih asyik dipandang di layar lebar, bukan begitu? ;) Dan berpisahlah kami. Saya tetap akan menonton Babel -iya honey, saya tetap akan memasukkan Babel dalam daftar, Brad Pitt gitu loh-. Kemungkinan akan ada beberapa film lain lagi yang tidak kami saksikan bersama. Nggak papa ya, beda itu rahmat, ujarnya seraya tersenyum.

Ada enam tempat pemutaran film, EX studio XXI, Djakarta Theater XXI, Instituto Italiano di Cultura, Erasmus Huis, Goethe Haus, dan KineForum Taman Ismail Marzuki 21. Tahun ini saya akan merindukan suasana menonton di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM).

Pemilihan lokasi pemutaran -khususnya di EX Studio XXI dan Djakarta Theater XXI- akan menimbulkan sedikit kendala untuk penonton dengan kendaraan pribadi. Mencari lokasi parkir seperti mencari tumpukan jarum di jerami. Sulit. (Kami sudah membuktikannya pada Jumat malam kemarin ;)) Jadi, sebaiknya jangan datang terlalu mepet jika tak ingin ketinggalan pertunjukan. Atau, seperti saran saya pada mitra strategis yang saya cintai: mending mobil tinggal aja di mana gitu, ke Djakarta Theater naik TransJakarta saja.

Saya sendiri -mudah-mudahan tak menemui kesulitan-. Lokasi pemutaran sangat mudah dijangkau dengan beragam moda transportasi dari kantor.

Ini saatnya berpesta. Ada lebih dari 200 film dari 35 negara di dalam keranjang yang dibawa kawan lama di senja yang jingga itu. Empat film dokumenter tentang Aceh dan Timor Timur yang dilarang diputar di tahun ini semoga tak mengurangi kenikmatan perhelatan kali ini (Aduh, katanya reformasi, tapi sensor masih juga dijadikan alat).

Letakkan dulu semua beban, buang semua galau, usir semua gundah, singkirkan jauh-jauh resahmu, jangan bersedih, usah berduka. Di tengah situasi Jakarta yang mudah memancing geram -lalu lintas yang padat, transportasi yang kacau, pejalan kaki yang disingkirkan, pengendara motor yang “ajaib”, supir metromini dan kopaja yang ugal-ugalan, dan ini dan itu-, pesta tahunan ini memberi kesejukan ibarat oasis.

Selamat berpesta. Ayo, ini saatnya bersenang-senang. Yippie. Sampai berjumpa di Jakarta International Film Festival ya.

-terima kasih untuk Yayasan Masyarakat Mandiri Film Indonesia untuk semua dedikasi dan kerja keras-