Dulunya Pahlawan

Ruang baca di satu sore. Barisan majalah terbitan dalam dan luar negeri. Sederetan koran. Tabloid. Meja Panjang. Kursi-kursi. Siaran televisi. Tiga orang bercakap-cakap di sana. Ya, di televisi. Suara ketiganya memenuhi ruang baca.

Satu orang penengah
Satu orang setuju
Satu orang tak setuju

Ini percakapan tentang orang nomor satu di negeri yang merasa memiliki kewajiban untuk menjaga perdamaian dunia.

Dan sebuah suara memenuhi ruang baca. Bukan. Bukan suara dari televisi. Suara dari salah seorang pengunjung ruang baca. Ia duduk tak jauh dari bangku saya.

aku masih ingat. dulu aku sering lihat kuliahnya. salah satu pengunjung ruang baca menatap orang yang setuju -orang ini menegaskan pentingnya menjaga relasi antara negeri yang kita diami ini dengan negeri adi kuasa nun jauh di sana dan menganggap penyambutan, yang menurut sebagian kalangan terlihat sangat berlebihan, adalah hal yang biasa- di layar kaca. dulu, ia melanjutkan ucapannya, aku seneng banget denger isi kuliahnya. begitu hidup. cerdas. bersemangat. orang ini nih, ia menunjuk ke layar kaca, nggak takut loh berseberangan dengan pemerintah. wong karirnya sampai terhambat karena ia terlalu vokal dan ia tetap saja bersuara. kritiknya keras. nggak cuma asal bunyi. berisi. buatku dia dulu pahlawan. tapi sekarang … Alih-alih melanjutkan ucapannya, pengunjung ruang baca itu menggeleng-gelengkan kepalanya.

Saya pandang televisi. Melihat sosok yang sempat menjadi pahlawan di masa lampau bagi orang yang duduk di samping saya. Suaranya tegas. Sosok di layar kaca itu cerdas. Argumentasinya bernas. Tapi ia terlihat begitu lunak. Keras yang lunak.

Pengunjung di ruang baca itu tetap tak melepaskan pandangannya dari televisi. Dari tempat saya duduk, sekilas saya sempat memandang raut mukanya. Apa yang dipikirkannya?

Suara tiga orang di televisi masih mendominasi ruang baca. Dan pengunjung yang duduk di samping saya itu masih juga menatap sosok yang dulu sempat menjadi pahlawan untuknya.

Beberapa hari setelah peristiwa sore itu, saya melihat lagi sosok yang dulu sempat menjadi pahlawan untuk pengunjung di ruang baca itu. Kali ini ia berbicara mewakili sebuah korporasi yang belakangan menimbulkan persoalan besar di negeri ini. Ia tetap cerdas. Tuturnya juga bernas. Dan ia tetap terlihat lunak. Dekat dengan kekuasaan mungkin serupa karat. Bahkan besi dan baja yang tak mudah patah perlahan-lahan melapuk.

Rindu, Gunung, dan Bukit

Perempuan mengirim pesan pada lelaki yang dikasihinya; aku rindu. Lelaki ganti mengirim pesan; aku juga.

Perempuan mengirim pesan pada lelaki yang dikasihinya; aku rindu. Rinduku Menggunung. Lelaki membalas pesan; aku juga rindu. Belum menggunung. Masih bukit.

Perempuan terdiam. Masih bukit?, pikirnya dalam hati. Hanya bukit?, pikirnya lagi masih dalam hati. Mmm…

Lelaki tersadar, sesaat setelah mengirim pesan. Tapi tak diralatnya pesan tentang bukit rindu tadi.

Dan perempuan itu setengah merajuk berkata:
di mana-mana itu bukit lebih rendah daripada gunung. jadi rinduku padamu jauh lebih tinggi ketimbang rindumu padaku. atau begini, setiap harinya rinduku padamu bergerak menurut deret ukur, sedangkan rindumu padaku berjalan seperti deret hitung. Oh …

Lelaki yang sabar juga tampan itu ganti berkata:
jangan berpikir begitu. bukit itu bukan berarti lebih rendah dari gunung. bukit barisan itu coba. terbentang luas.

Dan keduanya tertawa.

Perempuan berkata pada lelaki yang dikasihinya; aku rindu. Lelaki balas berkata; aku juga.

Kali ini rindu saja tanpa satuan. Hanya rindu. Lagipula adakah satuan yang tepat untuk dapat menggambarkan perasaan? untuk mendeskripsikan rindu, untuk menjabarkan luasnya kasih, untuk menerangkan suka cita yang berkumpul di hati saat menghabiskan menit-menit bersama yang terkasih?

Dan perempuan itu tak lagi merajuk (ah, ia sebenarnya memang tak berniat merajuk, ia hanya senang membahas hal-hal tak penting bersama lelaki itu. buatnya ini menyenangkan :))