Terpeleset dan Jatuh

Sejatinya percakapan antara dua sahabat lama diwarnai dengan rangkulan hangat lalu dilanjutkan dengan mengenang kejayaan masa lalu sambil tak henti-hentinya tergelak.

Tapi sudah saya singkirkan bayangan tentang percakapan penuh gelak itu ketika akhir pekan lalu saya menekan namanya dari daftar kontak di dalam ponsel. Saya menunggu …

Di seberang sana suaranya terdengar menyapa.

Halo, ujarnya lirih.

Setelah itu ganti suara tangis yang pelan, tapi terdengar jelas. Saya sapa ia. Tangisnya masih tak berkesudahan. Setelah beberapa saat, ia mulai bisa berkata-kata. Pendek saja. Saya tak memburunya dengan pertanyaan. Dari percakapan sore itu saya tahu di mana ia berada, bersama siapa, dan berjanji akan menemuinya secepatnya. Secepat yang saya bisa.

Selepas maghrib saya langsung bergegas.

Saat kami bersua, ia pegang tangan saya sebentar. Sahabat saya itu. Anak baik dengan segudang cerita humor yang membuat saya betah berlama-lama dengannya.

Matanya sembab. Tapi ia sudah jauh lebih tenang.

Saya tak langsung bertanya perihal masalah yang menimpanya. Ia membuka percakapan dengan menanyakan hal-hal ringan. Kami bertukar kabar tentang teman lama, tentang aktivitas terakhir, tentang beragam hal. Saya tahu ia berusaha membuat suasana secair mungkin.

Ia sudah bisa tersenyum. Tertawa sedikit. Meski sesekali pikirannya terlihat menerawang.

I did a stupid thing,” ujarnya, tiba-tiba, di tengah obrolan kami.

Dan hening.

Saya kebingungan memilih kata. Membiarkannya melanjutkan kalimatnya.

“Orang-orang di sel sebelahku tampangnya serem-serem gitu. Ada yang penuh tato dan bisa ada di situ gara-gara nusuk orang”

Deg.
Sampai juga kami ke pembicaraan itu.

“mereka enggak macem-macem sama kamu kan?”
enggak. baik-baik kok.
“polisinya gimana?”
sama. baik-baik juga.
“di sel kamu ada orang lain lagi?”
ia mengangguk. iya, ada tiga orang lagi
“semalam bisa tidur?”
bisa
“di lantai, pakai alas tak?”
iya di lantai. dikasih koran buat alasnya
“sahur juga tadi malam?”
ada yang kasih roti sama air

Sampai bagian ini saya masih bisa menahan air mata saya untuk tidak tumpah. Nelangsa rasanya mendengar apa yang ia alami. Sesuatu yang selama ini hanya saya konsumsi dari media, kini terjadi pada orang yang saya kenal dekat.

Saya peluk ia. Memberinya usapan di punggung.

Maafin ya, ujarnya, aku ngecewain semua. Aku … ia tergugu.

Dan pertahanan saya runtuh.

“Tolong, jangan anggap ini akhir. Kamu harus bisa. Bukan buat saya. Bukan untuk keluarga. Bukan untuk teman-teman yang lain. Ada banyak mimpi yang masih menunggu untuk diwujudkan. Ini cuma bagian kecil dari hidup. Jangan lemah. Saya mohon, kali ini, jadilah kuat. Bukan untuk siapa-siapa, tapi untuk kamu,” saya tak mampu lagi menahannya. Perasaan haru yang sedari tadi saya rasakan. Dan mulai terisak.

Ia mempererat pelukannya dan ganti memberi usapan pada punggung saya.

“Dalam hidup orang bisa terpeleset. Sebagian mencari pegangan, menemukannya, dan tidak terjatuh. Sebagian lagi tak sempat berpegangan, kehilangan kendali, dan terjatuh. Yang terpenting buat kamu sekarang adalah bagaimana menata langkah kembali setelah jatuh, aku tahu kamu pasti bisa, yakinlah kamu enggak sendiri,” tutur saya pelan.

Teman saya, ah, sampai sekarang saya tak tahu apa yang ada di pikirannya saat ia melakukan tindakan yang membuatnya berurusan dengan aparat kepolisian. Ia juga harus kehilangan pekerjaan. Konsekuensi dari perbuatan yang ia lakukan. Saya tahu ini pukulan berat baginya.

Peristiwa ini pasti punya pesan, kata seorang teman yang lain saat kami membicarakan masalah ini, buat semua; supaya kita menjaga laku, lebih berhati-hati jalani hidup, ini juga teguran, supaya kita meluangkan waktu untuk teman dan sahabat, mengingatkan kita kembali untuk saling memperhatikan dan menguatkan satu dengan yang lainnya.

Ramadan kali ini benar-benar memberi satu perenungan.

26 thoughts on “Terpeleset dan Jatuh

  1. kalo lo pernah kursus jurnalistik sama parakitri, postingan ini bakal dia kritik karena ga ada 5W 1H, ga menyampaikan informasi sejelasnya. hihi, bercanda tta :)

    big hug buat temenlo ya… Tuhan kan pemaaf, Tuhan kan baik, buktinya Tuhan ngasih temenlo itu sahabat yg baik. Ya, siapa lagi kalo bukan neng atta.

    cheers…

  2. seandainya saya yang mengalaminya entah saya tahan atau tidak, saya sendiri takkan berani menyuruhnya bersabar karena bicara Masya Allah lebih mudah ketimbang melakukan…semoga terpeleset ini membawa angin segar untuknya, meski pahit terasa….
    salam

  3. I believe there was one post before this one that are gone now ??

    Anyway, hope your friend’s okay and strong enough to bear the pain ..
    Life is indeed hard from time to time. Just a little more strength is needed from a normal dose to be able to cope and alive.

    Be strong !

  4. jadi mengingatkan (alm) sepupu syl yang juga pernah terpeleset dan jatuh – menghuni sel selama 1 minggu. tapi berhasil bangkit, bangun sukses dalam karir.

    sampai satu hari akhirnya tidak dapat bangun kembali untuk selamanya, karena pesawat yang dikemudikannya terjatuh di hutan papua.
    pernah berada di rantau bersama alm untuk sekolah, ….. oh i miss him so much, by now…..

  5. atta.. terharu. been there done that.. *jangan tanya ada di posisi mana*. for sure.. semua ada akhirnya.. dan ada masa buat bangkit. salam buat sahabat mu.. he/she needs you.. buat bangkit. :)

  6. ^wahyu…ah jangan menyerah yu…dan jangan menyalahkan hidup atas kegagalanmu

    good girl atta. i believe one of the greatest virtue is the patience to sit and listen to people during the worst periods in their life. halah apaan sih :D

  7. memang sih, siapa menabur angin akan menuai badai…resiko idup, dan selama masih di kasih nafas, masih dikasih kesempatan untuk memperbaiki, dan melewati ujian dari Yang Maha Kuasa….tobat, sabar ama tawakal dah…hasil akhir pasti manis

  8. tta, ngalamin hal yang sama juga beberapa waktu lalu. sayang sih… tapi itulah hidup, seseorang bisa saja lengah dan terlupa. semoga temennya kuat.

    selamat lebaran, tta! maaf lahir batin yaaaa :-) *peluk*

  9. Teman…
    Sering-Sering Kumpul…
    Makan Nasi Kucing, Minum Jahe Anget yang Mengepul…
    Bicara Ngalor Ngidul…
    Hingga Hangat Kasih Terpantul…

    Teman…
    Ibu Kota Memang Jahat…
    Teman…
    Suatu Saat, Mungkin Aku yang Terperangkap…
    Teman…
    Jadilah Kuat, Agar Aku Tetap Ingat…
    Teman…

    buat teman: “sabar, dan tabah, serta ikhlas”
    :) :)

    Met Idul Fitri 1427 H, Mohon Maaf Lahir Bathin,,,

  10. Bukankah di dunia ini selalu ada hal-hal yang bisa membuat kita merasa sedemikian patut bersyukur … hanya saja kadang-kadang kita lupa saking sibuknya mengasihani diri sendiri. Ting! Saya seperti bercermin. Atta dan pengunjung negeri senja, minal aidin wal faidzin, ya :)

  11. Senangnya punya teman sepertimu mbaak
    pengen,… yaa
    “Dalam hidup orang bisa terpeleset. Sebagian mencari pegangan, menemukannya, dan tidak terjatuh. Sebagian lagi tak sempat berpegangan, kehilangan kendali, dan terjatuh. Yang terpenting buat kamu sekarang adalah bagaimana menata langkah kembali setelah jatuh,

    Benar sekali, saya mengalaminya,.. meski bukan kasus yang serupa..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *