Halo Pak

Halo Pak
Apa kabar di sana? Bapak pasti baik-baik.
Sebelumnya perkenalkan dulu. Saya atta Pak.

Saya hendak memberi kabar Pak. Ya, kabar dari saya. Aduh, saya harap Bapak tidak terkejut mendengarnya. Saya …

Saya jatuh hati pada putra Bapak.

Saya bukan penganut paham jatuhhatipadapandanganpertamanisme. Jadi, saat pertama kali melihatnya, anak kedua Bapak itu tidak langsung membuat saya jatuh hati.

Perjumpaan-perjumpaan yang kami, saya dan putra Bapak buat, menuai satu hal; saya mulai menyukai hal-hal kecil yang ada di diri putra Bapak. Saya suka senyumnya. Cara ia menyipitkan mata setiap kali cahaya datang dari depan dan menyorot wajahnya. Gelaknya. Kebiasaannya membetulkan letak kaca mata atau menggosok-gosokkan jari ke hidung. Gayanya menekan tombol shutter kamera. Anggukan kepalanya ketika ia mulai mengikuti ritme musik di sepanjang ritual putar-putar kota jelang tengah malam yang biasa kami lakukan. Saya terpesona pada tulisan-tulisannya. Saya suka harum hutan yang menyeruap setiap kali saya berdekatan dengannya.

Hanya itu?

Masih banyak lagi Pak.

Dan anehnya, saya kok ya bisa menerima sisi-sisi lain dari dirinya. Bersabar ketika ia datang terlambat di satu, dua janji temu, pada kebiasaannya tidak fokus setiap kali saya bercerita (iya Pak, ih putra Bapak itu sering sekali mengeluarkan celetukan yang jelas-jelas tak nyambung dengan apa yang tengah saya bicarakan. “Didengerin kok didengerin, aku kan multitasking,”ujarnya).

Saya juga tak terlampau ribut lagi dan menerima kecintaannya pada hal-hal yang praktis (katanya, kebiasaan tak mau ribet alias praktis itu diturunkan dari Bapak ;))

Saya menerimanya seperti ia menerima saya. Putra Bapak itu tak pernah protes meski saya menggeser waktu temu karena tak bisa meninggalkan kantor pada sore hari. Putra Bapak juga tak pernah pundung dan bersedia mengatur jadwalnya mengikuti jadwal tenggat pekerjaan saya guna mencari hari dan jam yang pas untuk bertemu.

Ia tempat saya berbagi tentang beragam mimpi. (“kelak saya akan melanjutkan pendidikan saya, menulis buku, mengambil les gitar, terus bepergian dan melihat tempat-tempat baru. saya juga terus berusaha menjadi orang yang lebih baik setiap harinya,” ini sebagian mimpi yang pernah saya tuturkan padanya Pak)

Kesabaran putra Bapak juga luas. Ia bisa dengan tenang menghadapi saya yang kadang-kadang (kadang-kadang atau sering ya?) manyun dan diam seribu bahasa saat suasana hati sedang tak cerah.

Putra Bapak memberi saya rasa nyaman. Genggaman tangannya menguatkan. Buat saya ia teman berbagi tutur dan pikir yang menyenangkan. Ia … jalan pulang menuju tenang.

Dan saya tahu, kepadanyalah saya tambatkan hati saya, kepadanyalah segala rindu tertuju, kepadanyalah saya curahkan segenap kasih.

Saya jatuh hati pada putra Bapak.

Sayang, kita tidak sempat bertemu ya Pak. Jadi saya tak bisa mengutarakan ini secara langsung. Saya sempat membayangkan, kita, saya dan Bapak, duduk di kursi kayu, di dekat pohon melon yang merambat di serambi rumah Bapak (putra Bapak bilang, buah melon itu tak pernah lama di tangkainya, selalu saja hilang, entah siapa yang mengambilnya). Sebuah perjumpaan pertama, saya dan Bapak bercakap-cakap tentang hal-hal ringan. Dan saya kebingungan harus menyapa Bapak dengan sapaan Pak atau Om :)

Tapi saya tahu ada banyak cara untuk mengungkapkan apa yang sekarang saya rasakan, meski bapak tak lagi di sini. Saya memilih membuat tulisan ini untuk mengatakan isi hati saya. Juga untuk mengungkapkan rasa terima kasih saya yang dalam.

Terima kasih telah membesarkan putra Bapak, mengantarkannya hingga ia menyelesaikan pendidikan; memberinya bekal agama yang cukup; membesarkannya dengan rasa kasih yang dalam, sangat dalam (dari cerita-cerita putra Bapak saya tahu ia hidup di lingkungan keluarga yang sangatsangat hangat). Terima kasih atas segala yang Bapak lakukan untuknya.

Setelah ini, kami, saya dan putra Bapak, akan saling menjaga satu sama lain. Menyelaraskan langkah tanpa harus memangkas ruang gerak masing-masing. Mudah-mudahan, kami akan baik-baik saja, besok, esok, dan keesokan harinya lagi.

Rasanya sudah terlalu banyak yang saya tulis. Saya sudahi dulu di sini saja Pak. Teriring doa untuk Bapak. Baik-baik di sana ya Pak, di tempat yang kekal; di mana sungai-sungai mengalir di dalamnya :)

Salam hangat
atta

56 thoughts on “Halo Pak

  1. halow juga nak?
    bapak baik2 saja….
    Bapak juga mau minta maaf karna tidak bisa bertemu dengan kamu secara langung..

    melalui tulisanmu, Bapak tau k’lo putra-ku yang ke dua ini tidak salah telah menjadikan kamu sebagai tambatan hatinya juga..

    beberapa kali dia pernah bercerita tentang kamu anakku (ach pusing juga saya menentukan panggilan buat kamu neng or nak )
    tapi sering kali dia tidak terlalu fokus cerita tentang kamu.. dikarenakan kami, saya dan anakku yang kedua, bercerita di sela2 pertandingan sepak bola (ach.. ternyta penyakit tidak fokus itu di karenakan faktor gen kami berdua… semoga semakin berkurang pada cucu-ku nanti.. yach cucuku yang kuharapkan juga menjadi anak dari kamu…… :) )

    haeuheauehauheauhaeuhaeuhaeuhae……..3x
    slamadddd…..4x,

  2. atta….. senang sekali baca tulisannya.
    ‘love is in the air’ nya terasa sekali.
    wish we could continue our conversation over gasoline hunting from kuta – jimbaran – uluwatu – kuta again. once again, i am so happy to read your post. salam kenal mbak syl untuk si empunya harum hutan.

    ssst… it was nice meeting you in bali, something in which coincident and unplanned is sweet and wonderful, isn’t it ?

  3. Mbakyuuu….kau sekarang dimana?
    pasti sedang berenang di lautan cinta.
    atau melayang di antara awan asmara.
    atau di gubuk rindu, sedang mengayam sendu.
    atau di dunia maya, sedang merangkai kata.
    atau dalam dekapan “dirinya”, menggapai angan.

    Ah,, mbakyuuu…… jadi iri aku…. : D *big smiley*

  4. Ah so sweet…

    Btw, mbak ini syairnya dikau bukan:

    Ketika kau tak ada, masih tajam seru jam dinding itu. Jendela masih serupa matamu … dst. (lanjutannya nggak aku tulis ya).

    Soalnya aku nemu syair itu dan suka banget. Aku lupa pernah baca itu dimana. Mungkinkah punyamu?

  5. “duh, manisnya pacar anakku”, kata bapak si harum hutan sambil tersenyum dari langit…

    tta, inget, kirim undangan ar!san ke temen2 sebelom lebaran, sebelom THR mereka abis! *reminder supernorak lewat tempat yg ga semestinya, biar lo sebel, hahaha*

    love u sis! salam buat orangutan ya!

  6. Nak Atta, saya juga pernah muda. Pernah kasmaran. Pernah berbunga-bunga. Pernah bingungan. Pernah gumunan. Pernah GR — bahkan sering.

    Nikmatilah masa mudamu, Nak. Petiklah cinta, piaralah dalam hatimu dengan sebaik-baiknya perawatan.

    Milikilah dia dengan sepenuh pemahaman, tanpa niat menguasainya. (Hayahhh!)

  7. atta.. atta.. gak berani ngomong langsung?! jangan chicken dong ah… *ngomporin* huehehe.

    selamat berpuasa ta. jangan lupa, kalau lewat surabaya lagi, kita harus ketemu. janji.

  8. Very well said Ta’… always amazed with the way you compose the words… flowy and brings out the emotion…

    Apart from that… speak the love!!! :) Oooohhhh yeeeaaahhhhhhh!

  9. Assalamualaikum Mbak Atta..
    Kalimatmu sangat menggugah dan memberi inspirasi pada si pembaca..
    aku yakin si “ayah” akan selalu tersenyum jika ia bisa membaca tulisanmu.
    ajari aku menulis mbak…
    terima kasih atas inspirasimu untuk terus menulis..dengan indah..
    Aku doakan Tuhan terus memperkokoh simpul-simpul putih yang mengikat Mbak Atta dan si “Lelaki dengan wangi hutan” nya..
    Wassalamualaikum..

  10. ta..
    gw tanya ke fotografer yg lagi duduk disebelah:

    gw: “lo lagi kasmaran brur?”
    die: “kok abang tau?”
    gw: “tinggiin badan lo dulu sonoh!”
    die: “???”

    hehehe..
    aciiyeeeegh.. :D

  11. atta,……

    sumpaH krenz abizzz………..(pasti ayahnya lelaki harum hutan senang skalee membacana…^_^)

    ta,..

    meski ne pertama kalee gw ikutan posting coz i,m newbi but i luv u much..
    tulisan loe taa….wuiiich bikin mrinding….(two tumb wat atta)

    atta mang jago dach ngolah kata…..^_^

    Rest in peace yaKh pak..( i’m sorry to hear that..:( )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *