Perjalanan

Waktu pertama kali saya menulis di blog, tak pernah terpikirkan bahwa saya akan berada di satu titik, menengok ke belakang, dan melihat sebuah perjalanan.

Seperti yang sekarang saya lakukan.

Perjalanan itu berawal dari sebuah tulisan yang saya pampang di sini pada Oktober dua tahun lalu. Tulisan yang bersumber dari sebuah rahasia yang saya simpan rapi-rapi. Paragraf singkat yang mewakili perasaan yang berdiam di hati saya bertahun-tahun sebelum saya membuat tulisan itu.

Dan tahun sesudahnya, perjalanan kembali membuahkan satu tulisan lagi. Saya menuliskannya pada November tahun lalu.

Tahun lalu? Betapa waktu terasa cepat sekali bergulir ya. Peristiwa itu masih lekat dalam pikiran. Saat saya mengunjungi teman yang kehilangan ibunda tercintanya pada hari raya idulfitri. Membaca tulisan itu mengantarkan saya pada fragmen lebaran satu tahun lalu. Sebuah pembelajaran yang sangat berarti untuk saya.

Tulisan-tulisan itu ibarat sebuah cermin besar. Ada saya di situ. Tulisan-tulisan itu menggambarkan sebuah perjalanan. Sebuah proses yang berujung pada sebuah pemahaman baru. Dan saya sampai ke titik yang sekarang.

Hasilnya …

Sebuah keteduhan berdiam di hati. Meski tak ada yang berubah pada lebaran kali ini, -ya, kami tetap merayakannya bertiga saja; saya, Ma’e, dan kakak laki-laki-, saya tak lagi merasa bahwa lebaran menyudutkan saya.

Idulfitri kali ini mengantarkan saya pada rasa syukur yang sangat, tak terhingga. Tuhan memberikan saya banyak, teramat banyak. Anggota keluarga yang berkumpul di satu tempat tanpa kurang satu apa, teman-teman yang mengucapkan salam melalui beragam media, mitra strategis yang baik hati. Berkah dari Allah tak henti-hentinya tercurah.

Saya bahagia. Sangat.

Saya tahu, perjalanan belum berhenti. Kelak, saya akan kembali menengok ke belakang, dan melihat sebuah cermin besar di mana ada saya di situ. Saat waktu itu tiba, semoga saya bisa melakoni perjalanan dengan menjadi pribadi yang tak henti mengambil hikmah dari kehidupan dan terus bersyukur atas beragam karunia. Semoga …

Selamat Idulfitri, semoga teduhnya Ramadan tetap beserta kita, semoga ke depannya lebih baik, untuk semua

Terpeleset dan Jatuh

Sejatinya percakapan antara dua sahabat lama diwarnai dengan rangkulan hangat lalu dilanjutkan dengan mengenang kejayaan masa lalu sambil tak henti-hentinya tergelak.

Tapi sudah saya singkirkan bayangan tentang percakapan penuh gelak itu ketika akhir pekan lalu saya menekan namanya dari daftar kontak di dalam ponsel. Saya menunggu …

Di seberang sana suaranya terdengar menyapa.

Halo, ujarnya lirih.

Setelah itu ganti suara tangis yang pelan, tapi terdengar jelas. Saya sapa ia. Tangisnya masih tak berkesudahan. Setelah beberapa saat, ia mulai bisa berkata-kata. Pendek saja. Saya tak memburunya dengan pertanyaan. Dari percakapan sore itu saya tahu di mana ia berada, bersama siapa, dan berjanji akan menemuinya secepatnya. Secepat yang saya bisa.

Selepas maghrib saya langsung bergegas.

Saat kami bersua, ia pegang tangan saya sebentar. Sahabat saya itu. Anak baik dengan segudang cerita humor yang membuat saya betah berlama-lama dengannya.

Matanya sembab. Tapi ia sudah jauh lebih tenang.

Saya tak langsung bertanya perihal masalah yang menimpanya. Ia membuka percakapan dengan menanyakan hal-hal ringan. Kami bertukar kabar tentang teman lama, tentang aktivitas terakhir, tentang beragam hal. Saya tahu ia berusaha membuat suasana secair mungkin.

Ia sudah bisa tersenyum. Tertawa sedikit. Meski sesekali pikirannya terlihat menerawang.

I did a stupid thing,” ujarnya, tiba-tiba, di tengah obrolan kami.

Dan hening.

Saya kebingungan memilih kata. Membiarkannya melanjutkan kalimatnya.

“Orang-orang di sel sebelahku tampangnya serem-serem gitu. Ada yang penuh tato dan bisa ada di situ gara-gara nusuk orang”

Deg.
Sampai juga kami ke pembicaraan itu.

“mereka enggak macem-macem sama kamu kan?”
enggak. baik-baik kok.
“polisinya gimana?”
sama. baik-baik juga.
“di sel kamu ada orang lain lagi?”
ia mengangguk. iya, ada tiga orang lagi
“semalam bisa tidur?”
bisa
“di lantai, pakai alas tak?”
iya di lantai. dikasih koran buat alasnya
“sahur juga tadi malam?”
ada yang kasih roti sama air

Sampai bagian ini saya masih bisa menahan air mata saya untuk tidak tumpah. Nelangsa rasanya mendengar apa yang ia alami. Sesuatu yang selama ini hanya saya konsumsi dari media, kini terjadi pada orang yang saya kenal dekat.

Saya peluk ia. Memberinya usapan di punggung.

Maafin ya, ujarnya, aku ngecewain semua. Aku … ia tergugu.

Dan pertahanan saya runtuh.

“Tolong, jangan anggap ini akhir. Kamu harus bisa. Bukan buat saya. Bukan untuk keluarga. Bukan untuk teman-teman yang lain. Ada banyak mimpi yang masih menunggu untuk diwujudkan. Ini cuma bagian kecil dari hidup. Jangan lemah. Saya mohon, kali ini, jadilah kuat. Bukan untuk siapa-siapa, tapi untuk kamu,” saya tak mampu lagi menahannya. Perasaan haru yang sedari tadi saya rasakan. Dan mulai terisak.

Ia mempererat pelukannya dan ganti memberi usapan pada punggung saya.

“Dalam hidup orang bisa terpeleset. Sebagian mencari pegangan, menemukannya, dan tidak terjatuh. Sebagian lagi tak sempat berpegangan, kehilangan kendali, dan terjatuh. Yang terpenting buat kamu sekarang adalah bagaimana menata langkah kembali setelah jatuh, aku tahu kamu pasti bisa, yakinlah kamu enggak sendiri,” tutur saya pelan.

Teman saya, ah, sampai sekarang saya tak tahu apa yang ada di pikirannya saat ia melakukan tindakan yang membuatnya berurusan dengan aparat kepolisian. Ia juga harus kehilangan pekerjaan. Konsekuensi dari perbuatan yang ia lakukan. Saya tahu ini pukulan berat baginya.

Peristiwa ini pasti punya pesan, kata seorang teman yang lain saat kami membicarakan masalah ini, buat semua; supaya kita menjaga laku, lebih berhati-hati jalani hidup, ini juga teguran, supaya kita meluangkan waktu untuk teman dan sahabat, mengingatkan kita kembali untuk saling memperhatikan dan menguatkan satu dengan yang lainnya.

Ramadan kali ini benar-benar memberi satu perenungan.

Halo Pak

Halo Pak
Apa kabar di sana? Bapak pasti baik-baik.
Sebelumnya perkenalkan dulu. Saya atta Pak.

Saya hendak memberi kabar Pak. Ya, kabar dari saya. Aduh, saya harap Bapak tidak terkejut mendengarnya. Saya …

Saya jatuh hati pada putra Bapak.

Saya bukan penganut paham jatuhhatipadapandanganpertamanisme. Jadi, saat pertama kali melihatnya, anak kedua Bapak itu tidak langsung membuat saya jatuh hati.

Perjumpaan-perjumpaan yang kami, saya dan putra Bapak buat, menuai satu hal; saya mulai menyukai hal-hal kecil yang ada di diri putra Bapak. Saya suka senyumnya. Cara ia menyipitkan mata setiap kali cahaya datang dari depan dan menyorot wajahnya. Gelaknya. Kebiasaannya membetulkan letak kaca mata atau menggosok-gosokkan jari ke hidung. Gayanya menekan tombol shutter kamera. Anggukan kepalanya ketika ia mulai mengikuti ritme musik di sepanjang ritual putar-putar kota jelang tengah malam yang biasa kami lakukan. Saya terpesona pada tulisan-tulisannya. Saya suka harum hutan yang menyeruap setiap kali saya berdekatan dengannya.

Hanya itu?

Masih banyak lagi Pak.

Dan anehnya, saya kok ya bisa menerima sisi-sisi lain dari dirinya. Bersabar ketika ia datang terlambat di satu, dua janji temu, pada kebiasaannya tidak fokus setiap kali saya bercerita (iya Pak, ih putra Bapak itu sering sekali mengeluarkan celetukan yang jelas-jelas tak nyambung dengan apa yang tengah saya bicarakan. “Didengerin kok didengerin, aku kan multitasking,”ujarnya).

Saya juga tak terlampau ribut lagi dan menerima kecintaannya pada hal-hal yang praktis (katanya, kebiasaan tak mau ribet alias praktis itu diturunkan dari Bapak ;))

Saya menerimanya seperti ia menerima saya. Putra Bapak itu tak pernah protes meski saya menggeser waktu temu karena tak bisa meninggalkan kantor pada sore hari. Putra Bapak juga tak pernah pundung dan bersedia mengatur jadwalnya mengikuti jadwal tenggat pekerjaan saya guna mencari hari dan jam yang pas untuk bertemu.

Ia tempat saya berbagi tentang beragam mimpi. (“kelak saya akan melanjutkan pendidikan saya, menulis buku, mengambil les gitar, terus bepergian dan melihat tempat-tempat baru. saya juga terus berusaha menjadi orang yang lebih baik setiap harinya,” ini sebagian mimpi yang pernah saya tuturkan padanya Pak)

Kesabaran putra Bapak juga luas. Ia bisa dengan tenang menghadapi saya yang kadang-kadang (kadang-kadang atau sering ya?) manyun dan diam seribu bahasa saat suasana hati sedang tak cerah.

Putra Bapak memberi saya rasa nyaman. Genggaman tangannya menguatkan. Buat saya ia teman berbagi tutur dan pikir yang menyenangkan. Ia … jalan pulang menuju tenang.

Dan saya tahu, kepadanyalah saya tambatkan hati saya, kepadanyalah segala rindu tertuju, kepadanyalah saya curahkan segenap kasih.

Saya jatuh hati pada putra Bapak.

Sayang, kita tidak sempat bertemu ya Pak. Jadi saya tak bisa mengutarakan ini secara langsung. Saya sempat membayangkan, kita, saya dan Bapak, duduk di kursi kayu, di dekat pohon melon yang merambat di serambi rumah Bapak (putra Bapak bilang, buah melon itu tak pernah lama di tangkainya, selalu saja hilang, entah siapa yang mengambilnya). Sebuah perjumpaan pertama, saya dan Bapak bercakap-cakap tentang hal-hal ringan. Dan saya kebingungan harus menyapa Bapak dengan sapaan Pak atau Om :)

Tapi saya tahu ada banyak cara untuk mengungkapkan apa yang sekarang saya rasakan, meski bapak tak lagi di sini. Saya memilih membuat tulisan ini untuk mengatakan isi hati saya. Juga untuk mengungkapkan rasa terima kasih saya yang dalam.

Terima kasih telah membesarkan putra Bapak, mengantarkannya hingga ia menyelesaikan pendidikan; memberinya bekal agama yang cukup; membesarkannya dengan rasa kasih yang dalam, sangat dalam (dari cerita-cerita putra Bapak saya tahu ia hidup di lingkungan keluarga yang sangatsangat hangat). Terima kasih atas segala yang Bapak lakukan untuknya.

Setelah ini, kami, saya dan putra Bapak, akan saling menjaga satu sama lain. Menyelaraskan langkah tanpa harus memangkas ruang gerak masing-masing. Mudah-mudahan, kami akan baik-baik saja, besok, esok, dan keesokan harinya lagi.

Rasanya sudah terlalu banyak yang saya tulis. Saya sudahi dulu di sini saja Pak. Teriring doa untuk Bapak. Baik-baik di sana ya Pak, di tempat yang kekal; di mana sungai-sungai mengalir di dalamnya :)

Salam hangat
atta