Langit Merah Jambu

Saya suka melihat langit. Luas. Biru. Tak terbatas. Langit bisa menyerap sedih. Langit seperti kawan. Langit biru bersih di pagi dalam guyuran cahaya matahari yang hangat adalah kesukaan saya. Jenis langit lain yang saya senangi adalah langit sore dengan semburat srengenge dan jingga di mana-mana. Senja bisa menarik saya sejenak dari aktivitas yang tengah saya lakoni. Menyenangkan. Langit malam hari dengan bintang kecilkecil -yang jarang saya temukan di Jakarta- juga bisa mendatangkan perasaan senang. Saat melakukan perjalanan ke timur Pulau Jawa beberapa bulan lalu, saya melihat langit malam hari yang sangatsangat cantik di pinggir Pantai Triangulasi.

Saya suka langit. Sejak dulu. Langit pagi hari, langit biru bersih, langit penuh bintang. Dan ah ya, satu lagi, langit merah jambu.

Saya tak pernah melihatnya sebelumnya. Ya, langit merah jambu itu. Hingga di satu malam, saat saya dan laki-laki harum hutan duduk di bangku kayu, di depan sebuah warung kecil yang diterangi neon, langit di atas kepala kami tiba-tiba penuh pulasan warna merah jambu.

Saya melihatnya, ya, langit seperti kanvas saat kuas warna merah bercampur dengan warna putih digoreskan di atasnya. Ada satu dua bintang di sana.

Warung kecil, segelas ovaltine panas, segelas es teh manis, deru mesin giling tepat di jalan utama tak jauh dari warung, pengamen dengan gitar, pekerja yang mempercantik jalan, pengemudi yang harus memutar karena pintu keluar tak bisa digunakan, jalan yang dipangkas menjadi satu jalur saja, gelak tawa kumpulan anak muda di bawah spanduk, dan langit merah jambu.

Langit makin memerahjambu ketika laki-laki harum hutan itu berusaha menyusun kata. Saya mendengarkannya. Sebuah pernyataan sederhana. Datang dari hati. Dan pulasan merah jambu di langit itu semakin meluas. Dan dada saya sesak dipenuhi rasa bahagia yang sangat.

Saya tersenyum. Melihat langit merah jambu. Menatap wajah laki-laki terkasih. Mengingat sebuah kalimat yang pernah diucapkan sahabat dekat … sesuatu yang tertunda itu bukan berarti tak mungkin.

Sepanjang malam itu langit tetap merah jambu dengan satu dua bintang.

Dan kalian tahu, bintangbintang dari malam merah jambu itu ternyata tertinggal di sini, di mata saya. Seorang teman, sore tadi, berkata, hai, mengapa langkahmu terlihat lebih ringan, dan apa itu? aha, ada bintang di matamu.

Ya, saya bahkan tak bisa menyembunyikan pijarnya. Pijar bintang dari langit merah jambu kala itu.

36 thoughts on “Langit Merah Jambu

  1. langit merah jambu mengingatkan pada Bona, gajah kecil berbelalai panjang :p

    selamat puasa ya Atta, mohon dimaafkan untuk segala kekhilafan
    semoga langitnya Atta selalu merah jambu

  2. Aaarrghhh, at-taaa … semoga suatu hari nanti saya juga bisa menyaksikan langit merah jambu, dan tak sempat mengabadikannya dengan kamera ponsel saya–karena ada hal-hal yang lebih baik dibiarkan terkenang cuma dalam ingatan yang samar-samar. Supaya kita bisa mengingatnya sebagaimana kita ingin mengingatnya … oh at-taaa you remind me so much of myself :)

  3. pijaran bintang merah jambu itu gak perlu di sembunyikan… cocok kok ta ama mata kamu yang **** heauaehaeuhaeuhaeuhaeuae…..

    slamet puasa yach bu’e moohon maaf juge klo aye ade salah2 tulis.. salah2 omong.. and salah2 “kelakuan” haeuaeue

  4. merah jambu langit sama dengan merah jambu pipimu saat bercerita tentang dia… *sampe mau diulang berapa kali ya ceritanya.. seakan tak cukup satu kali menyebut namanya* :)

    besok sabtu dibawa dong tta :)

  5. langit semburat jingga kala pagi dan senja
    itu favorit saya, selain langit biru dengan awan berarak

    makanya, saya gak mau nyari kerja di jakarta, karena konon, langit jakarta tak lagi biru, karena polusi membuat langit berwarna kelabu

    weleh, bar ditembak to ‘ta, critane? yak, selamat !!!!

  6. huaaaaa atta jatuh cinta lagi ^o^
    seperti akyu huehehehehe
    yayaya bintang malam sebelumnya memang akan tinggal di mata kita & terus memancarkan sinar selama kita bahagia atas nama cinta..
    halah ahahahaha
    & langit merah jambu itu… memang indah ya ta…

    saya lihat langit merah jambu satu sore di atas genteng rumah, tempat favorit saya memandang langit :) waktu itu saya ga rela harus turun dulu buat ngambil camera… takut si pinky menghilang…

    jadilah saya sambil berkaca2 memandangi lukisan ilahi… Subhanallah…
    ternyata Allah baik sekali menciptakan langit dengan warna kesukaan saya ;) huehehehehe

  7. cinta.. memang memberi kita banyak merah jambu… hanya saja… terkadang.. cinta juga membuat kita jadi disapa mendung, hujan badai dan petir… tapi apapun… cinta… akan memdewasakan kita… cinta.. akan membuat kita belajar banyak hal….

    semoga langitmu…. selalu merah jambu…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *