Ramadhan; dan Setelahnya

Saya bukan penikmat pagi. Ya, sejak saya menjalani profesi yang sekarang perlahan-lahan saya tidak lagi berkawan dengan pagi. Kantor saya tidak mengharuskan pegawainya untuk masuk pagi. Jadi, dari rumah biasanya saya langsung datang ke acara yang mesti saya liput. Kalaupun tidak, saya bisa datang ke kantor selepas jam 10 (psstt … kadang-kadang saya juga baru tiba selepas jam 12 :D)

Jadi, bangun pagi, untuk saya, seperti sebuah pekerjaan mahaberat yang sebaiknya dihindari saja.

Kebiasaan susah bangun pagi ini jelas menimbulkan kerepotan tersendiri. Sebab, sesekali ada saja aktivitas yang harus dilakukan di pagi hari. Penerbangan pagi misalnya. Atau liputan pagi. Atau antri di bursa buku murah sejak pagi-pagi (“datang pagi-pagi ya, kalau enggak nanti kamu susah masuk,” begitu kata seorang teman). Atau berburu foto pagi-pagi (aduh, enggak banget deh, hunting foto itu kan mestinya menyenangkan, masa’ jam enam pagi udah mesti nyampe Monas sih?)

Saat liburan pekan lalu, saya melewatkan pemandangan embun di ujung-ujung batang padi di pematang sawah di Ubud sana gara-gara tak bisa bangun bagi. Hiks. -saya sebenarnya sudah bangun, sebentar saja, membuka mata, dan … melanjutkan tidur lagi. Ugh! (ija -sahabat yang menemani perjalanan saya- dengan tak sopannya menunjukkan koleksi foto embun-embunnya)

Untunglah sampai sekarang belum ada kencan pagi (mitra strategis yang saya cintai sepenuh hati, laki-laki dengan harum hutan itu juga bukan manusia pagi. -hai hon, i love you– :D)

Belakangan saya mulai berpikir untuk mengubah kebiasaan ini. Sebagai seorang muslim, saya wajib mendirikan sholat lima waktu.
Nah, karena sulit bangun pagi, saya sering melewatkan subuh. Bagaimana mau subuh kalau saya kerap kali bangun saat matahari mulai tinggi? Duh…

Saya harus mengubahnya.
Kapan?
Sekarang dong.
Saat niat ini datang, Ramadhan kembali menghampiri. Senangnya. Nah, atta, sekarang kau tak punya alasan untuk tidak subuh karena kesiangan. Bukan begitu?

Yayaya. Sudah beberapa hari ini saya berusaha sekuat tenaga menjaga mata saya tetap terjaga. Tidak tidur setelah sahur dan menjalankan dua rakaat subuh.

Saya harap, setelah Ramadhan nanti usai, saya sudah terlatih menjadi manusia pagi kembali. Amin.

Semoga setelah Ramadhan nanti, saya masih dengan riang menyambanginya. Halo subuh, saya datang ;)

Langit Merah Jambu

Saya suka melihat langit. Luas. Biru. Tak terbatas. Langit bisa menyerap sedih. Langit seperti kawan. Langit biru bersih di pagi dalam guyuran cahaya matahari yang hangat adalah kesukaan saya. Jenis langit lain yang saya senangi adalah langit sore dengan semburat srengenge dan jingga di mana-mana. Senja bisa menarik saya sejenak dari aktivitas yang tengah saya lakoni. Menyenangkan. Langit malam hari dengan bintang kecilkecil -yang jarang saya temukan di Jakarta- juga bisa mendatangkan perasaan senang. Saat melakukan perjalanan ke timur Pulau Jawa beberapa bulan lalu, saya melihat langit malam hari yang sangatsangat cantik di pinggir Pantai Triangulasi.

Saya suka langit. Sejak dulu. Langit pagi hari, langit biru bersih, langit penuh bintang. Dan ah ya, satu lagi, langit merah jambu.

Saya tak pernah melihatnya sebelumnya. Ya, langit merah jambu itu. Hingga di satu malam, saat saya dan laki-laki harum hutan duduk di bangku kayu, di depan sebuah warung kecil yang diterangi neon, langit di atas kepala kami tiba-tiba penuh pulasan warna merah jambu.

Saya melihatnya, ya, langit seperti kanvas saat kuas warna merah bercampur dengan warna putih digoreskan di atasnya. Ada satu dua bintang di sana.

Warung kecil, segelas ovaltine panas, segelas es teh manis, deru mesin giling tepat di jalan utama tak jauh dari warung, pengamen dengan gitar, pekerja yang mempercantik jalan, pengemudi yang harus memutar karena pintu keluar tak bisa digunakan, jalan yang dipangkas menjadi satu jalur saja, gelak tawa kumpulan anak muda di bawah spanduk, dan langit merah jambu.

Langit makin memerahjambu ketika laki-laki harum hutan itu berusaha menyusun kata. Saya mendengarkannya. Sebuah pernyataan sederhana. Datang dari hati. Dan pulasan merah jambu di langit itu semakin meluas. Dan dada saya sesak dipenuhi rasa bahagia yang sangat.

Saya tersenyum. Melihat langit merah jambu. Menatap wajah laki-laki terkasih. Mengingat sebuah kalimat yang pernah diucapkan sahabat dekat … sesuatu yang tertunda itu bukan berarti tak mungkin.

Sepanjang malam itu langit tetap merah jambu dengan satu dua bintang.

Dan kalian tahu, bintangbintang dari malam merah jambu itu ternyata tertinggal di sini, di mata saya. Seorang teman, sore tadi, berkata, hai, mengapa langkahmu terlihat lebih ringan, dan apa itu? aha, ada bintang di matamu.

Ya, saya bahkan tak bisa menyembunyikan pijarnya. Pijar bintang dari langit merah jambu kala itu.

Kau

Kau
serupa

harum hutan pinus di pinggir bukit
menyegarkan

gumpalan awan putih di langit
meneduhkan

matahari pagi, bias jingga seperti yang kita lihat di kaki Ciremai, kala itu
menenangkan

lampu-lampu kota jelang tengah malam
rupawan

hangat kecupan sore hari
menumbuhkan nyaman

genggaman jemari selepas Isya
menguatkan

gerombolan bunga flamboyan pinggir jalan
mencerahkan

tembang merdu yang diputar sebelum tidur
menemani

tiramisu di pinggan
lembut

kau seperti
ungu pada susunan warna dalam pelangi
melengkapi

kali ini untuk sebuah rindu