Dahulu, Ini Desaku

Dahulu, tanah ini adalah desaku. Desa Renokenongo namanya. Desa kecilku bagian dari kecamatan Porong. Letaknya sekitar 14 kilo meter dari pusat kota Sidoarjo.

Di sini aku lahir. Di Renokenongo aku tumbuh. Bernafas. Berlari. Bernyanyi. Memeluk ayah. Mengecup senja. Bercengkerama dengan angin. Bercanda dalam rintik. Menguntai tawa dengan teman sepermainan. Mencuri harum masakan bunda. Mandi matahari. Tergelak dalam hujan. Menggapai langit. Bersahabat dengan fajar.

Dahulu, tanah ini adalah desaku. Renokenongo. Hijau sawah di batas desa. Biru langit pukul sepuluh. Lenguh kerbau beriringan pulang jelang sore. Satu, dua bintang selepas maghrib. Gemerisik dahan tebu bergesekan. Nyanyian burung di rembang petang. Kokok ayam pecahkan pagi. Riuh tawa anak-anak di jalan-jalan desa. Roda-roda sepeda yang dikayuh petani-petani bercaping.

Renokenongo, desaku, dahulu, tanah kehidupan

Hingga satu masa, kala bias srengenge di timur belum juga pudar, sesuatu terjadi di sini, di Renokenongo. Sesuatu bergolak nun jauh di sana, di dalam perut bumi, di desaku. Sebuah kekuatan, entah dari mana datangnya, mendorongnya keluar. Menyembur. Sesuatu yang pekat. Seperti tanah di sawah Paklik Subagiono, adik bunda, yang baru saja dibajak. Liat, pekat, hitam. Dan panas

Ya, panas. Aku lihat asap keluar dari sesuatu yang liat, pekat, dan hitam itu. Membumbung tinggi. Mengingatkanku pada dongeng tentang kebiasaan suku Indian berkirim kabar. Kian hari asap kian tinggi. Ke langit. Seperti ingin bergabung dengan awan. Dan sesuatu yang liat, pekat, dan hitam itu terus meluber.

Dahulu, tanah ini adalah desaku.

Aku masih ingat rumah kecil tempat aku, ayah, dan bunda tinggal. Masih jelas juga kebun kecil penuh aneka bunga kesayangan bunda. Toko kelontong, yang juga menjual es krim, milik Pak Tomo berdiri tak jauh dari rumahku. Menara masjid tampak tegak, terlihat jelas dari jendela rumah. Dan oh ya, sekolahku. Bangunan yang menjadi pusat dari hidupku setelah rumah. Dengan tiang bendera di lapangan tempat kami -aku dan kawan-kawan- dalam seragam pramuka berkumpul setiap pekan. Jika kemarau datang lapangan depan sekolah terasa gersang dan berdebu. Rumah Amir, kawan karibku, terletak beberapa meter saja dari bangunan sekolah. Rumah Amir luas. Ada tiga pohon mangga di halaman belakang rumahnya.

Aku masih ingat petak-petak sawah Paklik Subagiono. Berlari di pematang sawah Paklik, sesuatu yang menyenangkan yang kerap kulakukan. Berlari bukan meniti. Awalnya keseimbanganku sering kali tak terjaga. Terpeleset dan jatuh di sawah jadi hal biasa.

Aku masih ingat balai desa. Ingat rumah besar di pinggir jalan desa, tempat seorang bapak berwajah ramah menjalankan usaha penggilingan padi; bunyi mesin selepan yang memisahkan bulir padi dari kulitnya, kerap membuatku berhenti sejenak, mengamati kesibukan para pekerja. Ingat kali kecil dengan pohon talas yang berkelompok di sisi kanan dan kirinya. Dan telaga dengan eceng gondok berbunga ungu.

Aku masih ingat, dahulu, tanah ini adalah desaku. Sampai satu masa, ketika sesuatu yang liat, pekat, dan hitam terus menerus tumpah ke tanah desa. Tak terkendali. Terus menerus meluber. Mengubah desaku menjadi lautan. Menenggelamkan sekolah, toko kelontong Pak Tomo, Rumah Amir, kawan karibku, Masjid, sawah Paklik Subagiono, rumah kecilku, kebun bunga bunda, semua, tak tersisa …

Dan desaku menjadi ramai dibicarakan orang. Legenda desa yang hilang. Angka-angka tersaji. Berapa jumlah penduduk desaku, jumlah penduduk desa tetangga, berapa kerugian yang diderita, potensi rupiah yang urung ditangguk para pengusaha, berapa jumlah rumah yang harus diganti, berapa meter kubik sesuatu yang pekat itu keluar dari dalam perut bumi; angka ini dan angka itu. Buat mereka, kami mungkin tak lebih dari sekedar angka.

Dahulu, tanah ini adalah desaku.

Aku lihat gurat sedih di wajah ayah saat desa kami berubah menjadi lautan hitam. “Aku tak mampu menjaganya, desaku, desamu, desa bundamu, tanah di mana leluhur kita dahulu pernah hidup, rekam jejak setiap peristiwa yang pernah kita toreh, kelahiran, kematian, keriangan, kesedihan, tanah kehidupan, tempat kita menaruh harap, maafkan …,” ucapnya, seraya memelukku erat di balai pengungsian, tempat kami sekeluarga tinggal setelah rumah kami tenggelam.

Aku juga tak mampu menjaganya, ayah, ucapku pelan, membalas pelukan ayah; desaku, desa ayah, desa bunda, tanah kehidupan, tempat kita menaruh harap.

Dan aku tertunduk.

agustus, 2006
untuk tiap-tiap jiwa yang kehilangan tanah tempat segala kenangan dirajut

tulisan ini dibuat setelah melihat lautan lumpur di tol porong-gempol km 37 sampai km 39 dalam perjalanan Surabaya-Jember awal Agustus lalu.

Informasi tentang lumpur panas bisa dilihat di :
Hot Mud Flow in East Java
Wikipedia
Dongeng Geologi

Patah Hati

Patah hati? Sebentar. Saya cari dulu di kamus hidup saya. Wah, ndak nemu tuh. Loh, enggak bohong saya ini. Benar-benar tak ada ternyata istilah yang satu itu.

Cuplikan dialog di atas itu adalah gambaran diri saya saya puluhan tahun yang lalu. Patah hati? Wah, enggak banget deh. Semasa bersekolah dulu, saya pasti tertawa paling kencang ketika melihat adegan-adegan patah hati di film remaja. Kalau saya mendapatinya di cerita pendek majalah remaja yang saya langgani, saya bisa berkata dengan jumawa : patah hati jelas tidak ada dalam kamus hidup saya.

Sombong.

Saat menempuh pendidikan menengah atas, saya sering menjadi saksi, bagaimana teman-teman di sekitar saya menangis sesenggukan karena pujaan hati mereka berulah atau ketika hubungan cinta si teman tadi dengan pasangannya merenggang. Tapi, anehnya ketika akhirnya relasi saya juga tidak berjalan mulus, saya tidak mengalami perasaan sedahsyat mereka.

Saya ingat, di tahun pertama masa seragam abu-abu, saya tengah menjalin kisah dengan kakak kelas. Di tahun kedua, hubungan itu tak bisa lagi dilanjutkan. Sedih? Iya sih, tapi tak sedalam kesedihan ketika teman-teman saya patah hati. Setelah putus dengan kakak kelas yang baik hati itu saya melanjutkan hidup dan kembali merajut kasih dengan …

adik kelas. (Iya adik kelas saya, lucu, manis, tinggi, jago basket, berkulit gelap, tergila-gila pada Juventus, lahir di bulan Oktober -saya lupa tanggalnya-).

Hubungan kedua ini jauh lebih singkat. Dan saya hanya menangis sebentar saja setelah pulang dari sekolah. Setelah itu, saya kembali sehat walafiat, tak kurang suatu apa. Saya lagi-lagi bisa berkata dengan jumawa : patah hati jelas tidak ada dalam kamus hidup saya.

Hohoho, tunggu dulu anak muda. Kesombongan tentu ada batasnya.

Dan benar:

Saya, si atta, yang pernah dengan lantangnya berkata kalau patah hati jelas tidak ada dalam kamus hidupnya, akhirnya harus mengakui kekuatan dan ketangguhan cinta :D

Patah hati itu datang ketika saya mengakhiri hubungan saya dengan Abang, mantan pacar saya semasa kuliah. Waktu itu -di semester-semester terakhir kuliah- saya bisa menangis berhari-hari, kehilangan selera makan, menjadi malas beraktivitas, lesu, lemas, sedih; intinya ya mirip-mirip dengan apa yang sering dipakai para sineas-sineas untuk menggambarkan adegan orang patah hati.

Saya beruntung, dikelilingi orang-orang dengan daya juang yang tinggi. Teman-teman kos saya bergiliran menemani saya. Sahabat-sahabat saya di kampus juga. Teman saya siap dipanggil kapan saja. Jadi kalau kesedihan itu tiba-tiba memuncak dan saya ingin menangis hingga berderai-derai dan berpanjang-panjang, teman saya sigap datang.

Anehnya meski patah hati begitu lara, nelangsa, saya kok ya akhirnya kembali lagi bersamanya. Iya, pacar saya si Abang Jampang itu. Kami mencoba kembali membangun hubungan selepas kuliah. Dan …

Putus lagi

Ha-ha-ha

Patah hati edisi kedua, masih dengan orang yang sama ini, tidak seheboh patah hati edisi pertama. Mungkin karena saya sedang gembira-gembiranya, menikmati perubahan status dari mahasiswa menjadi pekerja dengan beragam hal baru yang saya temui.

Patah hati edisi kedua itu langsung ditutup dengan aktivitas yang menyenangkan; jalan-jalan ke Semarang, Rawa Pening, hingga Yogyakarta. Sebenarnya tidak ada kaitan langsung antara patah hati dengan jalan-jalan, saya sudah merencanakan perjalanan itu bersama beberapa teman dari jauh-jauh hari. Ceritanya ada di sini

Sudah hampir dua tahun lalu, dan sekarang saya kembali patah hati. Mmm… saya malas menceritakan detailnya. (Loh, bukannya baru bercerita Perihal Rasa Itu? Itu stok lama, baru saya rilis ketika saya teringat saya masih memiliki tulisan yang belum dikeluarkan. Hi-hi-hi). Rasa yang menyenangkan itu masih ada, saya tidak terlalu memaksakan diri untuk segera menghapusnya.

Besok saya kembali melakukan perjalanan. Patah hati dan jalan-jalan memang berkawan sejak dahulu kala. Ha-ha-ha. Bukan, bukan, saya bukan berjalan-jalan karena patah hati, rencana esok hari sudah dirancang sejak berbulan-bulan lalu. Besok sore saya sudah ada di Surabaya, menghabiskan satu dua hari di sana, dan melanjutkan perjalanan ke Jember. Ada Jember Fashion Carnaval, perhelatan tahunan yang sudah lama menarik perhatian saya.

Jadi, ya, saya patah hati, ada awan mendung di sini, di hati, tapi hidup itu kawan terlalu indah untuk diratapi. Bukan begitu?. Sebelum ini saya sudah berkata: apapun yang menanti saya di ujung sana, hidup saya akan baik-baik saja. pasti ;)