Minggu Ceria

Bayangkan;
sebuah lapangan besar
cahaya matahari yang terik, tapi tak terik, dan terik lagi, lalu tak terik lagi
hari minggu yang manismanismanis
puluhan atau ratusan anak-anak. atau ribuan?
rupa-rupa permainan; roket angkasa, simulasi gunung berapi, kreasi tanah, sepak bola tiga lawan tiga, pukul bantal, kreasi kapur, lukis wajah, kapal uap, mencangkok tanaman, mencampur warna,
dan ini;
panggung hiburan, dongeng sore hari, badut berkaki panjang sekali, pedagang balon gas warnawarni (kalian merasakannya tak? perasaan yang saya rasakan; gembira setiap kali melihat balon gas warnawarni), penjual layangan, tukang minuman hilir mudik
dan itu
ramai
seru
ceria
manismanismanis

dan lihat
anak-anak berpakaian bersih dengan rambut rapi berjajar di belakang meja berbentuk huruf L, menunggu empat orang dewasa selesai meracik ramuan; cat tembok campur dengan air, masukkan dalam baskom kotak. setelah ramuan selesai, anak-anak ini akan berteriak: “siram, siram, siram”. dan orang dewasa berganti-ganti menyiramkan ramuan itu ke tubuh anak-anak. berganti-ganti. biru. putih. kuning. hitam. semua basah dan bersorak. muka dan baju mereka coreng moreng.

atau ini;
meja-meja kecil penuh lempung. dan anak-anak mengerubunginya. ini bebek, kata anak kecil berpipi bulat. ini pesawat, kata yang lain. dan mereka tak henti membuat bentuk hingga tanda waktu dibunyikan. ah, keceriaan baru dimulai. ya, semua yang ada di dalam arena boleh menempelkan tangan penuh lempung itu ke baju teman di sebelahnya. atau ke teman sebelahnya lagi. atau ke teman sebelahnya lagi. ya, ya, ya, bagus nak, usapkan lempung itu pada baju ibu. seorang perempuan muda berkacamata hitam berteriak-teriak, berlari kecil, menjauhi seorang anak yang mengejarnya.

ayo, semua harus kotor. termasuk saya.

tante tos dulu dong, ucap salim, bocah dengan mata yang hidup seraya menyodorkan tangan penuh lempungnya ke saya. dan tangan kanan saya menyambut ulurannya. percikan lempung mampir ke rok denim yang minggu itu saya kenakan. sebelumnya satu dua percikan cat tembok sudah ada di sana. saya periksa teddy-kamera film yang sayacintaisepenuhhati-. teddy juga terkena lempung. sedikit. di dekat tombol shutter. ujung bagian luar tas kamera saya juga penuh lempung. semua kotor. termasuk saya.

tapi ternyata ada loh yang tak mau kotor. ow ow siapa dia?
laki-laki harum hutan itu mencoba menghindar ketika saya mendekatinya.
kok cemong-cemong begitu sih? tanyanya
dan saya berusaha memeluknya dari belakang. dan ia membentengi dirinya. padahal lempung di tangan saya tak lagi cair. tapi ia mengelit dengan sigap. hey, hey, katanya. saya tersenyum. ia masih menghindar. ah, kurang seru nih.

tapi tak lama kemudian, celana denim warna hitam yang dipakainya berhias bercak-bercak coklat. ia hendak mengambil gambar di arena permainan pukul bantal. sejatinya permainan itu berjalan seperti ini : dua anak berdiri di sebuah kotak yang ditaruh di wadah besar berisi air kecoklatan, campuran air dan tanah liat, mirip lapangan sepak bola gundul tanpa rumput sesaat setelah diguyur hujan. dan mulai memukul dengan bantal. yang terpukul akan tercebur ke dalam cairan kecoklatan. tapi lihat apa yang anak-anak lakukan sekarang; jelang sore bantal-bantal sudah banyak yang rusak, wadah-wadah besar itu kini berubah seperti kolam. anak-anak duduk. berlari. menciprati kawan. terpeleset. tergelak. air kecoklatan pun muncrat ke sana, ke mari; mengenai celana denim laki-laki harum hutan. sedikit saja. tapi tetap kotor bukan namanya. ha-ha-ha.

jelang sore saya mencuci kaki. bersama anak-anak di keran-keran air. air disuplai dari truk kuning dinas pertamanan. seorang anak baru rampung bersih-bersih. tubuhnya terlilit handuk. ah anak ini yang tadi berlama-lama di kolam pukul bantal. ia memberi saya senyum terbaiknya.

jelang sore keramaian menyusut
saya berjalan, bersisian dengan laki-laki harum hutan. meninggalkan arena permainan. pulang dengan perasaan senang.

minggu itu semoga terpatri dalam ingatan anak-anak yang datang. seperti saya menyimpannya. minggu itu semoga diikuti dengan minggu-minggu ceria yang lain. bermain, bukankah itu yang harus mereka -anak-anak itu lakukan-. bermain. melihat hujan. mencium bunga. mandi matahari. membaui air laut. merenda tawa. merangkai gelak.

bermainlah nak, biar urusan-urusan yang lain kami yang akan selesaikan. bermainlah karena masa kecil tak akan menghampirimu lagi. cecap lebih banyak lagi minggu-minggu ceria. bermainlah nak.

15 thoughts on “Minggu Ceria

  1. yah, gw udah jauh-jauh hari niat ke sana. tapi pas hari-H, entah kenapa kok malah lupa, yak? jadinya malah ajak obin ke planetarium.. hehehe…

  2. kuwi mesti acara dunia bermain rinso……….

    asyik ya, main kotor2an gak dimarahin. main sebebas-bebasnya. puas.
    hiks, jadi pingin jadi anak kecil lagi. main bola di lapangan becek sambil hujan2an. jalan2 di lumpur sawah. naik turun bukit, mandi di kali, ah………kangen aku,,,,,,,,,,,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *