Saatnya Pesta Bola

Jelang sore di Kawasan Banten Lama, Minggu dua pekan lalu

Cahaya matahari tak lagi garang. Tak seperti beberapa jam lalu, saat kami, saya dan teman berburu foto yang tampan dan baik hati itu, tiba di reruntuhan keraton Surosawan. Jelang sore, makin banyak penduduk yang masuk ke kawasan keraton ini. Anak-anak berkejaran. Sebagian mengayuh sepeda. Sebagian bertelanjang kaki. Sekelompok anak melempar senyum ramah. Kelompok yang lain menyapa saya. Kami berbagi tawa. Tanpa canggung mereka berpose, dengan bola, dengan teman satu tim, dengan latar reruntuhan benteng. Setelah itu mereka berduyun-duyun pergi. Bergabung dengan yang lain menuju satu titik.

Pusat keramaian itu ternyata tak jauh dari kompleks reruntuhan keraton. Di sebuah lapangan rumput. Tiang bambu yang dibentuk menyerupai pintu, ditaruh di tengah lapangan. Satu per satu anak melewatinya. Yang tak lolos, karena tinggi mereka melebihi pintu tiang bambu itu, menyingkir ke pinggir. Seorang anak tampak mengempiskan perutnya. Berupaya sebisa mungkin agar bisa lolos dari pintu. Tapi … ups, kepalanya terantuk. Semua bersorak. Usaha si anak sia-sia. Ia lepas kostum, memberikannya pada yang lain, dan bergabung dengan anak-anak yang lebih dulu tersingkir.

Sekarang ada dua kelompok di tengah lapangan. Kelompok pertama, dengan kostum kuning terang, tampak menyilaukan. Kelompok kedua tampil dalam balutan kostum warna putih.

Peluit permainan tanda dimulai berbunyi. Seorang anak tampak berjaga-jaga dibawah mistar gawang. Bukan gawang dari besi dengan tali-tali teranyam di belakangnya. Anak itu berdiri di bawah bilah bambu yang disusun menyerupai gawang.

Minimnya kondisi lapangan tak berbanding lurus dengan semangat kedua tim. Bola disepak ke sana, ke mari. Penjaga gawang bersiap. Tendangan-tendangan maut diciptakan pemain cilik. Penonton bersorak, dan bersorak, dan bersorak makin keras saat gol pertama berhasil dicetak tim berkaos putih.

Ah coba lihat itu, si pencetak gol berlari ke pinggir lapangan. Memamerkan tawa lebarnya. Dan teman-teman satu tim langsung datang mengerubutinya. Di pinggir lapangan, seorang bapak tampak mengibarkan bendera tim. Tawanya lepas.

Ayam Cup, begitu tajuk turnamen sepak bola ini. Seorang anak kecil, yang ada di barisan penonton bercerita dengan fasihnya tentang turnamen itu. Darinya juga saya tahu, pemenang pertama Ayam Cup berhak membawa pulang hadiah seekor ayam jago. Pemenang kedua mendapat bola sepak. Seru.

Sepak bola, siapa yang tahan terhadap sihir yang disebar oleh olahraga yang satu ini? Saya sempat berjarak dengannya dan kebingungan setengah mati ketika melihat orang bisa tergila-gila pada satu tim. Bahkan ketika beberapa sahabat di bangku kuliah dengan fasihnya bercerita tentang pemain-pemain bola saya hanya bisa memandang mereka dengan heran. Aneh. Melihat mereka menyengajakan diri bangun di tengah malam dan menyaksikan tim kesayangan mereka berlaga.

Tapi lihat sekarang, setahun belakangan ini saya juga mulai tersihir. Tak fasih sekali memang. Masih kerap tertukar antara nama pemain dengan klub tempat mereka bermain. Masih tergagap-gagap dan hanya sedikit pengetahuan yang saya miliki tentang sepak terjang pemain. Tapi setidaknya, saya sudah mulai bisa menikmati permainan. Sudah merasakan degup jantung berdebar makin kencang saat tim tercinta bermain tak prima. Sesuatu yang tadinya saya pikir aneh justru sekarang sesekali saya lakukan; menyengajakan diri bangun tengah malam dan menonton pertandingan. Ha-ha-ha.

Sepak bola, dengan beragam daya pikatnya, berhasil membius banyak orang. Sepak bola dinikmati di banyak tempat; di kafe-kafe pinggir jalan di Benua Eropa, di kota-kota kecil di Tunisia, di warung rokok pinggir jalan Sudirman-Jakarta, di ruang keluarga rumah-rumah di Iran, sihirnya juga menyusup ke reruntuhan keraton Surosawan, Banten Lama.

Perhelatan Piala Dunia 2006, pesta empat tahunan kali ini juga merupakan bukti nyata; betapa olahraga ini sanggup menyita perhatian miliaran pemirsa, termasuk saya. Apa? Kalian juga? Kalau begitu, apapun tim yang kalian unggulkan, saya dengan senang hati mengucapkan; selamat berpesta :)

14 thoughts on “Saatnya Pesta Bola

  1. Jerman karena skrg tinggal untuk sementara
    Arab Saudi karena yang ngasih beasiswa
    Tapi kayanya Brasil karena ada Kaka yang ganteng

    euhhh dasar wanita..milih tim bola alasannya itu lhoo..heuheueheue

    Atta sendiri milih apa ta?

  2. ternyata kalo nonton world cup sore2 berkurang rasa seru nya…. lebih asik bangun tengah malam dan nonton sampe pagi buta, baru kerasa kalo itu adalah word cup hehehehe…

    hup holland hup!

  3. waktu saya kecil dulu kaya’nya sepakbola ayam memang pernah ada deh di tvri. pas piala dunia tahun berapa gitu. jadi waktu setengah main, ada selingan sepakbola ayam. beneran yang main ayam. ada yang ingat nggak?

  4. atta, piala dunia thn 2002 kemaren, jaman2nya gue masih kuliah semester2 akhir, gue ikutan nonton bersama final piala dunia rame2 sama temen kuliah di senayan.

    menyeramkan kalo ngeliat orang bisa “gila” gara2 nonton bola.. ada yang main bakar2an di dalem stadion! tapi herannya, kayanya penonton2 lain cuek aja ngeliat aksi bakar2an itu. karena udah biasa mungkin ya? tapi gue ga mau lagi ah ikutan nonton final piala dunia bersama.

    btw, gue sih pinginnya kalo bisa semua tim yg ikutan piala dunia untuk keluar jadi pemenang :D kalo diliat dari usaha, kayanya mereka semua layak deh untuk jadi pemenang… :D

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *