Kelak, Kau Akan Membaca Pram

Anakku yang kusayang,
Ibu bayangkan, kelak kau akan menyukai satu ruang kecil di rumah kita. Ruangan dengan lantai kayu coklat dan jendela-jendela besar. Ada karpet lembut dengan bantal-bantal empuk. Rak-rak buku menempel di dinding. Kita, kau dan aku, akan sering menghabiskan waktu di sana. Membaca, melihat pohon flamboyan di samping rumah, mendengarkan musik, dan menyengajakan diri terlelap di akhir pekan.

Saat kau belum dapat mengeja aksara, Ibu yang akan membacakan buku untukmu; buku-buku bergambar dengan coretan menarik. Mengatur intonasi dengan baik, agar konsentrasimu tetap utuh. Membacakan dongeng tentang putri, kerajaan di awan, legenda, kisah-kisah ajaib, petualangan, sekolah sihir, dan beragam cerita lain.

Kelak Nak, setelah kau mahir membaca, kau akan menemui satu sosok. Ya, di sana, di ruang kesukaan kita itu. Bukan, bukan dengan bersitatap langsung. Raganya pasti tak akan hadir di ruang kecil di rumah kita itu Nak. Kau akan menemuinya dalam berlembar-lembar halaman yang kau baca dan renungi.

Anakku sayang,
Kelak kau juga akan membaca Pram.
Seperti jendela besar di ruang kecil rumah kita itu Nak, dari untaian kalimat yang dipintalnya menjadi buku, kau akan melihat banyak hal. Kau akan bersentuhan dengan banyak kisah. Kau juga bisa mengambil banyak dan memperkaya pikirmu.

Darinya kau akan menemui kesetaraan antara perempuan dan laki-laki. Darinya kau akan mengetahui tentang keadilan, kebenaran dan keindahan sebagai buah dari kerja keras. Darinya kau bisa menyadari kolonialisme apapun bentuknya harus tetap diperangi. Darinya kau bisa menjadi pandu-yang sebenar-benarnya pandu- untuk Ibu Pertiwi, Dipantara yang tersusun dari ribuan pulau ini. Darinya kau bisa menumbuhkan setiap inci demi inci rasa cintamu pada Tanah Air tanpa henti. Darinya kau bisa memahami, kekuasaan dengan kekerasan tak akan sanggup membungkam perjuangan.

Anakku sayang,
Kelak kau juga akan membaca Pram.
Tidak lagi dalam lembaran-lembaran terpisah yang diedarkan dari satu orang ke orang lain. Tidak lagi dengan sembunyi-sembunyi. Kau bisa membacanya saat jeda waktumu. Kau bisa membacanya sambil menghabiskan segelas susu yang kubuat untukmu sebelum tidur.

Anakku yang lahir dari perasaan yang penuh kasih,
Kelak kau juga akan membaca Pram. Kelak kau akan menyadari betapa menuliskan pikiran dalam sebuah buku adalah sebuah bentuk perjuangan yang tak akan lekang oleh waktu. Tak akan anakku. Bahkan ketika para elit mencoba membengkokkan sejarah. Buku karya-karya pujangga kelahiran Blora ini adalah sumbangsihnya untuk semua. Raga orang besar itu boleh saja terbaring di Karet, tapi semangat kebangsaan yang muncul dalam beragam karyanya telah melanglang jauh, melintasi batas negara, dibaca oleh orang-orang dari berbagai bangsa. Dengan tulisannya, Pram memberikan warisan yang menginspirasi banyak orang.

Anakku sayang,
Kelak kau akan membaca Pram.
Di sini, di ruang kecil di dalam rumah kita. Ah, tentu saja setelah itu kau tak merasa puas hanya dengan membaca saja. Dan kita akan belajar bersama-sama anakku. Kita kumpulkan lagi informasi mengenai buah pikir calon pemenang Hadiah Nobel Kesusasteraan ini. Kau juga bisa mencari teman diskusi yang menyenangkan. Bertukar pikiran.

Anakku sayang,
Kelak kau juga akan membaca Pram.
Dan jika tiba satu masa, di mana kau dan generasimu menerima tongkat estafet dari kami, generasi sebelummu, Ibu doakan semoga kalian mendiami Nusantara yang kuat, tangguh, kokoh, Nusantara yang rendah hati. Tanah Air yang merdeka, berkarakter, Tanah Air yang lebih baik, jauh lebih baik.

ditulis untuk mengenang 40 hari wafatnya Pramoedya Ananta Toer

25 thoughts on “Kelak, Kau Akan Membaca Pram

  1. Karya-karya Pram memang luar biasa mencerap seluruh emosi dan pikiranku. Tanah Air semoga menjadi lebih baik, jauuuuuuuh lebih baik.

    OOT: Ta, trus kapan itu mau mewujudkan si anak? :)

  2. aku punya keinginan yang mirippp …. :)
    rumah nyaman, perpustakaan pribadi, dengan lemari buku yang besar. lengkap dengan sebuah sofa empuk dan meja kecil beserta sebuah laptop dan koneksi internet 24 jam. lalu ada soft music dan secangkir kopi hangat yang menemani waktu hujan rintik2 (weleh, kok kayak judul lagu jadul ya :D).
    hmm, asiknya asiknya … *hahaha, mimpiku kelewat detil ya :) *

  3. karya-karya alm. Pram memang baik untuk dinikmati …..

    tapi kalau urusan anak saya nanti, terserah sih dia mau baca atau nggak, yg penting kita fasilitasi aja. Takutnya, anak saya itu belum tentu suka sastra. Mungkin dia suka buku-buku yg berhubungan dengan teknik, atau buku-buku komputer .. entahlah. Saya nggak berambisi menciptakan anak saya tepat seperti diri saya, kelak.

  4. gue baru baca 1 bukunya
    dulu banget
    dan udah lupa judulnya apa

    trus baca wawancaranya
    di playboy indonesia
    jadi pengen baca lagi

    mungkin ada yang tau
    tentang situs yang mengulas tentang
    tulisan-tulisan pram?

  5. berkenalan dengan pram justru waktu ada di LN, baca buku2 yg udah diterjemahkan. sewaktu pulang dan baca versi indonesianya, baru kerasa beda nuansanya… :-)

    apakah kelak anakku akan suka tulisan pram? :D

  6. hem…em…em….

    Mudahan akan menjadi bahan perenungan, teladan, bagi orang tua untuk mendidik anaknya…mengajari bersikap santun….
    sudahkah para orang tua dapat menjadi teladan bagi anak-anaknya….?

  7. wah.. aku blom aja nih baca pram… yang di rumah ada ArokDedes… gw rasa ga sesuai untuk mulai membaca Pram dari judul yang itu…

    hmmm… atta… aku juga punya cita2 ruang baca yg seperti itu ^_^

  8. Kelak kau akan membaca Pram, atau Seno, atau Karl May, atau N.H. Dini, atau Tan Malaka, atau Marx, atau R.H. Kosasih, atau siapa saja yang kau suka

    Kelak kau akan membaca dari semua, menimbang dari semua, dan memutuskan dari semua

    supaya tidak lagi kita hanya membaca hanya apa yang diizinkan dibaca

  9. aku sedang mempersiapkan pram baru, tan malaka baru, soe hok gie baru, semaoen baru, doakan oleh kalian kupersembahkan karyaku kepada kalian seorang revolusioner indonesia yang mengguncang jagat raya

  10. Pram, mrpkn sosok yang penuh kontroversi ttp di satu sisi yang lain dia mrpkn pembangkit dunia sastra Indonesia yang terus berjuang n menulis wlau terkekang dlm penjra.
    tak ada kta yg lbih baik selain penghrmatan kpd beliau………

  11. mimpilah terus menerus teruslah bermimpi
    karena mimpi adalah sejoli lelap dan terjaga
    perekat sejoli percintaan dan jembatan kegamangan misteri malam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *