Hati Jakarta

Jakarta. Padat. Kendaraan merayap di tiap-tiap ruas jalan. Gedung-gedung tinggi dibangun, berkejaran menggapai langit. Manusia menyemut di pagi dan sore hari. Klakson menyalak. Angkutan umum berhenti sesukanya. Panas menyengat. Debu, asap, terik.

Jakarta adalah ketergesaan. Bagi sebagian besar orang, Jakarta adalah kesempatan. Untuk sebagian yang lainnya, Jakarta bisa jadi adalah ketimpangan. Dan bukan tak mungkin beberapa menganggap kota ini adalah kumpulan mimpi dan rangkuman harap.

Jakarta juga … adalah tubuh.

Ya, tubuh. Seperti yang sehari-hari bergerak bersama kita. Karena serupa dengan tubuh, Jakarta juga memiliki jantung, mata, lengkung alis, hidung, jari tangan, telapak kaki, lutut, kerongkongan, pundak, punggung, kuku, paru-paru, kening juga … hati.

“Kota di mana mimpi, harap, ketergesaan dan ketimpangan ini memiliki hati?” seseorang bertanya diliputi rasa heran yang sangat.

Ya, Jakarta juga memiliki hati. Tempat di mana kalian temukan rasa kasih, kepedulian dan kebaikan.

“Di manakah itu?” seseorang yang lain bertanya dengan nada tak percaya.

Hati Jakarta ini ada di satu tempat. Tak jauh dari tepi Ciliwung, sungai kecoklatan yang mengular. Hati Jakarta ada di Manggarai Utara VI, selatan Jakarta, di sebuah rumah petak dengan Sri Suwarni di dalamnya.

Minggu, 5 Juni yang lalu, saat gelapnya langit menggantikan semburat jingga, dan maghrib datang, perempuan ini didera kejutan, tak lama butiran air matanya jatuh. Di hadapannya, seorang laki-laki berdiri, tangan yang satu menggendong mayat si bungsu. Tangan yang lain menggandeng si sulung.

“Bude, saya mau minta tolong,” laki-laki, si pemulung, ayah dari dua anak itu berkata pelan.

Dan, bagai adegan lambat dalam sebuah penggalan film hitam putih. Laki-laki itu bertutur, tentang muntaber yang menimpa Khaerunisa, si bungsu terkasih. tentang ketidakmampuannya membayar Rp4.000 untuk biaya puskesmas. tentang tubuh kecil yang terpaksa meringkuk di gerobak berukuran 2 meter persegi. tentang Muriski Saleh, sang kakak yang tetap menemani adiknya, melontarkan canda. tapi si bungsu tak kunjung sembuh. empat hari meringkuk di gerobak hingga pukul tujuh pagi di hari minggu itu, ajal datang menjemput gadis mungil ini.

Tidak cukup sampai di situ. Laki-laki itu, Supriono, kembali bertutur. tentang uang yang tersisa di sakunya yang tak sampai Rp10.000. tentang gerobak dengan tubuh gadis kecil terbujur kaku di dalamnya. tentang menyusuri Cikini, Manggarai menuju Stasiun Tebet. tentang kenekatannya hendak membawa mayat si bungsu ke Kampung Kramat, Bogor, menggunakan Kereta Api Listrik. tentang pemeriksaan di kantor polisi Tebet lebih dari empat jam. tentang kamar mayat RSCM dan ia menolak otopsi mayat anaknya. tentang bajaj yang akhirnya mengantarkannya ke Sri Suwarni, pemilik rumah petak yang pernah disewanya beberapa tahun lalu.

Setelah itu, Sri Suwarni pun bergerak seperti Jakarta. Bergegas. Dalam ritme yang cepat. Mengumpulkan tetangga yang lain. Memasang bendera kuning. Membeli kain kafan. Berdoa dan memandikan jasad mungil Khaerunisa. Bersama-sama, mereka antarkan gadis kecil, buah hati Supriono itu, ke tempat peristirahatannya yang terakhir di Blok A6 No.3 Taman Pemakaman Umum Menteng Pulo, keesokan harinya.

Kalau kalian bertanya di mana hati dari kota yang bergegas ini berada. Manggarai Utara VI, selatan Jakarta dan Sri Suwarni, perempuan berusia 40 tahun itu, adalah hati dari kota ini. Di tengah padatnya pemukiman, dalam kepapaan, nurani mereka tidak ikut terpangkas.

Mereka, hati kota sebenarnya.

Tulisan ini untuk Johan Budi SP, terima kasih telah menggugah sisi terdalam di senin pagi saya dengan tulisan yang sangat menyentuh. Derita Supriono, Duka Indonesia, tulisan Johan Budi SP, bisa dibaca di Majalah Berita Mingguan Tempo, edisi 13-19 Juni 2005.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *