Bentuk Cinta

Perceraian kedua orang tua saya, dulu di saat usia saya belum genap satu tahun, membuat kami, saya dan seorang kakak laki-laki, tumbuh hanya dengan satu orang tua.

Hidup bersama Ma’e, begitu sapaan akrab untuk perempuan tangguh yang dengan segenap daya upaya membesarkan kami berdua, ternyata memberi banyak keuntungan untuk saya. Salah satunya adalah, segala perijinan untuk aktivitas yang hendak saya lakukan, cuma perlu melewati satu pintu saja. Pintu ijin Ma’e.

Sementara, di era lama -era lama ini maksudnya jaman bersekolah, mulai dari seragam merah putih hingga seragam abu-abu- saat ijin orang tua menjadi syarat mutlak, banyak teman-teman sebaya saya yang sedikit kerepotan.

Mereka kebanyakan hidup dengan orang tua yang lengkap. Dan dua orang tua, ibu dan ayah, sama artinya dengan dua pintu perijinan. Alhasil, beberapa orang teman sesekali datang dengan muka merengut dan melaporkan ijin yang tidak didapat.

“Aduh, sori banget deh. Gue gak usah dijemput aja. Abis, nyokap gue ngebolehin tapi bokap gue nih yang rewel”

atau ini …

“Boleh sih, tapi ayah ku udah ngutus kakak ku buat ngejemput jam 11 teng, jadi gak bisa sampai selesai acara, gak seru banget ya”

dan ini …

“Wah, pergi-pergi ke hutan gitu mana mama ku ngasih” (yang ini jelas hiperbola, secara perjalanan yang kami lakukan waktu itu hanya ke kaki Gunung Gede saja, yang jelas-jelas bukan hutan belantara dan tak terjamah manusia)

Saya bersyukur punya Ma’e. Sejak era lama hingga sekarang, seingat saya tidak pernah sekali pun, ibu saya ini rewel. Selalu ada lampu hijau. Perijinan satu pintu ini benar-benar membahagiakan saya.

Mulai dari pelatihan survival (meski pulang ke rumah, perut saya langsung bermasalah karena kebanyakan meneguk air sungai dan makan bonggol pisang ), camping di dekat air terjun, pendakian masal, menginap di rumah nenek sahabat, ke Bali pertama kali naik kereta api (rutenya Jakarta-Surabaya, Surabaya-Banyuwangi, Banyuwangi-Bali dengan bis), membuat film dokumenter dan hampir seminggu menginap di dekat Candi Sukuh (ini saya lakukan saat kuliah menjelang tingkat akhir, belum berbekal ponsel, otomatis ibu saya tak bisa melacak keberadaan saya. padahal, saya lupa telepon ke rumah. alhasil, selama satu minggu ibu saya tak tahu di mana putrinya berada. hehehehe).

Sampai saat ini, Ma’e tak pernah mengatakan tidak. Yang saya tahu, ini adalah bentuk cintanya pada saya. Ijin yang keluar sekaligus adalah penanda rasa percaya yang diberikannya pada saya.

Berbeda dengan Ma’e, yang tak pernah mengatakan tidak, saya sekarang lebih sering mengatakan tidak. Ya, karena usia Ma’e sudah sepuh, rambutnya memutih dan fisiknya tak lagi sekuat dulu, untuk beberapa hal saya justru agak lebih cerewet.

kalau pergi-pergi di dekat rumah, Ma’e harus naik bajaj, tidak boleh naik mikrolet (ojek juga nggak boleh, nggak mungkin juga sih, sebab Ma’e takut naik kendaraan bermotor roda dua). kalau pergi agak jauh, harus sama atta, naik taksi (yang ada sementara Ma’e melihat ke kanan dan ke kiri menikmati pemandangan sekitar, si atta deg-degan melihat argo taksi ). kalau Ma’e ingin ke plaza dekat rumah lebih baik lewat dalam kompleks, sebab lewat luar kompleks risiko terserempet ojek lebih besar. Ma’e harus minum susu untuk tulang setiap hari. dan… yang lainnya dan yang lainnya. (tapi kalau soal es krim, saya memberi ruang selebar-lebarnya, dengan catatan: makan es krimnya harus bersama-sama. saya dan Ma’e adalah pecinta es krim)

Phuff…, pasti susah ya jadi Ma’e. Budi baiknya yang tidak pernah mengatakan tidak, kini berganti dengan “keributan” putri bungsunya. Mudah-mudahan Ma’e tahu “keributan” saya itu adalah bentuk cinta saya untuknya. Bentuk cinta dan rasa kasih saya yang dalam…

One thought on “Bentuk Cinta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *