Bahagia Dari Yang Sederhana

Tawaran ke pasar malam guna menyimak aksi panggung Pure Saturday itu datang lewat pesan pendek. Minggu sore ke pasar malam.

Sore?
iya sore
Gimana ya? Minggu sore itu berbarengan dengan tenggat waktu beberapa tulisan
Tapi Pure Saturday main selepas maghrib. Jadi kita sudah harus bertolak ke pasar malam sejak sore hari. Bisa?

Tik tak tik tuk

Jam 5, minggu sore.

Tik tak tik tuk

Iyaiya. Tanpa pikir panjang saya langsung mengiyakannya. Duh, bagaimana caranya keluar dari pabrik di Karet ini pukul 5 sore. Ah, nanti saja dipikirnya. Tapi …

Tik tak tik tuk

Sampai hari Minggu siang tanda-tanda kepulangan lebih awal masih belum tampak. Hingga …

Yang satu tulisan itu ditunda aja dulu, halamannya ternyata enggak cukup, ujar redaktur saya, minggu siang sekitar pukul 14.00.

Apa?
Iya. ditunda
Wah
Kenapa?
Mau pulang cepat
Jam berapa?
Jam 5 sore-an
Mau ke mana nih?, redaktur tersenyum lebar
Ke pasar malam, jawab saya cepat
Apa?
Iya. Pasar malam
Kapan ya terakhir aku ke sana?, redaktur menerawang
Kapan?
Oh, waktu itu cari kasur
Ha?
Iya, cari kasur waktu awal-awal menikah
Ya ampun, berapa tahun yang lalu itu
Lama banget deh yang pasti
Dan kami tertawa berdua.

Jam 5 sore. Sesuatu yang semula terlihat rumit, keluar dari pabrik jam 5 sore ternyata dilempangkan jalannya. Senangnya senangnya :)

Udah di Sudirman ya, pesan pendek dari si pengajak itu masuk ke ponsel saya.
Wah, sudah mulai dekat. Senyum saya mengembang. Ayo ayo bergegas. Turun ke lantai dasar pabrik dan menunggu di luar.

Nah, itu dia.

Mencari jalur ke pasar malam. Tak macet. Benar kan? Jakarta jauh lebih ramah di akhir pekan. Tapi, di mulut pintu pasar malam mobil berjalan merayap. Enggak jadi ramah deh kalau begini. Berputar-putar mencari parkir. Berputar-putar mencari parkir. Berputar-putar mencari parkir. Akhirnya, ada juga tempat parkir yang kosong. Ayo cepat.

Masuk ke pasar malam perlu tiket. Jadi, ia masuk dalam barisan antrian, membeli tiket. Tubuhnya yang tinggi membuatnya mudah terlihat dari tempat saya berdiri, menunggunya di ujung barisan antrian.

Ini, ujarnya, jangan sampai terpencar ya, pasar malam ramai sekali
Iyaiya, ujar saya

Pure Saturday sudah bernyanyi ketika kami sampai. Kami maju hingga ke depan. Vokalis band asal Bandung ini ternyata sungguh enak dilihat :D.

Coba untuk ulangi apa yang terjadi
Harap ‘kan datang lagi
Semua yang pernah terlalui
Bersama alam menempuh malam (Kosong-Pure Saturday)

Dan lagu terakhir dari mereka.

Apa? Lagu terakhir
Wah, untung kita tak telat ya
Iya

Pasar malam itu membuat saya teringat akan Sekaten. Tapi dibandingkan Sekaten yang hanya dilangsungkan di alun-alun dekat Geladak, pasar malam ini jauh lebih besar, sangat besar, amat besar.

Aku inget Sekaten
Apa?
Sekaten, pasar malam dengan gulali merah jambu, di Solo
Oh, ia tersenyum

Di langit tampak bulan separuh. Di layar besar, agak jauh dari panggung tempat Pure Saturday tadi tampil masih terlihat kesebelasan Jepang bertarung melawan Kroasia. Di dekat danau buatan -lengkap dengan air mancur di tengahnya- orang-orang bercengkerama. Dan saya merasakan bahagia memenuhi hati saya. Penuh. Kalau bahagia bisa terlihat -ada wujudnya, ada bentuknya, bukan hanya dari ekspresi wajah- malam itu di pasar malam, saya pasti tengah kerepotan dibuatnya; sebab waktu itu saya pasti membawa berkantung-kantung bahagia, di tangan kanan dan kiri.

Dan hai kamu, iya kamu, terima kasih telah memberi bahagia dengan cara yang sederhana. Terima kasih ;)

17 thoughts on “Bahagia Dari Yang Sederhana

  1. suit suit…… cethak cethak…. gludhakk !!!!!

    duh duh…. yang repot bawa berkantung kantung bahagia…

    kalo repot bawa kantung bahagia nya,
    telepon aja ke
    0813 2769 ….

  2. masih di pasar malam kah?
    sudah bisa ditagih janji nya apa blum ya?
    ta tunggu. klo masih berhalangan. kasih tau ya.
    biar cari yg lain. makasih.

  3. kebahagian itu emang tidak harus dengan persiapan yang rumit ya, cukup dengan spontanitas perasaan saat itu, lalu terciptalah momentum yang tak terlupakan…

  4. emang di pasar malam ada yg jualan kasur :D

    welcome back Bu, gimana solo, ikut retak2 katanya ya?
    btw, argo lawu dong. itu kan kereta mudik-ku dulu,
    mana jamnya pas dari pwt ;)

  5. weh, pure saturday? band indie jaman sma tuh. dulu vokalisnya kalo gak salah namanya suar. tapi gak tau yang sekarang. aku gak tau lagunya band ini, tapi tau kalo band ini lumayan jadi pembicaraan di scene indie bandung dari sebuah majalah. sekarang bangkit lagi to? dulu kan sempat ngilang?

    btw, membaca critamu yang lagi berbunga-bunga (ccciiieeeeeehhhhhh….suit suit………..) tentang pasar malam dan sekaten, aku jadi ingat, dah berapa tahun yak gak ke sekaten? tahun ini aku gak niliki blas sekatenan nang alun-alun lor. tau2 udah bubar sih….hehehehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *