Akhir Pekan Yang Mencerahkan

Laki-laki muda itu memasuki ruangan. Dengan jaket hijau, celana jeans, dan kaos putih bertuliskan “Fifa World Cup-Germany 2006”. Matanya terlihat lelah. -saya hanya tidur sebentar, tadi malam saya nonton bola, pagi-pagi sudah harus naik kereta dari Jogja, agar bisa sampai ke sini tepat waktu, ujarnya-. Ia berdiri di depan forum, memilih tempat di dekat papan tulis. Kelelahannya terlihat pudar saat ia menyampaikan materi. Suaranya jelas terdengar. Artikulasinya mantap. Ia begitu hidup.

Di baris kedua, saya tercengang.

“Semuda ini?”

Laki-laki muda itu adalah alasan saya sampai ke ruangan ini. Menempuh 12 jam perjalanan darat (karena harga tiket pesawat yang dibeli pada saat-saat akhir jelas tidak bersahabat) dan mengosongkan jadwal di akhir pekan itu. Laki-laki dengan jaket hijau, celana jeans, dan kaos putih bertuliskan “Fifa World Cup-Germany 2006” itu mempertebal keinginan saya untuk menghabiskan akhir pekan minggu lalu di Solo; kota yang dulunya sempat saya tinggali selama kuliah.

Laki-laki itu hanya saya kenal dari karyanya saja. Cerita pendeknya menghiasi halaman di beragam media besar. Dan saya mengagumi caranya bertutur; jatuh cinta pada pilihan katanya, kadang-kadang tak habis pikir, dari mana ia mendapatkan inspirasi dan menjalinnya menjadi sebuah cerita yang bernas.

Bayangan saya ia adalah laki-laki dengan postur tubuh yang besar. Tinggi. Sedikit pendiam. Serius. Dan bayangan saya terpatahkan; ia jelas jauh dari apa yang saya bentuk dalam pikir. Ia muda; sekitar 25 tahun -belakangan saya tahu usianya dua tahun di bawah saya-, segar, casual, enak dilihat (manismanismanis), punya selera humor yang baik, sedikit ramai. Ia tak seserius yang saya kira. Dan cerdas, pasti. Materi yang disampaikannya akhir pekan itu menukik ke sasaran. Runut. Semangatnya terpancar. Ia, dengan segenap ketenaran -berkat tulisan yang tersebar di banyak media, cerita pendek yang dibukukan, dan novel- yang didapat dengan rendah hati mau membagi apa yang ia ketahui pada peserta di dalam ruangan itu.

Ia menerangkan tentang siklus produksi, bagaimana seorang penulis berproses, bagaimana ia berproses, kerja kreatifnya, bagaimana awal mulanya ia terlibat pada dunia produksi kata, pada kecintaannya terhadap puisi Afrizal Malna, dan banyak hal lain.

Ia tertawa, bertanya, menjawab, tersenyum, tergelak, menulis, menghapus, meneguk kopi hitam di gelas.

-sesekali cobalah berpikir agak sedikit liar, tuturnya. ia lalu mencontohkan: ada pohon jagung dalam kepalaku, katanya. ada yang salah dengan kata itu? enggak kan?-

Ia membuat saya kembali berpikir tentang menulis dengan lebih serius, lebih disiplin. Menjalin cerita sebaiknya memang tidak dipikir sebagai sebuah aktivitas yang rumit dan sulit. Laki-laki muda itu membangkitkan kembali mimpi saya ;)

Laki-laki muda itu tak sendiri. Dua hari itu, sabtu dan minggu, di pekan lalu, saya dikelilingi orang-orang dengan semangat yang sama.

-menulislah, karena dengan menulis kalian menyerap energi semesta, kata pemberi materi yang lainnya di hari pertama. Ia, suami dari seorang perempuan, ayah dari seorang anak, penulis beberapa buku. Saat istrinya mengandung, ia meminta istrinya untuk menulis apa saja; tulisan selama 9 bulan itu kini masih juga dibacanya. Dari tulisan istrinya itu, ia belajar banyak hal; tentang kasih seorang ibu, besarnya cinta istri padanya, tentang beragam pikiran yang melintas saat kandungan perlahan-lahan makin membesar.

menulislah, karena dengan menulis kalian menyerap energi semesta

Dan di pendopo Taman Budaya Surakarta, tempat salah satu materi dalam bengkel kerja itu berlangsung, sesuatu berdesir dalam hati saya. Ya, saya akan menulis, terus, menuangkan apa yang saya pikir; mimpi, harap, sedih, senang, rindu, cinta, asa, hidup, semua. Saya akan menyerap energi semesta itu; semoga bisa membaginya pada yang lain.

Dua hari di Solo, bertemu dengan banyak orang, melepas rindu dengan penulis rumah maya yang penuh bakat dan ahli merangkai kata (gredika hahahaha, terkejut sekali mendapatkanmu di sana, masih saja jahil ternyata, terima kasih atas cerita-cerita terbaru soal mahes ya, jangan lupa undang aku saat launching bukumu, dan hai, cerita soal kera Klepu yang dibuat mendadak saat tugas di pendopo itu bagus sekali, tetap semangat ya Gre ;)), bertatap muka dengan penulis kondang yang membumi; sebuah akhir pekan yang mencerahkan, usaha yang baik untuk tetap meneguhkan cita … menyerap energi semesta :)

20 thoughts on “Akhir Pekan Yang Mencerahkan

  1. Namaku Intan. Lumayan rutin mampir ke taman bermain kamu. ABis suka. Kamu ajaib menurutku. Produktif lagi. Jadi nggak perlu nunggu dua mingguan untuk nunggu “Kartini” terbit. Cerpen kamu inspiratif sie… Hampir 10 hari nggak ngenet, kesela kerjaan, ternyata postingan kamu nambah lumayan banyak. Thx, yah… aku bener-bener nggak perlu beli Kartini dan Ayah Bunda minggu ini

  2. saya berharap sayalah laki-laki itu. namun setelah ditilik ternyata saya pada waktu itu tidak sedang di jogja atawa solo. dan usia saya ternyata sudah lebih dari angka dualimaan. doh!!! :)

  3. it’s about time, atta, it’s about time. giliran penulis terkenal aja nyuruh nulis, baru didengerin. giliran gue nyuruh nulis serius, tidak ditanggapi *huh*.

    Ha ha ha, ayo cepat. kutunggu novel pertamamu !!!

  4. Pingback: gzbarqgosw
  5. Pingback: uyrcbhle
  6. Pingback: cheap fioricet
  7. Pingback: anal hardcore sex

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *