Kehilangan dan Semoga Sukses

Begitu banyak kejadian dalam hidup. Berseliweran. Orang-orang datang dan pergi. 27 tahun jalani hidup. Sebagian peristiwa masih terekam. Tak sedikit yang menguap. Lupa.

Yang masih bisa dipanggil karena berdiam dengan manisnya di otak pasti kejadian-kejadian yang istimewa, tak semua senang, ada juga yang sedih. Kejadian yang berbau-bau pertama biasanya lebih lama tinggal dalam ingatan.

Saya masih ingat; saat pertama masuk Sekolah Dasar, pertama ke Solo, pertama naik kereta api ekonomi, pertama bergandengantangan dengan kakak kelas dalam seragam abuabu di jembatan layang dekat sekolah, pertama naik pesawat, pertama ke luar negeri, pertama dicium pacar, pertama naik gunung, pertama memotret, pertama masuk kamar gelap dan mencetak foto hitam putih, pertama menulis blog (aha!), pertama membuat sayur asem yang rasanya trala trilili, pertama jatuh cinta lagi setelah patah hati, pertama yang ini, pertama yang itu. Saya juga ingat pertama kali masuk ke pabrik ini.

Saya masih mengingat detailnya. Pertama masuk ke pabrik ini misalnya. Waktu itu saya menggunakan celana panjang coklat dengan kemeja lengan pendek putih dan rompi coklat. Sore itu, staf sumberdayamanusia mengajak saya berkeliling. Berjabat tangan dengan banyak orang. Menyebut nama. Ganti mendengar nama. Berkeliling, sampai ke orang pertama yang tersenyum begitu hangat. Benar kan? orang p e r t a m a yang tersenyum begitu hangat -unsur pertama di sini membuat saya mengingatnya dengan jelas-.

Wajahnya bulat. Jabatannya erat. Dan senyumnya lebar. Ia terlihat tulus. Entah kenapa, kegugupan saya di hari pertama masuk ke pabrik ini langsung luruh. Kalian tahu, di dunia ini ada tipe-tipe orang yang bisa memancarkan rasa nyaman meski kita tidak pernah bertemu sebelumnya. Nah, orang pertama yang tersenyum hangat itu adalah salah satu di antaranya.

Setelah hari pertama itu, ia tetap saja hangat. Ramah. Lucu. Ramai. Ia orang pertama yang memperkenalkan saya pada blog -lagi-lagi unsur pertama melekat pada dirinya-. Halaman putih yang awalnya berakhiran blogspot ini dibuat dari mejanya.

Untuk saya ia seperti kakak laki-laki yang superbaik. Saya bisa bercerita apa saja padanya. Ia mendengarkan. Menyediakan waktu dan telinganya untuk hal-hal remeh. Menyenangkan :)

Kami, saya dan orang pertama yang tersenyum hangat di hari pertama saya masuk pabrik, bukan tak pernah bermasalah. Seingat saya, kami kerap berbeda pendapat. Berakhir dengan saling diam. Dan kikuk jika berpapasan di pabrik. Tapi syukurlah akhirnya selalu berdamai dan akur kembali. Ia membuat hari-hari di pabrik lebih berwarna. Pendukung saya dalam berkarir. Dan saya menyayanginya sangat.

Senin pekan depan akan kembali menjadi yang pertama untuk saya (untuk dia juga). Senin pekan depan pertama kalinya saya tidak akan mendapati sosoknya di pabrik. Hari ini adalah hari terakhirnya berkarya di sini; ujung dari enamtahun karirnya di pabrik ini. Kemarin, ia sudah mengirimkan surat perpisahan ke milis karyawan. Saya cuplikkan bagian pembuka dari surat perpisahannya :

I hate good bye, but maybe this time for me to move on

Datang tampak muka, pergi tampak punggung. Saya mencoba mencari padanannya dalam bahasa inggris, tapi ternyata sulit. (Come with the face, go with the back? Bahkan istri saya pun memandang saya dengan geli waktu saya
mengutarakannya).

Dan saya menghapus butiran bening yang berkumpul di sudut mata. Sedih. Saya kehilangan satu orang terbaik yang memberi hangat di pabrik. Saya kehilangan; tidak hanya rekan kerja berbakat, tapi juga kakak dan sahabat. Meski ia berkata: kan masih bisa ketemu. Rasanya pasti tak sama. Saya pasti pasti pasti akan merindukannya. Pasti.

Tapi saya tahu, ini bukan kali pertama orang-orang datang dan pergi dalam hidup saya. Apalagi dalam sebuah komunitas. Kapan saja, saya harus siap untuk ditinggalkan dan mungkin meninggalkan. Dan untuk sebuah tujuan yang lebih baik, saya tetap mendukung keputusan yang telah dibuatnya.

Senin pekan depan, pasti ada yang hilang di pabrik ini. Keceriaan yang timbul dari senyum lebarnya, lelucon garing yang keluar dari tuturnya, tawa lepas, dan semua. Senin pekan depan sebuah tantangan baru menantinya. Dan Jumat malam ini, giliran saya memberikannya senyum hangat, berdoa agar ia bisa nyaman di tempat berkarya yang baru, berdoa agar ia selalu dikelilingi oleh orang-orang yang penuh kasih, agar ia menggenggam kesuksesan, dan bergerak maju -seperti sebuah kalimat dalam surat elektronik yang dikirimkannya- it’s time to move on.

untuk roi : i love you, always, semoga sukses ya. mwah mwah ;)

Akhir Pekan Yang Mencerahkan

Laki-laki muda itu memasuki ruangan. Dengan jaket hijau, celana jeans, dan kaos putih bertuliskan “Fifa World Cup-Germany 2006”. Matanya terlihat lelah. -saya hanya tidur sebentar, tadi malam saya nonton bola, pagi-pagi sudah harus naik kereta dari Jogja, agar bisa sampai ke sini tepat waktu, ujarnya-. Ia berdiri di depan forum, memilih tempat di dekat papan tulis. Kelelahannya terlihat pudar saat ia menyampaikan materi. Suaranya jelas terdengar. Artikulasinya mantap. Ia begitu hidup.

Di baris kedua, saya tercengang.

“Semuda ini?”

Laki-laki muda itu adalah alasan saya sampai ke ruangan ini. Menempuh 12 jam perjalanan darat (karena harga tiket pesawat yang dibeli pada saat-saat akhir jelas tidak bersahabat) dan mengosongkan jadwal di akhir pekan itu. Laki-laki dengan jaket hijau, celana jeans, dan kaos putih bertuliskan “Fifa World Cup-Germany 2006” itu mempertebal keinginan saya untuk menghabiskan akhir pekan minggu lalu di Solo; kota yang dulunya sempat saya tinggali selama kuliah.

Laki-laki itu hanya saya kenal dari karyanya saja. Cerita pendeknya menghiasi halaman di beragam media besar. Dan saya mengagumi caranya bertutur; jatuh cinta pada pilihan katanya, kadang-kadang tak habis pikir, dari mana ia mendapatkan inspirasi dan menjalinnya menjadi sebuah cerita yang bernas.

Bayangan saya ia adalah laki-laki dengan postur tubuh yang besar. Tinggi. Sedikit pendiam. Serius. Dan bayangan saya terpatahkan; ia jelas jauh dari apa yang saya bentuk dalam pikir. Ia muda; sekitar 25 tahun -belakangan saya tahu usianya dua tahun di bawah saya-, segar, casual, enak dilihat (manismanismanis), punya selera humor yang baik, sedikit ramai. Ia tak seserius yang saya kira. Dan cerdas, pasti. Materi yang disampaikannya akhir pekan itu menukik ke sasaran. Runut. Semangatnya terpancar. Ia, dengan segenap ketenaran -berkat tulisan yang tersebar di banyak media, cerita pendek yang dibukukan, dan novel- yang didapat dengan rendah hati mau membagi apa yang ia ketahui pada peserta di dalam ruangan itu.

Ia menerangkan tentang siklus produksi, bagaimana seorang penulis berproses, bagaimana ia berproses, kerja kreatifnya, bagaimana awal mulanya ia terlibat pada dunia produksi kata, pada kecintaannya terhadap puisi Afrizal Malna, dan banyak hal lain.

Ia tertawa, bertanya, menjawab, tersenyum, tergelak, menulis, menghapus, meneguk kopi hitam di gelas.

-sesekali cobalah berpikir agak sedikit liar, tuturnya. ia lalu mencontohkan: ada pohon jagung dalam kepalaku, katanya. ada yang salah dengan kata itu? enggak kan?-

Ia membuat saya kembali berpikir tentang menulis dengan lebih serius, lebih disiplin. Menjalin cerita sebaiknya memang tidak dipikir sebagai sebuah aktivitas yang rumit dan sulit. Laki-laki muda itu membangkitkan kembali mimpi saya ;)

Laki-laki muda itu tak sendiri. Dua hari itu, sabtu dan minggu, di pekan lalu, saya dikelilingi orang-orang dengan semangat yang sama.

-menulislah, karena dengan menulis kalian menyerap energi semesta, kata pemberi materi yang lainnya di hari pertama. Ia, suami dari seorang perempuan, ayah dari seorang anak, penulis beberapa buku. Saat istrinya mengandung, ia meminta istrinya untuk menulis apa saja; tulisan selama 9 bulan itu kini masih juga dibacanya. Dari tulisan istrinya itu, ia belajar banyak hal; tentang kasih seorang ibu, besarnya cinta istri padanya, tentang beragam pikiran yang melintas saat kandungan perlahan-lahan makin membesar.

menulislah, karena dengan menulis kalian menyerap energi semesta

Dan di pendopo Taman Budaya Surakarta, tempat salah satu materi dalam bengkel kerja itu berlangsung, sesuatu berdesir dalam hati saya. Ya, saya akan menulis, terus, menuangkan apa yang saya pikir; mimpi, harap, sedih, senang, rindu, cinta, asa, hidup, semua. Saya akan menyerap energi semesta itu; semoga bisa membaginya pada yang lain.

Dua hari di Solo, bertemu dengan banyak orang, melepas rindu dengan penulis rumah maya yang penuh bakat dan ahli merangkai kata (gredika hahahaha, terkejut sekali mendapatkanmu di sana, masih saja jahil ternyata, terima kasih atas cerita-cerita terbaru soal mahes ya, jangan lupa undang aku saat launching bukumu, dan hai, cerita soal kera Klepu yang dibuat mendadak saat tugas di pendopo itu bagus sekali, tetap semangat ya Gre ;)), bertatap muka dengan penulis kondang yang membumi; sebuah akhir pekan yang mencerahkan, usaha yang baik untuk tetap meneguhkan cita … menyerap energi semesta :)

Bahagia Dari Yang Sederhana

Tawaran ke pasar malam guna menyimak aksi panggung Pure Saturday itu datang lewat pesan pendek. Minggu sore ke pasar malam.

Sore?
iya sore
Gimana ya? Minggu sore itu berbarengan dengan tenggat waktu beberapa tulisan
Tapi Pure Saturday main selepas maghrib. Jadi kita sudah harus bertolak ke pasar malam sejak sore hari. Bisa?

Tik tak tik tuk

Jam 5, minggu sore.

Tik tak tik tuk

Iyaiya. Tanpa pikir panjang saya langsung mengiyakannya. Duh, bagaimana caranya keluar dari pabrik di Karet ini pukul 5 sore. Ah, nanti saja dipikirnya. Tapi …

Tik tak tik tuk

Sampai hari Minggu siang tanda-tanda kepulangan lebih awal masih belum tampak. Hingga …

Yang satu tulisan itu ditunda aja dulu, halamannya ternyata enggak cukup, ujar redaktur saya, minggu siang sekitar pukul 14.00.

Apa?
Iya. ditunda
Wah
Kenapa?
Mau pulang cepat
Jam berapa?
Jam 5 sore-an
Mau ke mana nih?, redaktur tersenyum lebar
Ke pasar malam, jawab saya cepat
Apa?
Iya. Pasar malam
Kapan ya terakhir aku ke sana?, redaktur menerawang
Kapan?
Oh, waktu itu cari kasur
Ha?
Iya, cari kasur waktu awal-awal menikah
Ya ampun, berapa tahun yang lalu itu
Lama banget deh yang pasti
Dan kami tertawa berdua.

Jam 5 sore. Sesuatu yang semula terlihat rumit, keluar dari pabrik jam 5 sore ternyata dilempangkan jalannya. Senangnya senangnya :)

Udah di Sudirman ya, pesan pendek dari si pengajak itu masuk ke ponsel saya.
Wah, sudah mulai dekat. Senyum saya mengembang. Ayo ayo bergegas. Turun ke lantai dasar pabrik dan menunggu di luar.

Nah, itu dia.

Mencari jalur ke pasar malam. Tak macet. Benar kan? Jakarta jauh lebih ramah di akhir pekan. Tapi, di mulut pintu pasar malam mobil berjalan merayap. Enggak jadi ramah deh kalau begini. Berputar-putar mencari parkir. Berputar-putar mencari parkir. Berputar-putar mencari parkir. Akhirnya, ada juga tempat parkir yang kosong. Ayo cepat.

Masuk ke pasar malam perlu tiket. Jadi, ia masuk dalam barisan antrian, membeli tiket. Tubuhnya yang tinggi membuatnya mudah terlihat dari tempat saya berdiri, menunggunya di ujung barisan antrian.

Ini, ujarnya, jangan sampai terpencar ya, pasar malam ramai sekali
Iyaiya, ujar saya

Pure Saturday sudah bernyanyi ketika kami sampai. Kami maju hingga ke depan. Vokalis band asal Bandung ini ternyata sungguh enak dilihat :D.

Coba untuk ulangi apa yang terjadi
Harap ‘kan datang lagi
Semua yang pernah terlalui
Bersama alam menempuh malam (Kosong-Pure Saturday)

Dan lagu terakhir dari mereka.

Apa? Lagu terakhir
Wah, untung kita tak telat ya
Iya

Pasar malam itu membuat saya teringat akan Sekaten. Tapi dibandingkan Sekaten yang hanya dilangsungkan di alun-alun dekat Geladak, pasar malam ini jauh lebih besar, sangat besar, amat besar.

Aku inget Sekaten
Apa?
Sekaten, pasar malam dengan gulali merah jambu, di Solo
Oh, ia tersenyum

Di langit tampak bulan separuh. Di layar besar, agak jauh dari panggung tempat Pure Saturday tadi tampil masih terlihat kesebelasan Jepang bertarung melawan Kroasia. Di dekat danau buatan -lengkap dengan air mancur di tengahnya- orang-orang bercengkerama. Dan saya merasakan bahagia memenuhi hati saya. Penuh. Kalau bahagia bisa terlihat -ada wujudnya, ada bentuknya, bukan hanya dari ekspresi wajah- malam itu di pasar malam, saya pasti tengah kerepotan dibuatnya; sebab waktu itu saya pasti membawa berkantung-kantung bahagia, di tangan kanan dan kiri.

Dan hai kamu, iya kamu, terima kasih telah memberi bahagia dengan cara yang sederhana. Terima kasih ;)

Saatnya Pesta Bola

Jelang sore di Kawasan Banten Lama, Minggu dua pekan lalu

Cahaya matahari tak lagi garang. Tak seperti beberapa jam lalu, saat kami, saya dan teman berburu foto yang tampan dan baik hati itu, tiba di reruntuhan keraton Surosawan. Jelang sore, makin banyak penduduk yang masuk ke kawasan keraton ini. Anak-anak berkejaran. Sebagian mengayuh sepeda. Sebagian bertelanjang kaki. Sekelompok anak melempar senyum ramah. Kelompok yang lain menyapa saya. Kami berbagi tawa. Tanpa canggung mereka berpose, dengan bola, dengan teman satu tim, dengan latar reruntuhan benteng. Setelah itu mereka berduyun-duyun pergi. Bergabung dengan yang lain menuju satu titik.

Pusat keramaian itu ternyata tak jauh dari kompleks reruntuhan keraton. Di sebuah lapangan rumput. Tiang bambu yang dibentuk menyerupai pintu, ditaruh di tengah lapangan. Satu per satu anak melewatinya. Yang tak lolos, karena tinggi mereka melebihi pintu tiang bambu itu, menyingkir ke pinggir. Seorang anak tampak mengempiskan perutnya. Berupaya sebisa mungkin agar bisa lolos dari pintu. Tapi … ups, kepalanya terantuk. Semua bersorak. Usaha si anak sia-sia. Ia lepas kostum, memberikannya pada yang lain, dan bergabung dengan anak-anak yang lebih dulu tersingkir.

Sekarang ada dua kelompok di tengah lapangan. Kelompok pertama, dengan kostum kuning terang, tampak menyilaukan. Kelompok kedua tampil dalam balutan kostum warna putih.

Peluit permainan tanda dimulai berbunyi. Seorang anak tampak berjaga-jaga dibawah mistar gawang. Bukan gawang dari besi dengan tali-tali teranyam di belakangnya. Anak itu berdiri di bawah bilah bambu yang disusun menyerupai gawang.

Minimnya kondisi lapangan tak berbanding lurus dengan semangat kedua tim. Bola disepak ke sana, ke mari. Penjaga gawang bersiap. Tendangan-tendangan maut diciptakan pemain cilik. Penonton bersorak, dan bersorak, dan bersorak makin keras saat gol pertama berhasil dicetak tim berkaos putih.

Ah coba lihat itu, si pencetak gol berlari ke pinggir lapangan. Memamerkan tawa lebarnya. Dan teman-teman satu tim langsung datang mengerubutinya. Di pinggir lapangan, seorang bapak tampak mengibarkan bendera tim. Tawanya lepas.

Ayam Cup, begitu tajuk turnamen sepak bola ini. Seorang anak kecil, yang ada di barisan penonton bercerita dengan fasihnya tentang turnamen itu. Darinya juga saya tahu, pemenang pertama Ayam Cup berhak membawa pulang hadiah seekor ayam jago. Pemenang kedua mendapat bola sepak. Seru.

Sepak bola, siapa yang tahan terhadap sihir yang disebar oleh olahraga yang satu ini? Saya sempat berjarak dengannya dan kebingungan setengah mati ketika melihat orang bisa tergila-gila pada satu tim. Bahkan ketika beberapa sahabat di bangku kuliah dengan fasihnya bercerita tentang pemain-pemain bola saya hanya bisa memandang mereka dengan heran. Aneh. Melihat mereka menyengajakan diri bangun di tengah malam dan menyaksikan tim kesayangan mereka berlaga.

Tapi lihat sekarang, setahun belakangan ini saya juga mulai tersihir. Tak fasih sekali memang. Masih kerap tertukar antara nama pemain dengan klub tempat mereka bermain. Masih tergagap-gagap dan hanya sedikit pengetahuan yang saya miliki tentang sepak terjang pemain. Tapi setidaknya, saya sudah mulai bisa menikmati permainan. Sudah merasakan degup jantung berdebar makin kencang saat tim tercinta bermain tak prima. Sesuatu yang tadinya saya pikir aneh justru sekarang sesekali saya lakukan; menyengajakan diri bangun tengah malam dan menonton pertandingan. Ha-ha-ha.

Sepak bola, dengan beragam daya pikatnya, berhasil membius banyak orang. Sepak bola dinikmati di banyak tempat; di kafe-kafe pinggir jalan di Benua Eropa, di kota-kota kecil di Tunisia, di warung rokok pinggir jalan Sudirman-Jakarta, di ruang keluarga rumah-rumah di Iran, sihirnya juga menyusup ke reruntuhan keraton Surosawan, Banten Lama.

Perhelatan Piala Dunia 2006, pesta empat tahunan kali ini juga merupakan bukti nyata; betapa olahraga ini sanggup menyita perhatian miliaran pemirsa, termasuk saya. Apa? Kalian juga? Kalau begitu, apapun tim yang kalian unggulkan, saya dengan senang hati mengucapkan; selamat berpesta :)

Hati Jakarta

Jakarta. Padat. Kendaraan merayap di tiap-tiap ruas jalan. Gedung-gedung tinggi dibangun, berkejaran menggapai langit. Manusia menyemut di pagi dan sore hari. Klakson menyalak. Angkutan umum berhenti sesukanya. Panas menyengat. Debu, asap, terik.

Jakarta adalah ketergesaan. Bagi sebagian besar orang, Jakarta adalah kesempatan. Untuk sebagian yang lainnya, Jakarta bisa jadi adalah ketimpangan. Dan bukan tak mungkin beberapa menganggap kota ini adalah kumpulan mimpi dan rangkuman harap.

Jakarta juga … adalah tubuh.

Ya, tubuh. Seperti yang sehari-hari bergerak bersama kita. Karena serupa dengan tubuh, Jakarta juga memiliki jantung, mata, lengkung alis, hidung, jari tangan, telapak kaki, lutut, kerongkongan, pundak, punggung, kuku, paru-paru, kening juga … hati.

“Kota di mana mimpi, harap, ketergesaan dan ketimpangan ini memiliki hati?” seseorang bertanya diliputi rasa heran yang sangat.

Ya, Jakarta juga memiliki hati. Tempat di mana kalian temukan rasa kasih, kepedulian dan kebaikan.

“Di manakah itu?” seseorang yang lain bertanya dengan nada tak percaya.

Hati Jakarta ini ada di satu tempat. Tak jauh dari tepi Ciliwung, sungai kecoklatan yang mengular. Hati Jakarta ada di Manggarai Utara VI, selatan Jakarta, di sebuah rumah petak dengan Sri Suwarni di dalamnya.

Minggu, 5 Juni yang lalu, saat gelapnya langit menggantikan semburat jingga, dan maghrib datang, perempuan ini didera kejutan, tak lama butiran air matanya jatuh. Di hadapannya, seorang laki-laki berdiri, tangan yang satu menggendong mayat si bungsu. Tangan yang lain menggandeng si sulung.

“Bude, saya mau minta tolong,” laki-laki, si pemulung, ayah dari dua anak itu berkata pelan.

Dan, bagai adegan lambat dalam sebuah penggalan film hitam putih. Laki-laki itu bertutur, tentang muntaber yang menimpa Khaerunisa, si bungsu terkasih. tentang ketidakmampuannya membayar Rp4.000 untuk biaya puskesmas. tentang tubuh kecil yang terpaksa meringkuk di gerobak berukuran 2 meter persegi. tentang Muriski Saleh, sang kakak yang tetap menemani adiknya, melontarkan canda. tapi si bungsu tak kunjung sembuh. empat hari meringkuk di gerobak hingga pukul tujuh pagi di hari minggu itu, ajal datang menjemput gadis mungil ini.

Tidak cukup sampai di situ. Laki-laki itu, Supriono, kembali bertutur. tentang uang yang tersisa di sakunya yang tak sampai Rp10.000. tentang gerobak dengan tubuh gadis kecil terbujur kaku di dalamnya. tentang menyusuri Cikini, Manggarai menuju Stasiun Tebet. tentang kenekatannya hendak membawa mayat si bungsu ke Kampung Kramat, Bogor, menggunakan Kereta Api Listrik. tentang pemeriksaan di kantor polisi Tebet lebih dari empat jam. tentang kamar mayat RSCM dan ia menolak otopsi mayat anaknya. tentang bajaj yang akhirnya mengantarkannya ke Sri Suwarni, pemilik rumah petak yang pernah disewanya beberapa tahun lalu.

Setelah itu, Sri Suwarni pun bergerak seperti Jakarta. Bergegas. Dalam ritme yang cepat. Mengumpulkan tetangga yang lain. Memasang bendera kuning. Membeli kain kafan. Berdoa dan memandikan jasad mungil Khaerunisa. Bersama-sama, mereka antarkan gadis kecil, buah hati Supriono itu, ke tempat peristirahatannya yang terakhir di Blok A6 No.3 Taman Pemakaman Umum Menteng Pulo, keesokan harinya.

Kalau kalian bertanya di mana hati dari kota yang bergegas ini berada. Manggarai Utara VI, selatan Jakarta dan Sri Suwarni, perempuan berusia 40 tahun itu, adalah hati dari kota ini. Di tengah padatnya pemukiman, dalam kepapaan, nurani mereka tidak ikut terpangkas.

Mereka, hati kota sebenarnya.

Tulisan ini untuk Johan Budi SP, terima kasih telah menggugah sisi terdalam di senin pagi saya dengan tulisan yang sangat menyentuh. Derita Supriono, Duka Indonesia, tulisan Johan Budi SP, bisa dibaca di Majalah Berita Mingguan Tempo, edisi 13-19 Juni 2005.