Kembali ke Rumah

Pancur, Taman Nasional Alas Purwo, Sabtu, 27 Mei 2006, sekitar pukul 05.20 bagian barat waktu Indonesia

Tak jauh dari tepi pantai, kesunyian pagi mulai pecah. Saya baru saja menyelesaikan dua rakaat subuh, melongok ke luar tenda, dan melihat beberapa teman sedang menjerang air. Tadinya saya ingin memotret pantai di pagi hari, tapi langit yang mendung membuat saya membatalkannya.

Saya taruh kembali tas kamera. Ikut duduk di depan nyala api dari kompor gas kecil dan membantu teman-teman menyiapkan sarapan pagi. Sebagian yang lain tampak bergegas membereskan kantung tidur.

Ini sudah hari keempat perjalanan kami. Sebelum sampai ke Taman Nasional Alas Purwo, kami -sebelas orang peserta perjalanan- singgah dulu ke kawah Ijen dan Taman Nasional Baluran.

Sabtu pagi ini kami akan berjalan ke Gua Istana, lalu ke Pantai Plengkung. Pukul 3 sore nanti kami sudah harus tiba di Ngagelan, mendirikan tenda, dan bermalam di sana.

Perjalanan ke Gua Istana sangat lancar. Medan tidak curam dan tidak licin, kerimbunan pohon di sana-sini, sesekali menjumpai sungai yang airnya jernih sekali, bertemu ibu babi hutan dan anaknya, juga monyet bermuka putih.

Semua masih tertawa. Sampai, satu pesan pendek masuk ke ponsel seorang teman. Di Taman Nasional Alas Purwo, sinyal operator seluler sangat minim. Jadi, rasanya ajaib saja, mendengar bunyi ponsel saat perjalanan pulang dari Gua Istana, di tengah kerimbunan hutan.

Tapi, mengapa wajahnya tak gembira?

“Merapi meletus,” ujarnya.

Informasi masih simpang siur, sinyal datang dan menghilang. Kegembiraan perjalanan sedikit berkurang.

Berita utuhnya baru kami dapat setelah kembali dari Plengkung. Ajakan dari supir Land Rover untuk singgah di sebuah hotel kecil, tempat para peselancar biasa menginap, membawa berkah. Ada televisi di sana. Berita sekilas yang disiarkan sebuah stasiun televisi swasta memberi gambaran apa yang sebenarnya terjadi di Yogyakarta dan sebagian wilayah lain di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Bukan Merapi yang meletus, tapi gempa bumi dengan kekuatan 5,9 skala richter.

Setelahnya perjalanan masih terus berlanjut. Saya dan teman mencoba menghubungi keluarga dan sahabat. Beberapa rencana seperti menengok penyu bertelur dan melanjutkan perjalanan ke Jember urung dilaksakan. Sungguh, bukan karena perjalanan kali ini tak menarik -pantai biru dengan pasir putih, hijau daun, biru langit, ratusan bintang yang bisa dilihat dengan mata telanjang, debur ombak- tapi rasanya saya dan beberapa teman ingin segera sampai di rumah.

***

Stasiun Gambir, Senin 29 Mei 2006, sekitar pukul 18.00 bagian barat waktu Indonesia

Saya baru saja turun dari kereta api. Berdua dengan seorang teman. Berjalan di tengah kerumunan penumpang lain. Berdiri di dekat pintu keluar. Tak lama menunggu, saya temukan sosoknya. Ia, laki-laki harum hutan itu, berjalan menenteng botol air mineral kecil, tampak lebih rapi dengan kemeja lengan pendek kotak-kotak biru. Malam ini, ia meluangkan waktu untuk menjemput saya di stasiun.

Setelah mengantar teman perjalanan saya sampai ke kostnya, laki-laki harum hutan tidak langsung mengantar saya pulang. Kami makan malam, lalu mampir ke taman kota sebentar. Setelahnya baru ia mengantar saya pulang.

Saya melihat rumah kuning itu lagi. Suara Ma’e langsung terdengar. Bergegas Ma’e ke luar. Wajah kakak saya menyembul, hanya sebentar, setelahnya kembali asyik melanjutkan games di komputer.

Laki-laki harum hutan. Perjalanan antara stasiun hingga rumah. Rumah kuning itu lagi. Ma’e. Kakak saya. Saya selalu merasakan rasa bahagia yang menyusup tiap kali pulang dari perjalanan dan melihat rumah. Tapi malam itu, rasa bahagia yang saya rasakan sepertinya jauh lebih dalam. Senang rasanya bisa kembali ke rumah.

Kesenangan yang malam itu saya rasakan tidak dicecap oleh para korban gempa. Banyak dari mereka yang berpisah dengan orang yang dicintai dan melihat kampung halaman porak poranda. Banyak dari mereka untuk sementara tidak bisa kembali ke rumah. Teriring doa untuk semua korban; semoga diberi kekuatan dan kesabaran.

Informasi tentang gempa yogyakarta bisa dilihat di MediaCenter, HelpJogja, dan Commonroom Networks dan Aksi Blogger Indonesia Untuk Jogja.

Padanan Kecupmu

Rasanya seperti ada di hutan pinus yang luas. Dan harumnya memenuhi rongga dada. Ya, harum pinus itu. Angin bertiup dan pucuk-pucuk pinus perlahan terangguk-angguk.

Atau seperti hangat selimut yang baru dicuci. Diambil keluar dari lemari. Dan menghalau dingin di sepertiga malam. Lembut dan harum. Harum yang lembut. Lembut yang harum.

Mmm … mungkin seperti menghisap dalam-dalam aroma hujan sore hari. Saat ratusan bahkan ribuan titik-titik jarum membuat basah jalan aspal di ujung gang. Kau tahu, kadang-kadang sempat muncul dalam pikirku; andai saja aroma hujan sore hari bisa disimpan di dalam botol

Bisa jadi seperti langit biru bersih pukul sepuluh pagi. Awan pergi sejenak entah ke mana. Langit tanpa batas. Dan sinar matahari hangat. Pagi yang sempurna

Rasanya, seperti, es krim coklat di kafe yang namanya mirip menara miring di Italia itu. Es krim coklat yang manis. Manis. Manis. Disajikan dalam gelas panjang bening, lengkap dengan wafer stik panjang yang juga berlumur coklat.

Atau percikan air terjun yang terbawa angin. Dan sedikit membasahi wajah. Segar.

Atau seperti membaca puisi yang bagus. Puisi Pacar Senja milik Joko Pinurbo misalnya. Kau tahu, begitu rampung membaca puisi yang bagus, selalu muncul perasaan gembira yang unik. Perasaan tenang yang lain.

Atau seperti melihat bunga matahari yang besar. Tersenyum. Berkelompok di dalam kebun. Kelopaknya seolah sedang tertegun; memandang ke arah datangnya sinar matahari.

Ah, aku tahu. Rasanya seperti … ketika Sol Campbell mencetak gol pada menit ke tigapuluhtujuh di pertandingan final Liga Champions antara Barcelona melawan Arsenal. Kau tahu, dini hari itu aku gembira sejenak; melonjak-lonjak kegirangan (yayaya; walaupun akhirnya Barcelona tak henti-hentinya menyerang dan Arsenal urung menjadi juara). Mungkin seperti itu ya, gembira sejenak.

Atau mungkin seperti tegukan terakhir Ovaltine panas yang dinikmati di warung kecil depan Taman Ismail Marzuki. Saat malam sudah mulai tua, warung kecil, dan bangku kayu itu, dan segelas Ovaltine panas membawa rasa nyaman yang sederhana.

Atau seperti …

Apa lagi ya?

Aku kehabisan kata. Gagal sudah usahaku untuk mencoba mencari padanan kecupanmu. Rasanya sudah ku keluarkan semua. Harum hutan pinus, hangat selimut yang baru dicuci, aroma hujan sore hari, langit biru bersih, es krim coklat, percikan air terjun, puisi yang bagus, bunga matahari besar, gembira sejenak setelah gol Sol Campbell, tegukan terakhir Ovaltine panas

Atau belum semua

Atau kau bisa membantuku mencari padanannya.

Atau memang tak ada, ya, mungkin tak ada pemadan yang sama dengan kecupmu.

Bisa jadi memang tak ada rasa yang pas untuk menjabarkan seperti apa kecupmu. Kecupan kala bulan bundar. Ketika malam sejenak kalem. Tenang. Sangat tenang.

Mengutip dan Dikutip

Saya akan mengajak kalian bermain. Saya harap kalian mau bergabung. Undangan bermain ini terbuka untuk siapa pun. Tidak sulit kok. Saya hanya minta kalian untuk mencari perbedaan di antara dua tulisan yang saya sodorkan.

Sudah siap? Mari kita mulai.

Ini yang pertama

Coba kalian bandingkan tulisan pertama dan tulisan kedua.

Sudah selesai?

Ada perbedaan yang kalian temukan? Apa?

Beberapa tulisan dalam dialog itu berbeda. Tapi saya masih mencium nafas tulisan yang sama. Selebihnya semua sama. Dari huruf yang tercetak miring, penggunaan huruf kapital dan huruf kecil, hingga tanda baca. Persis. Mirip. Serupa.

Tulisan pertama itu lahir dari tangan saya. Saya ingat betul, tulisan itu terinspirasi oleh rasa ingin tahu ibu saya yang besar terhadap perangkat digital. Tulisan kedua? Sayang, saya tidak tahu latar belakang penulisnya, jadi saya tidak bisa bertanya, bagaimana ia bisa memiliki pengalaman serupa dengan saya, dan menuangkan perasaaannya senada dengan tulisan saya.

Kita lanjut ke tulisan kedua.

Perhatikan tulisan yang ini dengan tulisan yang itu.

Kalian temukan perbedaannya? Saya juga. Judulnya kini sudah berbeda, selebihnya masih sama. tulisan yang ini saya buat setelah dari perjalanan sepulang dari kantor, antara Karet sampai Slipi. Tulisan yang itu, bisa jadi juga terinspirasi dari perjalanan dengan rute yang sama yang dilakukan oleh si pembuat tulisan Jawaban Atas Pertanyaanmu.

Permainan belum selesai. Sekarang bandingkan ini dengan ini.

Dan ini dengan itu

ini lagi dengan itu lagi

hujan kecupan yang ini dengan Hujan Kecupan yang itu

Berlaku sama kah versi neenoy dan Berlaku sama kah yang itu.

Ah, mungkin pemilik halaman tetangga itu hanya alpa menyebutkan sumbernya. Hanya itu. Jadi, permainan ini saya sudahi di sini dulu ya. Saya haus. Kalian juga? Minum jus apel dingin di sore hari yang sedikit panas ini rasanya menyenangkan ya. Terima kasih loh sudah mau ikut bermain.

(Saya tahu internet adalah dunia tanpa batas, tanpa sekat, tanpa pintu, dan saya lupa mencantumkan pernyataan bahwa segala sesuatu yang ada di halaman ini, negeri-senja dot com, adalah murni buah pikir saya. Maka sejak saat ini, saya nyatakan setiap kutipan, s-e-t-i-a-p k-u-t-i-p-a-n, yang diambil dari halaman ini harus dilakukan dengan menyebutkan bahwa kutipan itu berasal dari halaman putih ini, b-e-r-a-s-a-l d-a-r-i h-a-l-a-m-a-n i-n-i. Hal serupa juga akan saya terus lakukan; setiap kali saya mengutip tulisan dari tempat lain, saya akan memberikan keterangan dari sumber mana tulisan tersebut berasal. Internet, meski tanpa batas, bukan satu tempat yang membebaskan Anda dari sebuah kewajiban; menghargai karya orang lain. )