Cerita Tentang Tujuh Hari yang Dahsyat

Iya
Ini cerita tentang tujuh hari yang dahsyat
Dahsyat?
Iya, dahsyat, menyenangkan, seru, keren
Dan saya kebingungan memulai cerita, tentang tujuh hari yang dahsyat. Enaknya dimulai dari mana?
Mmmm… sebentar
Bagaimana kalau dari siang yang cerah di Bandara Soekarno-Hatta. Meski pagi harinya masih ada beberapa urusan yang harus diselesaikan, saya bisa sampai tepat waktu di bandara. Senangnya :)

Dan hap hap hap;

Menyapa teman satu perjalanan, check-in, membayar fiskal, melewati meja imigrasi (bapak berkumis yang tersenyum masam, dengan latar suara stempel yang dicapkan ke paspor), menunggu sejenak, melihat dua teman perjalanan yang lainnya lagi. Tertawa. Bercerita.

Dan hap hap hap;

Masuk pesawat menuju Singapura. Tiba dengan selamat. Memanfaatkan satu jam waktu transit dengan …
memotret bunga matahari di Sunflower Garden. Memotret dan bunga matahari. Senangnya :) Saya suka suka suka suka sekali bunga matahari.

Dan hap hap hap;

Menuju pesawat berikutnya. Wow, ramai sekali. Penumpang berbicara dalam bahasa yang tidak saya mengerti. Riuh. Sesekali mereka tergelak. Dan … berteriak. Ya, berbicara dengan suara yang keras. Berteriak. Satu dua penumpang memanggil teman mereka yang terpaut beberapa kursi. Penerbangan paling ramai yang pernah saya rasakan. Dahsyat ;)

Dan hap hap hap;

Lima jam kemudian, menjelang tengah malam, sampailah kami, saya dan dua orang jurnalis lain, serta satu orang dari perwakilan vendor ponsel yang mengundang ke Chongqing, kota di barat daya China.

Dan hap hap hap;

Ayo segera tidur, besok perjalanan pasti akan lebih dahsyat. Dan … benar kan? Pagi hari, Chongqing mulai menggeliat. Tapi di mana matahari? Tak ada :D. Kota dipenuhi kabut. Udara sedikit dingin.

Ada apa saja di Chongqing?

Toko bunga di sepanjang jalan tak jauh dari hotel. Gedung-gedung tinggi dengan baliho beraksara China. Orang-orang lalu lalang. Gereja tua dengan suster yang mencoba menjelaskan dalam bahasa Inggris. Restoran Hot Pot, masakan pedas yang disajikan dalam wadah di meja berlubang, lengkap dengan kompor kecil yang menjaga makanan tetap hangat (mmm bukan hangat, tapi panas :D). Berjalan-jalan di kota tua sekitar 35 menit dari pusat kota. Jembatan dengan pilar-pilar tinggi. Menyusuri Sungai Yangtze di malam hari. Kesulitan berkomunikasi dan lebih sering menggunakan bahasa isyarat (karena saya tak paham bahasa China dan mereka tak bisa berbahasa Indonesia, sedikit sekali orang yang mengerti bahasa Inggris). Masuk ke pasar tradisional di kawasan Chao Tian Men. Menawar harga dengan kalkulator. Makan siang di tempat yang pemiliknya tak bisa berbahasa Inggris dan tak ada menu dalam bahasa Inggris. (tahu apa yang mereka lakukan? pemilik restoran ini menelepon seseorang, lalu menyodorkan ponselnya, kami berbicara dengan seseorang itu, lalu seseorang itu berbicara dan menyampaikan pesanan kami pada si pemilik restoran. hahahhaha). Bertemu dengan seorang anggota sebuah komunitas fotografi, wajahnya terlihat sangat sangat gembira (“kangen ngobrol pakai bahasa Indonesia, untung kalian ke sini,” ujarnya seraya tersenyum).

Dan hap hap hap;

Sabtu dini hari, mata masih mengantuk, tapi sudah harus ke Chongqing Jiangbei International Airport. Lagi-lagi penerbangan yang ramai. Riuh. Senangnya :D. Sampai Singapura sekitar pukul 8 pagi. Berpisah dengan tiga teman perjalanan (mereka melanjutkan penerbangan ke Jakarta). Saya? Saya langsung menuju kediaman ibu ini.

Dan hap hap hap;

Perempuan cerdas yang cekatan ini masih sama hangatnya . Dua buah hatinya juga masih sama menyenangkannya. Ini kali kedua saya merepotkan mereka (terima kasih banyak ya Mbak Dew ;), terima kasih banyak untuk akhir pekan yang seru, untuk Ice Age 2-nya, untuk cerita yang inspiratif, untuk semua)

Dan hap hap hap;

Terlambat bangun (duh, tamu yang satu ini tak sopan sekali ya. hahahha) Berjalan sendiri, sedikit memotret di kawasan Esplanade, City Hall, menyusuri sungai antara Merlion Park hingga Clarke Quay, naik MRT ke Bugis, dan bersemangat memotret anak-anak yang bermain air mancur di Bugis Junction. Awalnya sendiri saja, memilih tempat di ujung, mengganti lensa wide dengan lensa tele. Tak lama, datang dua fotografer lagi, dan lagi, tersenyum satu sama lain, dan larut dalam kegembiraan yang tercipta dari gelak tawa anak-anak di depan kami. Senangnya :). Dahsyat.

Dan hap hap hap;

Kembali lagi ke Jakarta, siang tadi. Kembali ke kantor dan disambut dengan ejekan redaktur karena tak kunjung usai menulis satu berita. Hahahaha. Dan, tujuh hari yang dahsyat rupanya masih berlanjut; menonton film Berbagi Suami, dengan teman yang senyumnya adalah sumber rasa nyaman, yang gelaknya adalah derai terbaik yang pernah hinggap di indera dengar saya, yang harum hutannya belakangan saya rindukan ;)

ps : foto Chongqing menyusul ya, saya masih harus mencuci film, mencetaknya, menscan, baru mengupload. awas kalau kalian bereaksi; “hari gini masih pakai film?” hahahahaaha.

32 thoughts on “Cerita Tentang Tujuh Hari yang Dahsyat

  1. hup.. hup hup hup…
    atta udah pulang

    hup hup hup…
    bawa oleh2 cerita…

    hup hup hup…
    di tambah oleh2 gambar

    hup hup hup….
    slamat datang lagi…….

  2. ketemu jawabnya kenapa sms sayah not sent… dan gak ada yang baru di blogs ini.. ternyata eh ternyata… siempunya hap hap.. dahsyat lah… (“,)

  3. aduhh ta, sorry…kali ini kita gag jodoh yah. saya terima missed called tapi nomornya private, jadi gag tau harus telepon kemana?

    pas kamu telepon pas saya lagi digereja misa, jadi hp nya silent. duhh sorry banget, padahal saya pengen ketemu. tapi gag pa pa lah yah ta…singapore indo dekat…semoga lain kali kita berjodoh.

    duhh baca ceritanya..hup huppp *jadi inget kancil yang lumpat2* hahahaha. hope you have a greatzzzz timeeee

  4. ta, kayaknya saya harus ngelamar ke kantormu deh. cita-cita saya dulu memang jadi wartawan. tapi ada niat busuk di dalamnya, yaitu jalan-jalan gratis ke luar negeri. kasi tau ya kalo di sana butuh satu wartawan yang doyan jalan-jalan gratis lagi. :P

  5. hihihihi….asyik banget baca dan hap hap hap-nya.
    asyik bener, dapat tugas ke luar negeri. selama saya jadi wartawan, blm pernah tugas ke luar negeri. ya, maklum, wartawan koran daerah …. hiks. someday, maybe….amin……

    ta, aku masih penasaran, ente tuh wartawan di media opo, to? bisa sih tanya indi, tapi kan lebih baik tanya sama orangnya langsung….hehehehehehe

  6. Hup hup.. jreeng dan gedubrak…:) mungkin begitulah beberapa suara action lainya.. Atta, memang idup banget dalam nge-gambarin aksi-nya..

    Neng, fotonya mana? soal filem, mah..kalau si idung pesek nggak komplain dgn gedenya biaya cuci-cetak, mah gua nggakpindah ke lain hati [ke digital]..

    Ohya, kayaknya diriku akan transfer tugas, either ke India, Afghanistan, atau mungkin Sudan.., tauk deh tunggu SK-nya keluar dulu..udah bosen di Liberia nih! ;)

    Sun heboh dari Monrovia..

  7. tempo hari liat foto ‘loncat nak’ jadi pengen ikut loncat..sekarang baca hap-hap-hap jadi pengen ikut lompat2 juga :D
    artinya dirimu mem-picture-kan dan menuliskan cerita dengan sgt bagus..

    ditunggu foto hap-hap-hap-nya :)

  8. waaaa, mba atta, aku juga pengen ikutan …
    lain kali kalo ada tugas lagi, ngobrol2 yah … aku mendaftarkan diri jadi penyelundup kecil … karena tubuhku kecil, jadi kan bisa dilipat2 & dimasukkan ke tas … :P …

    ditunggu foto2nya yah …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *