Menghabiskan Sore Bersama “Suami”

Awalnya saya sudah berniat untuk melewatkan pameran ini. Pengeluaran bulan ini rasanya sudah melebihi ambang batas. Tapi pesan pendek dari seorang teman akhirnya menjebol pertahanan saya.

Selesai memotret pawai budaya dan demo menolak Rancangan Undang-Undang Pornografi dan Pornoaksi sepanjang Monas dan Bundaran Hotel Indonesia, saya langsung ke Jakarta Convention Centre. Saya tiba lebih dulu. Teman saya, yang tinggal di luar kota, masih berkutat dengan kemacetan di sepanjang tol cawang.

Segera setelah ia datang, kami mulai penjelajahan sore itu. Ruang pameran sudah dipadati pengunjung. Selasar penuh dengan orang-orang yang bergerak perlahan. Sesekali mereka berhenti untuk melihat produk kerajinan yang dipamerkan. Saya dan teman saya beriringan dari satu gerai ke gerai lain.

Di tengah keramaian, mata saya menemukan sosok reporter senior, teman kerja di kantor, yang sedang mengunjungi pameran bersama istrinya.

“Wah, banyak belinya, buat persiapan ya?,” tanyanya, seraya tersenyum, pada saya dan teman saya.

Saat itu saya membawa kotak besar warna coklat dengan aksen jalinan eceng gondok yang sudah dikeringkan. Sementara teman saya menenteng dua lampu dari rangkaian bambu.

Persiapan? persiapan apaan?, ganti saya yang terbengong-bengong. Oalah, salah terka nih.

Reporter senior tadi mengawali beberapa adegan salah terka berikutnya. Adegan salah terka yang membumbui perjalanan saya dan teman saya sore itu.

Di depan gerai pernak-pernik misalnya. Ketika teman saya menunjuk ke arah tempat lilin dari bahan batu, saya masih sibuk melihat barang yang lain. Tiba-tiba seorang bapak penjaga stan menjawil tangan saya.

“Mbak, itu loh suami mbak minta mbak lihat tempat lilin,” kata bapak penjaga gerai.

Tempat lilin, oh yayaya, tapi … suami?

Saya tersenyum lebar. Teman saya, “suami” saya sore itu menahan geli.

Tempat lilin dari batu tadi ternyata lumayan berat. Bentuknya bermacam-macam; bulat, kotak memanjang, kotak tidak memanjang. Lucu-lucu.

“Kalau mbak sama suaminya berantem, jangan deket-deket tempat lilin ini, bisa-bisa jadi senjata buat nimpuk suaminya nanti,” ujar penjaga gerai tadi

Saya tergelak. Teman saya sudah tak menaruh pandang pada tempat lilin batu tadi dan sudah beralih menengok produk lainnya.

Di gerai aksesoris buatan (di sini ada anggur palsu, roti palsu, cabe palsu, apel palsu, sepertinya semua barang yang dijajakan palsu, hanya penjualnya saja yang asli), teman saya membeli beberapa produk.

Dan eng ing eng ibu penjaga gerai menyerahkan uang kembalian ke saya. Loh, kok ke saya? Wah, Ibu ini bisa jadi mengira laki-laki yang sedang sibuk memegang-megang apel palsu itu pasangan saya. Saya akhirnya menerima uang itu (dan meneruskannya ke teman saya dong :D)

Kami masih menemui adegan salah terka itu di gerai batik dari Pekalongan. Saat teman saya sibuk mencoba beberapa kemeja, saya bercakap-cakap dengan penjaga gerai dengan menggunakan bahasa Jawa.

– Saking pundi to mbak?, tanya si penjaga stan- (asalnya dari mana sih mbak?)
+ Jakarta Pak+
– Loh kok saget bahasa Jawa- (loh, kok bisa berbahasa Jawa?)
+ Nek ngoko fasih Pak, nek kromo mboten saget+ (kalau bahasa Jawa ngoko saya bisa Pak, kalau bahasa Jawa kromo saya tidak bisa)

Teman saya yang fasih berbahasa Sunda tapi tidak mengerti bahasa Jawa hanya mengangguk-angguk sambil senyum-senyum.

“Nggih, nggih,” katanya sambil tetap mencoba kemeja (iya, iya)

Penjaga gerai kembali meneruskan obrolan dengan saya.

– Lah mas e niku mboten saget ngomong Jawa, ndak bisa bahasa Jawa to?- (lah masnya itu -teman saya maksudnya- tidak bisa berbahasa Jawa ya?)
+ Mboten Pak, jawab saya+
-Lah kalau dibawa ke Jawa nanti gimana Masnya, bengong aja no-

Saya tertawa sambil membuat gerakan “tidak” dengan melambaikan tangan (maksudnya hendak berkata “ia bukan suami saya Pak”). Usaha yang gagal, karena si Bapak justru berkata: “Pripun to Mbak, suami kok ndak pernah dibawa ke Jawa, apa ndak pernah nengok keluarga?

Jeger ….

Duh, salah terka ini rupanya masih berlanjut. Padahal sepanjang sore itu saya dan teman saya sama sekali tidak menunjukkan keintiman. Kami berjalan sendiri-sendiri dan sibuk dengan barang bawaan masing-masing. Tapi yo wis lah, piye meneh :D. (ya sudahlah, mau bagaimana lagi?)

Akhirnya acara putar-putar di pameran kami akhiri, setelah kaki pegal-pegal dan perut terasa keroncongan. Rampung makan malam, saya mengantar “suami” sampai ke jalan besar, tak jauh dari Jakarta Convention Centre. Dan setelah ia pulang, saya resmi menjadi lajang kembali. Ha-ha-ha.

Kuntum Apik

Dipotret di Taman Anggrek, Taman Mini Indonesia Indah. Di Senin yang sedikit mendung. Waktu itu, Taman Anggrek sebenarnya bukan tujuan utama kami, saya dan seorang teman kelas foto, tapi karena hari Senin ternyata Taman Mini Indonesia tidak beroperasi, kami akhirnya berburu gambar di Taman Anggrek.

Ini potret pertama yang saya hasilkan dengan lensa tele. Waktu anggrek ini diabadikan saya belum memiliki lensa panjang sendiri, jadi foto ini diambil dengan lensa panjang pinjaman milik teman hunting saya yang baik hati dan ramah tadi. Setelah sekuat tenaga menabung, bulan kemarin saya akhirnya berhasil membeli lensa panjang sendiri ;)

Memotret dengan lensa tele ternyata sulit sekali. Rasanya jendela bidik di kamera bergoyang-goyang terus. Jadi, dari beberapa rol film yang saya habiskan, hasilnya hanya foto ini yang layak tampil :D

Masih harus terus berlatih. Setelah ini, mudah-mudahan lengan saya semakin kuat menahan beban. Setelah ini semoga makin banyak kuntum apik lain yang bisa dihasilkan.

keterangan foto
kamera : Nikon F80D
lensa : Tamron 70-300 f4-5,6 LD
film : Fuji ProPlus asa 100
diafragma : 5,6
kecepatan : tak tercatat

Cerita Tentang Tujuh Hari yang Dahsyat

Iya
Ini cerita tentang tujuh hari yang dahsyat
Dahsyat?
Iya, dahsyat, menyenangkan, seru, keren
Dan saya kebingungan memulai cerita, tentang tujuh hari yang dahsyat. Enaknya dimulai dari mana?
Mmmm… sebentar
Bagaimana kalau dari siang yang cerah di Bandara Soekarno-Hatta. Meski pagi harinya masih ada beberapa urusan yang harus diselesaikan, saya bisa sampai tepat waktu di bandara. Senangnya :)

Dan hap hap hap;

Menyapa teman satu perjalanan, check-in, membayar fiskal, melewati meja imigrasi (bapak berkumis yang tersenyum masam, dengan latar suara stempel yang dicapkan ke paspor), menunggu sejenak, melihat dua teman perjalanan yang lainnya lagi. Tertawa. Bercerita.

Dan hap hap hap;

Masuk pesawat menuju Singapura. Tiba dengan selamat. Memanfaatkan satu jam waktu transit dengan …
memotret bunga matahari di Sunflower Garden. Memotret dan bunga matahari. Senangnya :) Saya suka suka suka suka sekali bunga matahari.

Dan hap hap hap;

Menuju pesawat berikutnya. Wow, ramai sekali. Penumpang berbicara dalam bahasa yang tidak saya mengerti. Riuh. Sesekali mereka tergelak. Dan … berteriak. Ya, berbicara dengan suara yang keras. Berteriak. Satu dua penumpang memanggil teman mereka yang terpaut beberapa kursi. Penerbangan paling ramai yang pernah saya rasakan. Dahsyat ;)

Dan hap hap hap;

Lima jam kemudian, menjelang tengah malam, sampailah kami, saya dan dua orang jurnalis lain, serta satu orang dari perwakilan vendor ponsel yang mengundang ke Chongqing, kota di barat daya China.

Dan hap hap hap;

Ayo segera tidur, besok perjalanan pasti akan lebih dahsyat. Dan … benar kan? Pagi hari, Chongqing mulai menggeliat. Tapi di mana matahari? Tak ada :D. Kota dipenuhi kabut. Udara sedikit dingin.

Ada apa saja di Chongqing?

Toko bunga di sepanjang jalan tak jauh dari hotel. Gedung-gedung tinggi dengan baliho beraksara China. Orang-orang lalu lalang. Gereja tua dengan suster yang mencoba menjelaskan dalam bahasa Inggris. Restoran Hot Pot, masakan pedas yang disajikan dalam wadah di meja berlubang, lengkap dengan kompor kecil yang menjaga makanan tetap hangat (mmm bukan hangat, tapi panas :D). Berjalan-jalan di kota tua sekitar 35 menit dari pusat kota. Jembatan dengan pilar-pilar tinggi. Menyusuri Sungai Yangtze di malam hari. Kesulitan berkomunikasi dan lebih sering menggunakan bahasa isyarat (karena saya tak paham bahasa China dan mereka tak bisa berbahasa Indonesia, sedikit sekali orang yang mengerti bahasa Inggris). Masuk ke pasar tradisional di kawasan Chao Tian Men. Menawar harga dengan kalkulator. Makan siang di tempat yang pemiliknya tak bisa berbahasa Inggris dan tak ada menu dalam bahasa Inggris. (tahu apa yang mereka lakukan? pemilik restoran ini menelepon seseorang, lalu menyodorkan ponselnya, kami berbicara dengan seseorang itu, lalu seseorang itu berbicara dan menyampaikan pesanan kami pada si pemilik restoran. hahahhaha). Bertemu dengan seorang anggota sebuah komunitas fotografi, wajahnya terlihat sangat sangat gembira (“kangen ngobrol pakai bahasa Indonesia, untung kalian ke sini,” ujarnya seraya tersenyum).

Dan hap hap hap;

Sabtu dini hari, mata masih mengantuk, tapi sudah harus ke Chongqing Jiangbei International Airport. Lagi-lagi penerbangan yang ramai. Riuh. Senangnya :D. Sampai Singapura sekitar pukul 8 pagi. Berpisah dengan tiga teman perjalanan (mereka melanjutkan penerbangan ke Jakarta). Saya? Saya langsung menuju kediaman ibu ini.

Dan hap hap hap;

Perempuan cerdas yang cekatan ini masih sama hangatnya . Dua buah hatinya juga masih sama menyenangkannya. Ini kali kedua saya merepotkan mereka (terima kasih banyak ya Mbak Dew ;), terima kasih banyak untuk akhir pekan yang seru, untuk Ice Age 2-nya, untuk cerita yang inspiratif, untuk semua)

Dan hap hap hap;

Terlambat bangun (duh, tamu yang satu ini tak sopan sekali ya. hahahha) Berjalan sendiri, sedikit memotret di kawasan Esplanade, City Hall, menyusuri sungai antara Merlion Park hingga Clarke Quay, naik MRT ke Bugis, dan bersemangat memotret anak-anak yang bermain air mancur di Bugis Junction. Awalnya sendiri saja, memilih tempat di ujung, mengganti lensa wide dengan lensa tele. Tak lama, datang dua fotografer lagi, dan lagi, tersenyum satu sama lain, dan larut dalam kegembiraan yang tercipta dari gelak tawa anak-anak di depan kami. Senangnya :). Dahsyat.

Dan hap hap hap;

Kembali lagi ke Jakarta, siang tadi. Kembali ke kantor dan disambut dengan ejekan redaktur karena tak kunjung usai menulis satu berita. Hahahaha. Dan, tujuh hari yang dahsyat rupanya masih berlanjut; menonton film Berbagi Suami, dengan teman yang senyumnya adalah sumber rasa nyaman, yang gelaknya adalah derai terbaik yang pernah hinggap di indera dengar saya, yang harum hutannya belakangan saya rindukan ;)

ps : foto Chongqing menyusul ya, saya masih harus mencuci film, mencetaknya, menscan, baru mengupload. awas kalau kalian bereaksi; “hari gini masih pakai film?” hahahahaaha.