Februari Yang Bergegas

Februari. Bulan sarat hujan. Bulan di mana titik-titik air begitu bersemangat memainkan simfoni. Duapuluhdelapan hari yang basah.

Februari. Bulan kedua di mana langit jingga jarang sekali muncul. Barat langit sore hari lebih didominasi oleh langit abuabu gelap. Duapuluhdelapan hari yang bercengkerama dengan mendung.

Februari. Bulan kedua tahun ini, untuk saya, adalah Februari yang bergegas. Ada apa sajakah?

Hunting foto setiap pekan, untuk memenuhi tugas akhir kelas yang saya ikuti sejak awal Januari lalu. Dua tenggat pekerjaan yang memerlukan sedikit keahlian untuk mengutak-atik jadwal agar tidak berbenturan dengan yang lain. Bertemu satu, dua komunitas baru yang menyenangkan. Bolos di hari Senin -ehm; sebenarnya “bolos” bukan terminologi yang tepat. Bagaimana kalau menggunakan istilah “menukar hari libur” saja?- Karena hari Minggu sudah saya habiskan di kantor, saya berhak menggunakan hari Senin untuk pergi sejauh mungkin dari kantor :D. Gagal bersenang-senang di hari Senin karena Taman Mini Indonesia Indah (TMII) ternyata tutup. Tapi tak apa, sudah terlalu banyak mendung di Februari, jangan lagi ditambah dengan raut muka yang masam. Jadi, lokasi bersenang-senang pindah ke tetangga TMII; mari langkahkan kaki menuju taman anggrek, rumah bagi puluhan anggrek-anggrek cantik dengan nama yang sulit dihafal. Anggrek putih, kuning berbintik-bintik merah, ungu. Memotret kuntum-kuntum yang apik dengan lensa tele; senang sekali ;)

Di Februari yang bergegas juga ada batuk. Uhuk-Uhuk. Tak nyaman rasanya. Tenggorokan gatal. Bibir kering. Demam. Kepala pusing. Tapi sudah terlalu banyak langit gelap di Februari, jadi jangan lagi ditambah dengan suasana hati yang muram hanya karena batuk uhuk-uhuk itu. Nikmati saja. Seperti menikmati semangkuk mie dengan kuah yang disantap saat masih hangat, dan segelas coklat panas, dan teman berbagi tutur yang mengagumkan, di warung pinggir jalan di Kuningan. Seperti menikmati sepiring toge goreng menjelang sore, ditemani petir-petir dan laki-laki harum hutan -yang begitu bersemangat hendak membidik petir dengan kameranya :D- Seperti menikmati Jakarta selepas tengah malam, jalan yang lengang, lampu-lampu merkuri, dan bias-bias sinar yang menerobos di antara gerimis.

Februari; bulan sarat hujan, dan bergegas.

Sudah tanggal berapa sekarang? tujuh Maret. Sepekan sudah tinggalkan Februari. Mmm … tujuh Maret ya? Belum terlambat rasanya untuk menyambut bulan ketiga ini dengan lebih bersemangat. Cari waktu yang paling baik, arahkan kepala ke atas, tatap langit, lalu ucapkan dengan intonasi yang mantap: “selamat datang Maret” Semoga bulan ketiga ini tidak lagi bergegas seperti bulan sebelumnya. Semoga Maret bertabur bahagia, untuk saya, untuk kamu, untuk kita, untuk semua.

25 thoughts on “Februari Yang Bergegas

  1. yippy! first commentator neh ;)
    …duapuluhdelapan hari yg basah. Basah yg meninggalkan sejuk. Sejuk yg smoga senantiasa lekat…

  2. bulan februari, bulan yg singkat, bulan yg menyenangkan. karena ga terasa, tabungan kembali tebal … hekekeke …
    selamat bulan maret, mba atta …

    udah sembuh uhuk-uhuknya???
    salam buat laki-laki harum hutan … ^_^ … *penasaran*

  3. betul kata reena. bulan februari yang cuma 28 hari, membuat kita lebih irit biaya 3 hari ;) bahkan menjelang 10 hari di bulan berikutnya, masih ada recehan yang bisa dirogoh di dompet.

    tta…. kapan2 hunting poto gue dong… kan gak repot huntingnya.. ga kaya taman mini, my door is always opened for you, hahahaha..

  4. sependek atau sepanjang apa, 12 bulan dalam setiap tahun pasti akan menyisakan banyak cerita, banyak kegembiraan maupun kesedihan… Tidak hanya awal tahun atau akhir tahun selalu dialami dengan gegap gempita… Demikian pula setiap awal dan akhir bulan buat saya…
    Horeeeeee!!! Punya duit… punya duit… punya duit…

    Hihihihi! :)
    enjoy your march

  5. yup.. Februari bulan yang bergegas….. tanpa basa basi tiba2 kita sudah berada di Maret…

    saking cepatnya sampai2 banyak hal yang tidak sempat di ceritakan… tapi sesudah masuk di Maret dan mengingat tentang Februari yang bergegas ..
    ternyata banyak sekali yang sudah dikerjakan bahkan lebih banyak dari Januari yang terasa panjang……

    yup.. Februari bulan yang bergegas….. tanpa basa basi tiba2 kita sudah berada di Maret…

  6. Atta, senang baca blog-mu. Inspiring. Salam kenal, ya.
    Kapan foto anggreknya diposting?
    Februari ya, Februari bulan ultah saya.
    Beberapa tahun ini tak lagi dinanti dengan riang,
    meski tetap ada setangkup syukur.
    Kenapa capaian saya baru segini ya, dan udah ultah lagi???
    Hhh! :-(
    Sekarang dah Maret kan, boleh manyun dikit? :-)

  7. Toh, muncul juga kegagapan di antara berjuta naluri yang tertib memilin hari. Mencemaskan. Hari-hari mereka kian pelit berbagi kasih. Sayang, sulit mencari yang tulus mengasihi diri sendiri. Ach!

  8. Toh, muncul juga kejujuran di antara berjuta naluri yang tertib memilin hari. Mencenungkan. Hari-hari bertambah semrawut, ruwet, misteri. Entah, nilai kasih tak lagi sekadar dikalkulasi. Senyatanya, bagai barang dagangan yang diyakini sarat estetika bila diselewengkan. Nah! Salam, Atta!

  9. semoga perjalanan waktu tidak meninggalkan rugi dan sia-sia, selamat datang maret semoga lebih baik, dan april… semoga capat berujung, karena akan ada kebahagiaan disana, yo rak mbak atta :)

  10. yah sama.. tanpa terasa skr sudah 10 maret.. padahal rasanya baru saja melewati pergantian tahun..
    tetap semangat! jelang hari esok yg lebih baik ;)

  11. lho, udah ada postingan baru ternyata
    maret adalah bulan ketiga….
    lalu hadirlah april, mei, juni dan seterusnya…..

    hehehehehe……

    hasil jepretannya mbok ya diposting!
    btw, sebenarnya pingin belajar foto lagi. tapi kok ya malas hunting foto yak? sekalinya ada acara bagus dimana banyak bertaburan objek menarik sekalian melepas penat kerja, eh…pas hari H acara malah dapat tugas liputan….hiks

  12. ..ketik februari datang, aku teringat dengan perempuan yang memburu hujan, di hutan, di pantai, di gunung, di rimba kota. dan dia selalu datang padaku saat tanah terang pertama, mengetuk jendela kamarku, “bolehkah aku berteduh di hatimu, aku kedinginan…”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *